Nikmatnya Berejakulasi di Wajah Lily

Namaku Rudi, umurku 30 tahun, aku seorang ‘cumshots’ maniak yang sangat terangsang jika melihat wanita minum sperma ataupun memuncratkan cairan spermaku di wajah seorang wanita. Dan hobi lainku adalah mengumpulkan pakaian dalam wanita yang menurutku cantik, terutama bra dan korset. Sudah banyak sekali bra dan korset yang kukoleksi, terutama dari para wanita yang kukenal.

Pakaian dalam mereka kuambil entah dari kamar mandi maupun kamar mereka atau dimana pun. Salah satunya adalah Lily, seorang wanita karir berumur 35 tahun dan ibu dari dua orang anak. Payudaranya cukup montok dengan ukuran bra 34B dan korset berukuran M. Postur tubuhnya cukup bagus dengan berat badan kurang lebih 58 kg. Aku kenal baik dengan adiknya, Tantra. Sering sekali aku main ke rumahnya, dan sering kali pula aku mengambil bra dan korset-nya Lily. Sudah puluhan bra Lily yang kukoleksi di rumahku, mulai dari yang warna hitam, merah jambu, coklat muda sampai warna putih, pokoknya lengkap.

Lily suka sekali dengan bra berwarna putih dan berenda, karena kebanyakan bra yang kuambil 90% berwarna putih. Bra tersebut kugunakan untuk onani, sambil membayangkan Lily diperkosa oleh banyak lelaki sambil dipaksa meminum air mani mereka. Hingga akhirnya aku berejakulasi begitu banyak, dan spermaku kutampung di cup BH Lily. Lama kelamaan aku bosan juga dengan hanya beronani menggunakan bra-nya saja, maka aku mengajak teman-temanku sesama ‘cumshots’ maniak untuk menculik Lily dan memperkosanya beramai-ramai. Teman-temanku begitu bersemangat, dan terwujudlah rencana itu.

Namun tiga hari sebelum menculik Lily, kami beronani beramai-ramai sekitar 30 orang. Satu hari rata-rata dari kami beronani sampai tiga kali, jadi bisa dibayangkan berapa banyak sperma yang kami kumpulkan dalam waktu tiga hari tersebut. Kurang lebih 4 gelas penuh sperma yang kami kumpulkan dan menampung air mani kami di sebuah gelas dan menyimpannya di dalam kulkas. Dan aku rasa para pembaca sudah tahu untuk apa air mani tersebut.

Hari itu seharian penuh kami membuntuti Lily kemanapun ia pergi, dan menunggu sampai datangnya kesempatan untuk menculiknya. Malam itu Lily pulang dari kantornya sekitar jam delapan malam, dan naik taksi dari halte yang ada di depan kantornya. Aku dan beberapa orang temanku menguntit dari belakang dengan minibus temanku.

Ketika taksi berhenti di lampu merah yang sepi, dua orang temanku langsung naik ke dalam taksi dan menyeret Lily keluar dan langsung menaikkannya ke dalam mobil yang kutumpangi, dan temanku langsung tancap gas dalam-dalam. Lily langsung kami bawa ke sebuah rumah temanku, dan langsung diseret masuk ke dalam. Di dalam sana sudah menunggu 25 orang temanku lagi. Tanpa basa-basi lagi, Lily mulai kami kerjain.

Kami memberi kesempatan pada Lily untuk beristirahat sebentar dan memaksanya duduk di sofa. Teman-temanku sudah tidak sabaran dan mulai menggerayangi tubuh Lily yang montok itu. Bergantian mereka menciumi wajah dan bibir Lily, hingga akhirnya mulailah aku dan teman-temanku melucuti satu persatu pakaian Lily.

Kami mulai bergantian memasukkan tangan ke balik rok Lily yang panjangnya semata kaki sambil meremas-remas paha, selangkangan dan pantat Lily. Tidak puas sampai di situ, Heru mengambil gunting dan mulai membelah rok Lily dari bawah hingga hampir ke selangkangan, dan rok tersebut digunting hingga menjadi rok mini yang pangjangnya 20 senti di atas lutut. Paha Lily kami bentangkan lebar-lebar hingga selangkangannya yang masih dibalut korset putih itu terlihat dengan jelas, dan dengan leluasa kami berebutan mengobok-ngobok selangkangan Lily, sedangkan yang lainnya mulai berusaha membuka blaser dan blous putih Lily hingga akhirnya blaser dan blous tersebut dilepaskan dari tubuh Lily.

Rok mini Lily pun akhirnya dilepas dari pinggangnya, hingga Lily hanya memakai BH putih berenda dan korset putih serta sepatu hak tinggi putih. Sebelum menyetubuhi Lily bergantian, aku dan Dedi mengambil 4 gelas air mani serta pudding coklat yang kami simpan di kulkas kemarin. Di depan wajah Lily kami menyiram pudding coklat tersebut dengan setengah gelas sperma dingin, dan bergantian kami memaksa Lily menelan pudding sperma tersebut. Aku dan beberapa temanku menyuapi Lily puding tersebut dengan sendok makan hingga puding beserta ‘kuahnya’ tersebut habis tandas.

Sementara Lily tersedak-sedak ingin muntah karena begitu mual sekali, namun kami tidak perduli dan acara tetap dilanjutkan. Salah seorang temanku mengambil suntikan plastik tanpa jarum, dan ia menyedot sperma dari dalam gelas dengan suntikan tersebut, dan memaksa Lily membuka mulutnya, dan ia langsung menyemprotkan air mani lewat suntikan tersebut, dan memaksa Lily menelan air mani tersebut. Bergantian kami menyuntikkan air mani ke mulut Lily hingga habis 2 gelas.

Satu persatu dari kami mulai melepaskan celana dalamnya, dan kami bergantian menempelkan penis kami yang sudah ereksi amat keras di wajah dan payudara Lily sambil meremas-remas payudara Lily yang masih dibalut bra dengan gemas. Secara bergantian Lily kami paksa mengulum-ngulum penis kami sambil sesekali bergantian memukul-mukulkannya di wajah Lily dengan penuh nafsu.

Aku mengambil gelas yang berisi sisa sperma tadi, dan mulailah kami mengoleskan sperma tersebut ataupun mencelupkan batang kejantanan kami ke dalam gelas tersebut, dan memaksa Lily mengulum penis yang sudah berlumuran sperma tersebut, hingga akhirnya sperma tersebut habis, dan gelas tersebut terlihat bening tak bersisa sperma setetespun. Bahkan beberapa orang di antara kami bergantian menyumpalkan celana dalamnya dengan gemas ke dalam mulut Lily. Aku pun ikut menyumpalkan celana dalamku ke dalam mulut Lily.

Dalam keadaan mulut disumpal celana dalam, Lily kami paksa menjepit penis kami bergantian di selangkangannya, baik dari depan maupun dari belakang dalam posisi berdiri di atas sepatu hak tingginya. Sementara temanku yang lain memaksanya mengocok penis dengan tangannya, kiri dan kanan. Aku mengambil gunting dan menggunting celana korset Lily di bagian selangkangannya, hingga kami akhirnya dengan leluasa bergantian memasukkan batang kejantanan kami ke dalam liang vagina Lily.

Aku dengan cepat menggerakkan batang kejantananku keluar masuk vagina Lily, sementara itu Dodi dan Soni memaksa Lily mengulum-ngulum penis mereka. Yang lainnya berusaha memukul-mukulkan batang kejantanan mereka di wajah dan payudara Lily. Sementara itu yang belum dapat bagian hanya dapat menonton sambil mengocok-ngocok batang kejantanan mereka.

Feri memaksa Lily duduk di atas selangkangannya hingga secara otomatis batang kejantanan Feri langsung masuk ke dalam vagina Lily, dan Lily dipaksa bergerak turun naik, dan terkocok-kocoklah batang kejantanan Feri keluar masuk vagina Lily, sementara dua orang temanku berdiri di depan Lily dan memaksa Lily mengocok-ngocok penis mereka dengan kedua tangannya. Cup bra Lily dibetot ke bawah hingga payudara Lily menyembul keluar dan ikut bergoyang-goyang turun naik ketika ia bergerak. Dan hal itu membuat kami jadi lebih terangsang berat. Kami bergantian mengerjai Lily dengan gaya tersebut, hingga akhirnya kami mengakhirinya dengan pesta sperma di wajah Liliy.

Aku dan teman-temanku bergantian menekan-nekan wajah Lily ke selangkangan sambil menggosok-gosokan batang kejantanan kami di wajahnya. Tidak puas sampai di situ, aku mengambil sebuah cincin karet dengan garis tengah 6 cm dan tebal 2 cm, lalu kusumpalkan di mulut Lily hingga mulutnya tidak dapat dikatupkan lagi, dan dengan leluasa aku mengocok batang kejantananku keluar masuk mulut Lily yang menganga lebar itu, dan teman-temanku bergantian melakukan hal tersebut. Akhirnya satu persatu dari kami sudah tidak sanggup lagi menahan spermanya, dan mulailah kami satu persatu berejakulasi di wajah Lily.

Lily kami paksa duduk di sofa dengan rileks, lalu empat orang temanku mengocok-ngocok penisnya dengan cepat dan mengarahkan lubang penis mereka ke arah wajah Lily, dan memuncratkan air maninya hampir bersamaan secara bertubi-tubi di wajah Lily, dan membuat beberapa garis lurus putih air mani dari dahi hingga mulut Lily. Dua orang lainnya memuntahkan air maninya di ubun-ubun Lily hingga bertetesan ke dahi dan wajahnya.

Sepuluh orang temanku termasuk aku memaksa Lily membuka mulutnya lebar-lebar, dan bergantian mencipratkan air mani kami ke dalam mulut Lily dan memaksa Lily menelan air mani tersebut hingga habis. Empat orang bergantian memukul-mukulkan serta menekan-nekan wajah Lily di selangkangan mereka hingga akhirnya cairan sperma mereka muncrat dan berantakan di wajah Lily hingga bertetesan ke payudara Lily.

Sepuluh orang lagi bergantian mencipratkan cairan maninya di dada dan wajah Lily. Wajah dan rambut Lily blepotan sperma yang tak terkira, dan aku mengambil sendok kecil, dan menyendoki sperma yang bertetesan di wajah Lily dan memaksanya menelan cairan putih kental tersebut hingga bersih. Lily kami mandikan hingga bersih dan kami memakaikan kembali bra dan korset bersih yang aku sudah persiapkan.

Setelah beristirahat satu jam, kami kembali ngerjain Lily beramai-ramai. Kali ini Lily hanya kami paksa mengocok dan mengulum batang kejantanan kami. Hasil ejakulasi kami ditampung di sebuah gelas berkaki hingga penuh hampir tumpah. Aku mengambil kembali suntikan plastik, lalu kami bergantian menyedot cairan sprema tersebut dan bergantian menyemprotkannya ke wajah dan payudara Lily, hingga Lily sekali lagi kami bermandikan air mani hingga hampir tidak ada tempat yang kering di wajahnya.

Puas memperkosa Lily, kami membawanya naik mobil dan menurunkannya di dekat rumahnya dengan hanya memakai bra dan celana dalam serta sepatu hak tingginya.

Tamat

Nasib Ai Ling yang Seksi

Di kampusku ada seorang gadis yang cantik jelita, namanya Ai Ling, ia keturunan China. Kulitnya putih mulus, rambutnya di-highlight kemerahan panjang, bentuk tubuh langsing dan proporsional. Sekali melihatnya kita akan langsung mengetahui bahwa ia anak orang kaya. tetapi yang paling kusuka darinya yaitu payudaranya yang besar, kutaksir berukuran sekitar 36B. Aku sering bermasturbasi dengan membayangkan kubuka BH-nya pelan-pelan dan tampaklah dua gunung padat menawan. Lalu kubayangkan kuperkosa ia, kubuat badannya dan susunya terguncang-guncang, tak peduli ia menjerit-jerit kesakitan dan meronta-ronta. tetapi itu tak perlu kuceritakan lebih lanjut, karena akan kuceritakan pengalamanku yang sesungguhnya, yaitu memperkosa Ai Ling.

Kampusku, T, terkenal dengan mayoritas mahasiswa keturunan Chinanya. Kami kaum pribumi hanya menjadi warga minoritas di sana. Sudah minoritas, kebanyakan laki-laki pula. Kalaupun di antara kami ada yang perempuan, biasanya jelek, gendut dan hitam kulitnya seperti kulitku. tetapi jangan memandang enteng diriku, aku berbadan besar, tinggi dan “adikku” panjangnya 18 cm bila sedang “on”. Suatu hari si Ai Ling ini datang ke kampus dengan memakai baju ketat berwarna merah yang menonjolkan keindahan bentuk payudaranya dan celana panjang hitam yang memperlihatkan lekukan pinggulnya. Sebenarnya sudah biasa ia datang ke kampus dengan pakaian seperti itu, tetapi kali ini aku tak sanggup menahan birahiku yang sudah tertahan sejak lama. Pokoknya kali ini aku harus mendapatkannya, pikirku waktu itu. Ia lewat di depanku, aku hanya bisa menahan ludah mencium bau harum tubuhnya dan melihat kedua susunya yang seakan minta kuremas-remas. Saat ia menuju ke arah mobilnya kuikuti ia. Kebetulan tempat parkir kampusku sepi karena waktu itu sudah sore sekali, jam 6:00. Saat ia membuka pintu mobil, kubekap mulutnya dan kutempelkan pisau di lehernya yang jenjang.

“Heh! Lu jangan macem-macem ya kalo masih pengin hidup! Sekarang kita masuk mobil, lu yang mengemudi dan ingat, pisau ini siap ngeluarin usus lu kalo lu macem-macen di jalan!” ancamku. “I.. iya Mas, ampun! Jangan sakiti saya!” kata Ai Ling meratap mohon ampun. Rencana itu berjalan sukses, satpam yang menjaga pintu gerbang kampus tidak curiga begitu mobil kami lewat. Jelas ia tak berkutik, di sampingnya ada aku yang memeganginya dan menempelkan pisau di pinggangnya.

Sepanjang jalan Ai Ling meratap-ratap mohon belas kasihan, ia bilang aku boleh mengambil semua duitnya, perhiasan dan handphone jika ia dibiarkan pergi. Mimpi kali dia, mana mungkin aku melepaskan gadis secantik dia tanpa di-“mainin” dulu. Akhirnya kami sampai di rumahnya. Sudah kuselidiki dulu kalau ia tinggal sendirian di rumah besar itu tanpa pembantu dan orangtua. Orangtuanya sering ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kugiring ia ke dalam kamar khusus karaoke yang kedap suara dan kukunci pintunya. Sebelumnya aku sudah mencabut kabel telepon, mengunci pagar dan lain-lain agar tidak tampak sesuatu yang mencurigakan dari luar. Wajahnya sudah pucat pasi membayangkan apa yang akan kuperbuat. “Mas mau apa.. Aaw!” Aku segera merobek t-shirtnya dan terlihat dua buah bukit indah yang seakan tidak cukup ditampung oleh BH-nya. Ia lari ke ujung kamar, tetapi aku segera memburunya dan menarik BH-nya hingga kini payudaranya terlihat jelas. Susunya ternyata lebih besar dari dugaanku dan warnanya lebih putih dari kulit tangannya. Dengan nafsu kuremas-remas, ia berteriak kesakitan dan meronta melepaskan diri. Aku semakin bernafsu, kutarik celananya dengan paksa sambil kuremas susunya lebih kuat lagi.

Tanpa kesulitan aku berhasil merobek celana dalamnya, ia kalah tenaga denganku yang berbadan besar ini. Langsung kuangkat ia, pantatnya kuangkat dengan tanganku dan kemaluannya kupompa dengan paksa. Ia berteriak kesakitan karena ukuran batang kemaluanku yang besar itu dan dengan kalap mencakar dan memukul mukaku. Tindakannya justru membuatku semakin bernafsu, makin cepat dan dalam kupompa dia. Ia menjerit-jerit dan mencakar tangan dan dadaku. Justru rasa sakit membuatku makin bernafsu, dengan kasar kugoncang dia naik-turun seperti naik kuda-kudaan. Rupanya Ai Ling masih perawan, aku bisa merasakan darah segar mengalir dari lubang kewanitaannya ke pangkal pahaku. Pantas ia merasakan sakit yang amat sangat, itu karena aku menembus selaput daranya dengan paksa. Posisi sekarang berubah, aku duduk dengan dia duduk di pangkuanku. Lama-lama tenaganya melemah dan tiba-tiba ia mengejang, kedua kakinya melingkari punggungku. Kurasakan kemaluannya telah basah, rupanya pompaanku yang ganas dan ukuran kemaluanku telah membuatnya orgasme walau ia berusaha menolaknya. Ai Ling langsung lemas dan tanpa perlawanan ia jatuh ke belakang. Karena aku belum sampai, kutahan tubuhnya agar tetap di pangkuanku dan terus kupompa ia. Dalam posisi itu kuhisap pentilnya yang coklat dan kugigit payudaranya yang besar hingga berdarah dan memerah. Ai Ling hanya bisa menangis sesenggukan tanpa melawan lagi, sudah pasrah rupanya.

15 menit, aku belum juga ejakulasi, kubalik tubuhnya hingga menungging dan tanpa basa-basi kutembus anusnya langsung sampai sedalam-dalamnya dengan batang kemaluanku yang 18 cm itu. Sejenak Ai Ling seperti tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri. Ia meronta sekuat tenaga tetapi kupegangi pinggangnya dengan kedua tanganku kuat-kuat. Ia kembali mencakarku membabi buta dan rasa sakit itu membuatku lebih bersemangat memompa Ai Ling. Satu tanganku kugunakan untuk meremas susunya kuat-kuat dan satunya lagi kugunakan untuk menyodok kemaluannya dalam-dalam keluar masuk. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berkutik. Kurasakan anusnya sudah lecet tergesek oleh batang kemaluanku tetapi kemaluannya basah karena rangsangan hebatku. Tiba-tiba ia menggigit tanganku yang kugunakan untuk meremas susunya. Aku terpaksa melepaskannya karena kesakitan dan ia berhasil melepaskan anusnya dari batang kemaluanku. Ai Ling lari ke pintu tetapi ia tak bisa membukanya karena kuncinya ada di saku celanaku. Nafsuku yang belum terpuaskan membuatku marah, kuburu ia dan kupukul muka serta payudaranya yang besar dan kenyal itu. Ai Ling terjerembab dengan mulut berdarah. “Oh jadi elu mau maen kasar ya, OK!!” teriakku. Kupukuli dada, perut dan mukanya hingga ia jatuh lemas dengan muka sembab. Kulitnya yang putih mulus tampak memerah dan Ai Ling sudah setengah sadar, yang jelas ia tak bisa bangkit lagi.

Dari tasku kukeluarkan dua anting-anting berbentuk ring dan salah satunya kutindikkan ke puting payudara Ai Ling. Ai Ling menjerit kesakitan dan darah langsung mengalir di susunya. Aku semakin bernafsu melihatnya dan ia memberontak berusaha lari lagi. Kali ini kupukul ia kuat-kuat sampai ia pingsan dan memudahkanku untuk memasang anting-anting kedua. Darah yang mengalir dari puting dan kemaluan Ai Ling semuanya kuhisap dan kujilati sampai kering. Dengan pingsannya dia, aku bisa sesuka hati berganti posisi. Pertama kuangkat ia dan kududukkan di pangkuanku sambil kunaik-turunkan pinggulnya. Lalu dari belakang kupompa ia sekuat tenaga. Masih belum juga aku ejakulasi. Kedua kakinya kunaikkan ke bahuku dan kubentang lebar-lebar lalu kupompa kemaluannya yang berdarah-darah dengan kencang. Perlu sekitar 50 kali pompaan untuk mengeluarkan spermaku. Semuanya kutumpahkan di dalam sebanyak 5 kali semprotan. Sisanya yang mengalir keluar kuambil dan kulapkan di susu dan perutnya. Kunikmati dulu keadaan itu, dimana batang kemaluanku masih tertancap di lubang kemaluannya. Kulihat wajah cantiknya yang bersimbah peluh masih pingsan, tampak tak berdaya, nafsuku timbul lagi. Sayang sekali jika aku hanya menyetubuhinya satu kali hari ini.

Kupapah ia ke kamar mandinya yang ternyata sangat mewah. Bak mandinya kuisi dengan air hangat sampai penuh dan Ai Ling kubaringkan di situ. Kulit putih mulusnya yang basah kuyup membuat batang kemaluanku yang tadinya lemas kembali tegang. Aku duduk di dalam bak mandi itu juga, dihadapannya, dan kali ini dengan leluasa kujamah seluruh tubuhnya dan kuremas-remas payudaranya yang besar itu. Putingnya yang beranting-anting kuisap, kusedot seluruh darah yang tersisa. Lalu kuangkat tubuhnya dan kusedot kemaluannya sampai seluruh cairan kewanitaannya habis. Tiba-tiba aku teringat, Ai Ling bisa sadar kapan saja dan meronta-ronta. Dengan cepat kucari tali untuk mengikat kedua tangannya ke belakang erat-erat. Di dalam bak mandi itu aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kupompa ia dengan cepat selama 15 menit. Karena merasakan ada benda yang mengganjal dan keluar masuk di kemaluannya, akhirnya Ai Ling sadar. Ia mendesah karena belum sepenuhnya sadar dari pingsannya. Aku tak peduli, kugenjot terus ia sampai cairan maniku keluar dan kutumpahkan di dalam kemaluannya. Ia akhirnya sadar, menangis sesenggukan dan berusaha meronta walau tangannya terikat. Ia kembali merintih mohon ampun dan mengeluh kesakitan di kemaluannya.

Kucabut batang kemaluanku dan kulihat kemaluannya, ternyata agak bengkak kemerahan. Rupanya kemaluannya tak sanggup menampung batang kemaluanku yang besar dan gesekan terus-menerus yang kasar. Entah kenapa, keadaan itu malah membuatku makin terangsang. Ketidakberdayaan Ai Ling dan kemaluannya yang bengkak itu membuatku bernafsu memasukkan batang kemaluanku yang besar ke lubang kemaluannya sekali lagi. Kali ini kutancapkan dalam-dalam dan kupompa ia sekuat-kuatnya. Ia menjerit-jerit kesakitan mohon ampun, meronta-ronta dengan tangan terikat, tetapi aku tetap memompanya dengan penuh semangat di bak mandi itu. Akhirnya ia pingsan karena kusenggamai terus-menerus selama 3 jam. Kulihat kemaluannya sudah bengkak dan kembali mengeluarkan darah. Kemudian kufoto ia dengan kamera yang sudah kupersiapkan sebanyak 1 rol film dari berbagai posisi. Kucuci cetak foto itu dan kutunjukkan ke Ai Ling tiga hari kemudian pada saat ia masuk kuliah. Ia kuancam dengan janji tak akan kuedarkan foto itu asal ia mau kusenggamai tiap hari di rumahnya. Dengan terpaksa akhirnya Ai Ling melayaniku tiap hari sampai aku bosan dan mencari mangsa lain. tetapi yang membuatku bangga, walaupun ia kuperkosa, tetapi ia selalu orgasme berkali-kali setiap kupakai tubuhnya.

Tamat

 

 

I Know More What You Did Last Holiday

Kira-kira jam 9 pagi setelah berolahraga dan sarapan teleponku berbunyi, ternyata yang menelepon adalah teman dekatku, Dian. Dia mengajakku untuk menemaninya ke villanya di Bogor, katanya terjadi suatu masalah dan harus segera kesana. Hari itu kebetulan sedang liburan akhir semester, kupikir karena aku juga sedang nganggur apa salahnya kutemani Dian ke villanya.

Jam 10 kurang terdengar klakson mobil Dian di depan rumahku, aku langsung bergegas keluar setelah pamitan pada orang di rumah. Kami tiba setelah beberapa jam perjalanan, disana kami disambut oleh penjaga villa Dian, Pak Riziek, seorang lelaki setengah baya berumur 60-an, rambutnya sudah memutih, namun tubuhnya masih sehat dan gagah, dia adalah penduduk desa dekat villa ini. Menurut Dian, Pak Riziek orangnya baik dan bisa dipercaya karena sudah 4 tahun dia bekerja pada keluarganya dan pekerjaannya selalu rapi.

Berbeda denganku, sejak awal aku sudah berfirasat buruk pada orang tua itu, beberapa kali aku memergokinya sedang menatapi dengan tajam bagian tubuh tertentu dari Dian maupun teman wanita lainnya yang pernah berkunjung ke villa ini, termasuk juga diriku terlebih ketika kami sedang berenang di halaman belakang villa ini. Beberapa kali aku mengadukan hal ini pada Dian, namun tidak pernah ditanggapi serius, malah aku dianggap mudah berprasangka buruk. Hingga pada suatu saat firasat buruk itu benar-benar terjadi bahkan ikut menimpa diriku.

Pak Riziek membawa kami ke ruang tengah dimana sudah menunggu seorang pria lain. Pak Riziek memperkenalkannya pada kami. Orang ini bernama Pak Usep, berusia 50-an, tubuhnya agak gemuk pendek, dia adalah teman Pak Riziek yang berprofesi sebagai juru foto di kampungnya. Tanpa membuang waktu lagi Dian langsung to the point menanyakan ada masalah apa sebenarnya yang telah terjadi. Pak Riziek mengeluarkan sebuah bungkusan yang dalamnya berisi setumpuk foto, yang katanya adalah pokok permasalahannya.

Kami lalu melihat foto apa yang ditunjukkan olehnya. Betapa terkejutnya kami bak disambar petir disiang bolong, bagaimana tidak, ternyata foto-foto itu adalah foto-foto erotis kami pada pesta seks liburan tahun lalu, ada foto bugilku, foto bugil Dian, foto bugil teman-teman lainnya, juga foto adegan persenggamaan kami dengan pacar masing-masing yang diabadikan oleh pacar Dian dan Vira yang berprofesi sebagai fotografer.

“Pak..apa-apaan ini, darimana barang ini??” tanya Dian dengan wajah tegang.
“Hhhmm.. begini Neng, waktu itu saya kebetulan lagi bersih-bersih, pas kebetulan di bawah ranjang Neng Dian saya lihat kok ada barang yang nongol, eh.. taunya klise foto asoynya Neng Dian sama Neng Rina, ya udah terus saya bawa ke Pak Usep ini untuk dicuci..” jawabnya sambil tertawa.
“Apa..kurang ajar, Pak.. bapak digaji untuk menjaga tempat ini, bukannya mengoprek barang saya!!” bentak Dian marah dan menundingnya.
“Wah..wah.. jangan galak gitu dong Neng, saya kan nggak sengaja, justru Neng sendiri yang ceroboh kan” mereka berdua tertawa-tawa memandangi kami.
“Baik..kalau gitu serahkan klisenya, dan bapak boleh pergi dari sini” kata Dian dengan ketus.
“Iya pak, tolong kita bisa bayar berapapun asal kalian kembalikan klisenya” aku ikut memohon.
“Ooo..nggak, nggak, kita ini bukan pemeras kok Neng, kita cuma minta..” Pak Usep tidak meneruskan perkataannya. “Sudahlah Pak, cepat katakan saja apa mau kalian!” kataku tak sabaran.

Perasan aneh mulai menjalari tubuhku disertai keringat dingin yang mengucuri dahiku karena tatapan mereka seolah menembus ke balik pakaian kami. Kemudian Pak Riziek maju mendekati Dian dan beberapa senti di depanku tangannya bergerak mengelus payudara majikannya.
“Hei.. kurang ajar, jangan keterlaluan ya!!” bentak Dian sambil menepis tangannya dan mendorongnya.
“Bangsat.. berani sekali kamu, kalian kira siapa kalian ini hah.. dasar orang kampung!!” aku naik pitam dan kulempar setumpuk foto itu ke wajah Pak Riziek, aku benar-benar tidak terima sahabatku diperlakukan seperti itu.
“Hehehe..ayolah Neng, coba bayangkan, gimana kalo foto-foto itu diterima orang tua, pacar, atau teman-teman di kampus Neng, wah bisa-bisa Neng berdua ini jadi terkenal deh!!” kata Pak Usep dan disusul gelak tawa keduanya.

Aku sungguh bingung bercampur marah tidak tahu harus bagaimana. Nampaknya tiada pilihan lain bagi kami selain mengikuti kemauan mereka. Kalau foto-foto itu tersebar bagaimana reputasiku, keluargaku, reaksi pacarku, dan juga karirku di dunia model bisa-bisa hancur gara-gara masalah ini.
Saat itu Pak Usep sudah ada di dekatku dan berjalan mengitariku Pak Riziek mulai mendekati Dian lalu mengelus rambutnya dan bertanya “Gimana Neng, apa sudah berubah pikiran?”, dengan sangat berat Dian akhirnya hanya menganggukkan pelan.

Aku pun sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, dan setelah kupikir-pikir daripada reputasi kami hancur, lebih baik kami menuruti kemauan mereka, lagipula keperawanan kami toh sudah hilang dan akupun termasuk type cewek yang bebas, hanya saja aku belum pernah melayani orang-orang bertampang seram, dekil dan lusuh seperti mereka ini, juga perbedaan usiaku dengan mereka yang lebih pantas sebagai ayahku

“Ha.. ha.. ha..akhirnya bisa juga orang kampung seperti kita merasakan gadis kampus, ada foto modelnya lagi!!” mereka tertawa penuh kemenangan.
Segera tanpa membuang-buang waktu lagi Pak Riziek menyambar tubuh majikannya itu. Dilumatnya bibir mungil Dian dan tangannya beraksi meremas payudaranya yang masih terbungkus oleh kaos ketat. Saat aku tertegun menyaksikan Dian dipecundangi, mendadak kurasakan sepasang tangan kokoh mendekap pinggangku dari belakang.
“Hhhmm..gimana neng? udah siap dientot?” kurasakan hembusan nafas Pak Usep di telingaku.

Tangan gempalnya mulai meremasi payudara 36B ku, sementara tangan yang lainnya menyingkap rokku dan mulai mengelus-elus pahaku yang putih mulus. Aku tidak tahu harus berbuat apa, didalam hatiku terus berkecamuk antara perasaan benci dan perasaan ingin menikmatinya lebih jauh, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar.

Satu-persatu kancing bajuku dipereteli oleh Pak Usep sehingga nampaklah payudaraku yang masih terbungkus BH pink. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah klistorisku yang masih tertutup celana dalam.
Dengan sekali sentakan kasar ditariknya turun BH-ku, “Whuua..ternyata lebih indah dari yang difoto, mimpi apa saya bisa merasakan foto model kaya Neng Rina” pujinya ketika melihat payudaraku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Kini dengan leluasa tangannya yang kasar itu menjelajahi payudaraku yang mulus terawat dengan melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada putingku.

Tak jauh dariku Pak Riziek telah mendesak Dian ke arah tembok. Kaos dan bra-nya sudah terangkat sehingga menampakkan kedua gunung kembarnya yang indah. Penjaga villa bejad itu sedang asyik menjilati dan meremas-remas payudara sahabatku itu sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam celana Dian. Adegan itu membuatku marah sekaligus terangsang.

Tiba-tiba Pak Usep menghempaskan diri ke sofa di belakangnya sehingga diriku ikut tertarik ke belakang dan jatuh di pangkuannya. Kemudian dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir celana dalamku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan bulu-bulu mencari liangnya seperti ular hendak memasuki sarangnya. Perasaan tidak berdaya begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada buah dadaku, dan permainan jarinya pada vaginaku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai.

Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh.. jangan Pak, tolong hentikan.. eemmhh”.
“Kita pindah ke kamar aja ya Neng, biar lebih afdol” usulnya.

Sebelum aku sempat menjawab apa-apa tiba-tiba badanku sudah diangkat olehnya menuju ke kamar terdekat lalu dilemparnya dengan kasar di atas tempat tidur spring bed itu membuatku sedikit terkejut. Tanpa menutup pintu terlebih dahulu Pak Usep langsung membuka pakaiannya, begitu celana dalamnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya.

Aku memandang ngeri pada penis hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar sesuai tubuhnya yang tambun, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Pak Usep yang sudah telanjang bulat mendekatiku sambil tertawa cengegesan. Aku menggeser mundur tubuhku sampai akhirnya terdesak diujung ranjang. Permohonanku agar dia menghentikan niatnya agaknya tidak membuatnya tergerak, malah membuatnya semakin bernafsu.

Sekarang dia membuka tanganku yang menutupi dadaku. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan pakaianku mulai terlepas satu persatu, terakhir dia menarik lepas celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir kemaluanku.
“Enak, baru pejunya aja udah enak, apalagi memeknya” katanya.

Aku jadi ngeri dan jijik dengan tingkahnya itu.
Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak melata seperti ular menjelajahi tubuhku.
“Tenang aja neng, asal neng nurut pasti klisenya saya kembaliin, tapi kalo nggak..” dia melanjutkan kata-katanya dengan mengencangkan remasan pada payudara kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit pak!!”.
Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku.
“Uuuhh..sakit ya neng, mana yang sakit..sini bapak liat” katanya sambil mengusap-usap payudaraku yang memerah akibat remasan brutal itu. Dia lalu melumat payudaraku sementara tangan satunya meremas-remas payudara yang lain.

Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, nampaknya aku harus melupakan sejenak rasa marah, jijik, dan benci untuk menikmati perkosaan ini karena perlahan-lahan akupun sudah mulai ‘merasakan enaknya’. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang vaginaku sambil mulutnya terus melumat payudaraku, terasa putingku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu. Puuiihh..bau nafasnya sungguh tidak sedap, namun naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.

Pak Usep lalu berlutut sehingga penisnya kini tepat dihadapanku yang sedang duduk bersandar di ujung ranjang.
“Ayo neng, kenalan nih sama kontol bapak, hehehe..!” katanya sambil menggosokkan penis itu pada wajahku.
Tercium bau yang memualkan ketika penisnya mendekati bibirku, sialnya lagi Pak Usep malah memerintahakan untuk menjilatinya dulu sehingga bau itu makin terasa saja. Karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa mulai menjilati penis hitam yang menjijikkan itu mulai dari kepalanya sampai buah zakarnya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Entah mengapa lama-lama bau tidak enak itu tidak menggangguku lagi, justru aku semakin bersemangat melakukan oral sex itu.

Vita – Reuni SMA

Kejadian ini aku alami beberapa tahun yang silam, saat aku masih bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

*****

Namaku Vita, umurku saat itu masih 22 tahun dan aku termasuk gadis yang lugu dan pendiam, tapi teman teman kantorku bilang aku adalah gadis yang sangat cantik jika tidak judes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cukup cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih mulus.

Sahabat wanitaku bilang, kalau di kantor cowok-cowok selalu membicarakan aku dan mereka selalu memperhatikan aku, apalagi kalau aku sedang mengenakan rok span dan blouse ketat busana kerjaku. Mereka bilang tubuhku sangat seksi dengan buah dada besar yang aku miliki, tapi aku tidak peduli dengan komentar mereka. Banyak dari mereka yang berusaha mendekatiku tapi aku masih takut dan enggan untuk menanggapinya, aku lebih senang sendirian, aku merasa bebas dan tidak terikat.

Singkat cerita aku diundang untuk menghadiri reuni SMA tempatku sekolah dulu, maklumlah sejak lulus SMA sampai saat kuliah dan bekerja, kami memang sudah sangat jarang bertemu.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat aku tiba di pelataran parkir sebuah kafe di bilangan Jakarta selatan, tempat reuni SMA ku di adakan, saat itu aku mengenakan pakaian kerja, rok span hitam dan kemeja putih dan aku memadukannya dengan blazer hitam, aku memang tidak sempat berganti pakaian karena kesibukanku di kantor, tapi tak apalah, dengan pakaian ini aku cukup PD untuk bertemu dengan teman teman SMAku, pikirku.

“Aduh.. Tuan putri ini makin cantik aja..!!” seru Nina, kawan satu kelasku waktu di SMA. Hari itu aku merasa sangat senang, bertemu dengan teman teman SMA-ku, acaranya juga cukup meriah, di hadiri oleh lebih dari seratus orang, yang semuannya adalah alumni sekolahku.

“Astaga.. Sudah jam berapa nih..!!” gumanku di sela hingar bingar musik, aku sampai lupa waktu karena asyik ngobrol dengan teman temanku.
“Nanti aja pulangnya Vit..!!” seru Cindy sambil menarikku ke depan panggung, saat itu di atas panggung sedang di pentaskan live music dan tampak beberapa pasangan tampak asyik ber slow dance mengikuti alunan music yang memang sedang berirama pelan.

Terus terang saat itu aku memang terbawa suasana pesta, sayang kalau aku harus pulang cepat pikirku, aku malah ikut ikutan menenggak wine. Seumur hidup baru kali ini aku minum minuman keras, sehingga kepalaku terasa pusing, apalagi music sudah berubah menjadi house music dan hip hop membuat kepalaku makin berputar putar tak karuan.

“Ayo Vit..!! kapan lagi.. Belum tentu setahun sekali nih acara ini di buat..!!” seru Nina sambil menari-nari dan menjerit jerit histeris. Kayaknya Nina sudah mulai mabok nih..!! Pikirku.
Tiba tiba aku merasa lenganku di tarik oleh seseorang, rupanya Suryo dia teman satu kelasku saat aku kelas tiga, “Ayo Vit.. Kita melantai..!!” ujar Suryo sambil menarikku ke atas panggung.
“Nggak mau ahh.. Yo, lagi pusing nih..!!” keluhku, tapi Suryo tetap saja menggandengku, mau tidak mau aku jadi mengikutinya ke atas panggung, aku mulai menggerak gerakan tubuhku mengikuti alunan music yang menghentak hentak, aku sudah setengah sadar akibat pengaruh wine yang ku minum tadi dan aku juga benar benar terhanyut dalam histeria suasana pesta, sehingga aku tidak bisa lagi mengontrol gerakan tubuhku, gerakanku menjadi lebih berani dan terkesan erotis, sementara Suryo sudah berada dibelakang tubuhku, mengikuti dan mengimbangi gerakanku. Dan anehnya aku sangat menikmati suasana tersebut, padahal selama ini aku terkenal sangat anti dengan hal yang berbau dugem. Ah.. Nggak apa apa deh sekali ini aja.. Pikirku.

“Buka.. Buka.. Buka..!!” kudengar teriakan teman-temanku sambil bertepuk tangan menyuruhku membuka kemejaku, aku sempat terkesiap mendengar teriakan mereka.

Kulihat ke arah samping, beberapa teman wanitaku memang sedang membuka pakaian bagian atas mereka, bahkan Nina sudah mulai membuka branya sehingga sebelah payudaranya tampak sudah menyembul keluar dan langsung di sambut dengan tepuk tangan dan teriakan riuh rendah dari teman temanku.

Anehnya walaupun agak risih, akhirnya aku mau saja menuruti kemauan teman teman ku itu, entah karena pengaruh wine atau mungkin aku sudah begitu terhanyut dengan suasana pesta tersebut, sambil tetap menggoyang goyangkan tubuhku, ku lepaskan blazerku dan perlahan lahan kubuka kancing kemeja putihku satu persatu sampai terlepas seluruhnya sehingga bra hitam yang kukenakan tampak jelas terlihat. Sementara lengan Suryo mulai memegang pinggangku dari belakang, sambil tetap mengikuti gerakanku.

Aku terus terhanyut dengan alunan musik yang menghentak hentak itu, sesekali ku angkat kedua tanganku ke atas, meraih rambut panjangku dan menariknya ke arah belakang sambil tetap menggerak gerakkan tubuhku, tiba tiba aku tersadar saat tangan Suryo berusaha melepaskan braku.

“Apa apan kamu Yo..!!” jeritku sambil mendekap dadaku, saat itu kancing belakang braku sudah terlepas, perbuatan Suryo itu langsung menyadarkanku dari pengaruh wine dan suasana pesta.
“Brengsek kamu.. Apa yang kamu lakukan..?” teriakku sambil berusaha merapikan kembali kemejaku.

Tapi sepertinya Suryo tidak mengindahkan teriakanku, tangannya dengan sigap langsung memeluk tubuhku dari belakang, membuat aku tidak bisa meronta dan melepaskan diri dari himpitan tubuhnya, sementara sebelah tangannya merenggut paksa bra yang kukenakan hingga terlepas dan jatuh ke lantai, sehingga kini tubuh bagian atasku terlihat jelas dan menjadi tontonan untuk teman-temanku yang langsung menyambutnya dengan sangat antusias.

“Suryo..!! Hentikan.. Lepaskan saya.. Kurang ajar.. Kamu..!!” jeritku sambil terus meronta dari himpitan dan pelukannya, tapi Suryo malah makin beringas, dia malah menarik dan menyeretku ke arah belakang panggung, di tempat ini sinar lampunya lebih redup dan agak tersembunyi dari pandangan teman temanku, tangannya dengan buas terus meremas remas ke dua buah dadaku, sementara mulutnya juga terus menciumi sekujur leherku, aku masih terus menjerit jerit dan meronta, tapi Suryo tetap saja tidak menghentikan perbuatannya, malah dia semakin nekat.

“Kamu sebaiknya diam aja, daripada nanti gua perkosa beneran..!!” bentaknya, dengan nada galak.

Otakku buntu, mendengar ancamannya, aku tak mampu berpikir lagi bagaimana caranya untuk menghindar dari cengkeraman Suryo. Mungkin ini juga karena kesalahanku. Karena terlalu terhanyut dengan suasana pesta, keluhku menyesali kebodohanku sendiri. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi Buah dadaku dan lalu mengulum putingku. Sementara tangan kirinya meremasi buah dada kananku.

Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja, padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa.. Ketakutan yang amat sangat. Sampai saat Suryo menyingkapkan rokku ke arah atas dan mulai meremasi buah pantatku, Aku masih tak mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Suryo sudah mulai menggesek gesek daerah sekitar selangkanganku. Tapi ketika dia mulai memelorotkan celana dalamku dan bersiap menghujamkan batang penisnya ke selangkanganku, Aku terkesiap, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari dekapannya.

“Jangan jangan..!! Lepaskan..!! Saya masih perawan Yo..!!” jeritku panik dan ketakutan, sambil kugerakkan tubuhku ke arah depan, menjauhkan vaginaku dari batang penisnya.
“Diam Vit..!! Layani gua baik-baik, atau gua paksa..!!” ancam Suryo.

Aku tetap berontak.

“Kalau nggak mau diam gua tampar lu”
“Hentikan.. Atau saya laporkan ke teman-teman!!” bentakku tegas.

Mendadak Aku punya kekuatan untuk membentaknya, tiba tiba pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Suryo tidak mencoba menahanku. Aku berhasil lepas!

“Kamu cantik.. Dan Tubuhmu bagus..” guman Suryo.

Aku cepat-cepat mengenakan kembali celana dalamku yang melorot dan membereskan pakaianku, kini Suryo yang mematung. Matanya tajam memandang ke arahku.

“Baiklah.. Gua minta maaf untuk kejadian ini.. Habis kamu cantik sekali sih Vit, gua jadi lupa diri..”

Aku diam.

“Kamu masih mau jadi temanku kan?”

Aku tetap diam sambil memandangnya dengan penuh kemarahan.

“Saya enggak akan mengganggu kamu lagi Vit, tapi sebenarnya saya sudah tertarik dengan kamu dari dulu”

Aku makin jijik mendengar kata katanya.

“Oke, saya tunggu sampai kamu bersedia melayani gua tanpa gua paksa..!!” ujarnya kesal, sambil berjalan menjauh dari tubuhku, aku sempat menarik nafas lega.

Tapi tiba-tiba Suryo menyergap dan memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku. Aku sangat kaget mendapat serangan tak terduga ini, aku kontan berontak. Tapi Suryo malah memelukku lebih kencang. Sehingga aku Makin tidak dapat bergerak. Dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi.

Bibirnya melumat habis bibirku, Aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berdaya untuk melepaskannya Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding. Baru sekali ini bibirku di lumat oleh lawan jenis dan tiba tiba aku kembali dilanda oleh ketakutan yang amat sangat.

Tangan kanannya membuka kembali kancing kemejaku, lalu telapak tangannya merabai bulatan buah dadaku. Tubuhku bergetar karena ketakutan dan Aku mulai kembali meronta. Dadaku serasa sesak dan sulit bernafas karena lumatan mulutnya di bibirku.

Dengan cepat seluruh kancing kemejaku kembali dilepaskannya sehingga tubuh bagian atasku kembali terbuka. Kemudian Suryo memutar tubuhnya, sehingga posisinya kini kembali berada di belakangku, lalu dia mendorong tubuhku hingga rebah ke atas meja yang di gunakan untuk meletakkan alat alat sound system, Entah kenapa Aku merasa tubuhku tiba tiba lemas. Demikian pula ketika Suryo mulai menindih tubuhku dari arah belakang.

Tangannya menyingkapkan kemejaku ke atas dan lidahnya mulai menjilati sekujur punggung dan pundakku, sementara satu tangannya meraih buah dadaku dan meremasnya dengan kasar.

“Lepaskan..!! Tolong.. Tolong..!!” teriakku sangat ketakutan ketika tangannya bergerak menyusup ke sela sela rok-ku, kemudian jari-jarinya menyusup ke balik celana dalamku dan menggosok-gosok selangkanganku.

Aku terus meronta dan berteriak minta tolong, sampai tenggorokanku serak tapi sepertinya teriakkanku tertelan oleh suara hingar bingar musik. Tiba tiba Suryo dengan sigap menyingkapkan rok ku dan langsung memelorotkan celana dalam yang kukenakan sampai sebatas lutut.

“Jangan..!! Tolong..!! Jangan perkosa saya..!!” jeritku panik karena merasa vaginaku sudah tidak tertutup dengan apa apa lagi, sambil makin memperkuat rontaanku, Dan berusaha mengatupkan ke dua belah pahaku sekuat tenagaku.

Triastuti – Diantara Pelukan Dua Lelaki

Setelah kejadian pada hari yang tidak terlupakan itu, Tri menjadi trauma untuk tinggal sendirian di ruang kerjanya pada jam istirahat, Tri selalu berusaha untuk pergi keluar bersama dengan teman-teman sekantor lainnya. Selama itu Mr. Gulam tetap saja berlaku seperti biasa, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, demikian juga dengan Tri, masing-masing berusaha menjaga kerahasiaan kejadian tersebut hanya di antara mereka dengan alasan sendiri-sendiri.

Tidak terasa waktu berjalan demikian cepat, 3 (tiga) bulan telah berlalu sejak kejadian tersebut. Buat Tri kejadian tersebut merupakan mimpi buruk yang tidak begitu saja dapat dihilangkan. Sampai saat itu seakan-akan masih terasa tangan besar berbulu dari lelaki India tersebut yang merangkulnya dengan erat badannya yang langsing itu, disamping perasaan tidak berdaya menelungkupinya ketika tangan tersebut mengelus-elus seluruh badannya dan bermain-main pada kedua buah dadanya dan yang lebih menggelisahkannya lagi adalah perasaan yang masih membekas pada pangkal pahanya sampai saat ini.

Terlebih-lebih ketika Tri sedang tidur telentang di tempat tidurnya, terbayang dan terasa penis besar hitam lelaki tersebut mengaduk-aduk lubang kemaluannya yang menimbulkan perasaan sensasi dan membuat seluruh badan Tri panas dingin diliputi kenikmatan yang tidak terbayangkannya. Kadang-kadang ada perasaan yang mendesaknya untuk mau lagi mengalami peristiwa itu, tapi di lain pihak perasaan halusnya dan harga diri sebagai seorang wanita yang bermartabat tinggi, mengingatkan bahwa peristiwa yang dialami itu adalah merupakan suatu perkosaan yang brutal yang tidak pantas untuk diingat-ingat kembali.

Hari demi hari berlalu dengan cepat tanpa ada kejadian istimewa, pekerjaan-pekerjaan di kantornya semakin sibuk menyita waktu Tri, sehingga kejadian tersebut mulai dapat dilupakannya. Sampai pada suatu hari, tiba-tiba terjadi demonstrasi para mahasiswa di sekitar Bundaran Semanggi tidak jauh dari kantor tempat Tri bekerja. Karena situasi pada saat itu sangat memanas, maka pimpinan kantor memutuskan untuk memulangkan para karyawannya lebih awal untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat itu baru menunjukan pukul 14.30 siang, setiap karyawan buru-buru mengemasi barang-barangnya di atas meja, mengunci laci dan lemari-lemari pada ruang kerja masing-masing dan cepat-cepat turun dari gedung kantor untuk buru-buru pulang. Demikian juga dengan Tri, dengan cepat dia membereskan surat-surat yang bertebaran di atas meja kerjanya dan segera dimasukkan ke dalam laci meja kerjanya. Setelah menguncinya dengan rapi Tri segera keluar ruang kerjanya dan cepat-cepat menuju lift untuk turun ke bawah.

Di lantai 25 tempat Tri bekerja itu telah kosong, seluruh karyawan telah turun terlebih dahulu, hanya Tri sendirian yang menunggu lift untuk turun ke bawah. Setelah lift yang turun dari atas terbuka, Tri dengan cepat segera masuk ke dalamnya dan segera lift itu menutup kembali dan bergerak turun. Tiba-tiba Tri menyadari, dia hanya berdua dengan seseorang di dalam lift tersebut dan saat bersamaan orang tersebut menyapa Tri dengan halus, “Tri, mau pulang juga ya!” dengan kaget Tri segera mengangkat mukanya dan melihat ke belakang, ke arah suara tersebut berasal. Mukanya mendadak menjadi merah setelah menyadari bahwa orang tersebut yang hanya berdua saja dengan dia adalah Mr. Gulam yang bejad itu. Tri hanya diam tidak menyambut sapaan Mr. Gulam tersebut. Mr. Gulam mencoba menawarkan jasanya untuk mengantar Tri pulang dengan alasan pada saat itu kendaraan umum tidak ada yang beroperasi akibat demonstrasi para mahasiswa di sepanjang jalan Sudirman. Akan tetapi tawaran Mr. Gulam itu ditolak secara halus oleh Tri.

Sesampai di bawah, begitu lift terbuka, Tri buru-buru keluar dan berjalan ke depan gedung untuk mencari taksi, sementara Mr. Gulam menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya yang kebetulan hari itu dibawa sendiri olehnya tanpa supir. Dengan gelisah Tri menunggu taksi di depan kantor, akan tetapi tidak terlihat satupun taksi dan kendaraan umum lainnya melintas di depan gedung tersebut, sementara aksi mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di sepanjang jalan tersebut semakin panas saja. Sementara dalam kegelisahan itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya dan ketika kaca jendela mobil tersebut terbuka, kepala Mr. Gulam menongol keluar, “Ayolah, jangan takut, mari kuantar anda pulang, keadaan semakin berbahaya kalau anda terjebak di sini!” Melihat situasi sekelilingnya yang semakin gawat itu, dengan terpaksa Tri menerima ajakan Mr. Gulam tersebut. Dengan cepat Tri masuk ke dalam mobil Mr. Gulam dan mobil tersebut segera meninggalkan tepat tersebut.

Di dalam mobil, Mr. Gulam menanyakan Tri arah tempat rumah tinggal Tri. Segera Tri menjelaskan bahwa dia tinggal di daerah Kebayoran Baru. Karena arah ke Kebayoran Baru melalui Jl. Sudirman tertutup oleh para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi tersebut, maka Mr. Gulam mengambil arah Jl. Gatot Subroto untuk memutar melalui Jl. Buncit Raya masuk ke daerah Kebayoran Baru. Akan tetapi sepanjang jalan Gatot Subroto ternyata macet total, akhirnya Mr. Gulam mengusulkan untuk mampir dulu ke apartement temannya yang terletak di dekat situ sambil menunggu lalu lintas lancar kembali. Karena tidak ada pilihan lain, maka akhirnya Tri menyetujui usul tersebut. Mendapat persetujuan Tri, segera Mr. Gulam mengambil jalur kiri dari jalan dan kemudian membelok pada sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah bangunan apartement yang tidak jauh letaknya.

Setelah memarkir mobilnya, keduanya masuk ke lobby dan menuju lift. Apartment teman Mr. Gulam terletak di lantai 9, setelah lift berhenti mereka menuju ke apartement bernomor 916. Mr. Gulam segera memencet bel yang terletak depan pintu dan tak lama kemudian pintunya terbuka dan terlihat seorang pria India yang berumur kurang lebih 35 tahun, berwajah tampan dengan tubuh yang tinggi tegap dan berkulit gelap dengan kedua tangannya dan dadanya yang bidang ditumbuhi rambut hitam lebat. Mr. Gulam segera memperkenalkan Tri kepada temannya yang ternyata bernama Raj Kumar yang adalah seorang tenaga ahli pada sebuah pabrik tekstil yang terletak di Jakarta Selatan.

Kedua lelaki tersebut terlibat sebentar dalam percakapan dalam bahasa mereka, yang tidak dimengerti oleh Tri, yang hanya bisa memandang mereka dengan pandangan mata curiga. Setelah mengambil tempat duduk pada sebuah sofa panjang yang terletak di ruangan tamu, Tri memperhatikan keadaan apartement tersebut. Apartement itu hanya terdiri dari satu kamar, beserta ruang duduk yang menyambung menjadi satu dengan ruang makan dan dapur yang terletak paling ujung dari ruangan tersebut. Terlihat apartement tersebut adalah apartement yang dihuni oleh bujangan, dimana pada tempat cuci piring terlihat piring dan gelas kotor masih menggeletak belum dicuci. Setelah berbincang-bincang sejenak, Raj meminta diri sebentar untuk keluar, karena akan membeli minuman dingin dan makanan kecil di toko makanan yang terletak di ground floor.

Sepergian Raj, suasana di antara Tri dan Mr. Gulam menjadi agak kikuk, kepala Tri hanya tertunduk ke bawah tanpa berani memandang ke arah Mr. Gulam. Terlihat bibir bawah Tri agak bergetar dan kedua jari-jari tangannya saling menggenggam dengan erat. Tri agak grogi, sambil membayangkan apa yang telah terjadi beberapa bulan lalu, ketika lelaki di hadapannya itu memperkosanya dengan brutal. Terlintas dengan jelas bagaimana lelaki tersebut menekan badannya ke atas meja dan mengangkangi kedua pahanya, serta menyetubuhinya dengan ganas. Seakan-akan masih terasa ngilu kemaluannya dikocok-kocok oleh senjata lelaki tersebut, akan tetapi perasaan nikmat tiba-tiba melandanya ketika membayangkan kedua puting susunya tergesek-gesek pada dada bidang berambut tebal dari Mr. Gulam, ketika dia terduduk dan terlonjak-lonjak di atas pangkuan Mr. Gulam karena senjata Mr. Gulam menyodok-nyodok lubang kemaluannya. Membayangkan hal tersebut, tiba-tiba kemaluannya dirasakan basah.

Melihat muka Tri yang berubah-ubah dan matanya yang semakin sayu saja, Mr. Gulam yang telah berpengalaman itu, tidak mau melewatkan momentum yang menguntungkannya. Segera dia berpindah duduk di samping Tri pada sofa panjang dan sebelum Tri menyadari apa yang terjadi, kedua tangan Mr. Gulam dengan cepat telah merangkul bahu Tri dan segera menarik badan Tri menempel ke badannya. Dagu Tri diangkatnya menengadah ke arahnya sehingga kedua mata mereka saling menatap. Mata Mr. Gulam berkilat-kilat menatap muka Tri yang ayu itu dan akhirnya terpaku pada kedua bibir Tri yang merah merekah yang sedang bergetar dengan halus.

Perlahan-lahan Mr. Gulam menundukkan kepalanya dan bibirnya yang kasar yang ditumbuhi kumis lebat menyentuh kedua bibir Tri yang mungil dan perlahan-lahan mulai melumat bibir-bibir yang indah yang telah pasrah itu. Menjelang beberapa saat, ketika Mr. Gulam mulai merasakan badan Tri tidak tegang lagi dan bibirnya mulai melemas, maka lidahnya segera ditekan masuk menerobos ke dalam mulut Tri dan menyapu langit-langit dan mempermainkan lidah Tri. Hal ini membuat badan Tri bergetar dan kepalanya serasa melayang-layang dan tanpa terasa terdengar keluhan halus keluar dari mulut mungil tersebut, “Ooohh.. eehhmm..!” Merasakan Tri mulai merespon aksinya itu, Mr. Gulam segera meningkatkan serangannya. Secara perlahan-lahan tangannya segera membuka kancing-kancing blouse yang dikenakan Tri dan segera mencopotnya dari badan Tri.

Segera terlihat BH Tri yang putih menutupi kedua buah dadanya yang kecil mungil itu. BH tersebut tidak dapat bertahan lama melindungi kedua gundukan daging kenyal tersebut, karena segera tercampakkan oleh tangan-tangan lelaki tersebut. Dengan cepat kedua bukit kenyal mungil itu menjadi sasaran mulut dari Mr. Gulam, yang segera mencium dan mengisap-hisap puting yang telah tegang itu. Badan Tri hanya bisa menggeliat-geliat dan dari mulutnya keluar suara seperti orang kepedasan. Melihat keadaan Tri yang telah pasrah itu, Mr. Gulam tidak mau menyia-nyiakan momentum yang ada, dengan tangkas kedua tangannya segera melucuti rok dan sekalian CD Tri, sehingga sekarang Tri terbaring telentang di sofa dengan tubuh yang mulus yang tidak ditutupi selembar benang pun.

Lelaki India tersebut menindihkan tubuhnya pada Tri yang sudah terbaring pasrah di sofa, sambil dia memperbaiki posisi tubuhnya agar senyaman mungkin, lelaki tersebut dengan kedua tangannya membuka kaki Tri dan segera menempatkan badannya tepat berada di tengah, di antara kedua paha Tri yang telah terkangkang itu. Dengan tangan kirinya memegang batang penisnya yang besar itu, lelaki tersebut mulai mengarahkan penisnya, ke arah sasarannya yang telah pasrah terbuka di bawahnya. Begitu kepala penis bertemu dengan belahan bibir vagina luarnya, badan Tri terlihat bergetar dan kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, pandangan matanya menjadi sayu, wajahnya keringatan. Dengan perlahan-lahan Mr. Gulam mulai mendorong penisnya memasuki relung tubuh Tri yang paling rahasia itu. Seirama dengan masuknya penis Mr. Gulam yang besar itu, mata Tri terlihat membalik ke atas dan rintihan nikmatnya terdengar jelas keluar dari mulut mungilnya, “Aahh.. eehhmm..” pada mulanya agak susah juga masuknya, sedikit-sedikit, terlihat Mr. Gulam menggerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan-lahan, sambil mulutnya mencium bibir ranum Tri.

Triastuti – Hilangnya Kehormatan

Triastuti bekerja sebagai sekretaris pada suatu group perusahaan besar di Jakarta. Kantornya terletak di bilangan daerah kelas satu, yaitu di jalan Jenderal Sudirman, di sebuah gedung bertingkat. Perusahaan tempat Tri bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai 24, 25 dan 26 dari gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungi dengan tangga khusus yang sengaja dibuat di bagian dalam dari perkantoran tersebut, untuk memudahkan hubungan antar perusahaan di group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor Tri terletak di lantai 25, dan ruangan tempat Tri bekerja terletak agak berdekatan dengan tangga penghubung ke lantai 24 dan 26.

Di tempat perusahaan-perusahaan lain dalam satu group, terdapat beberapa orang asing yang bekerja sebagai tenaga ahli dan kebanyakan mereka berkantor di lantai 26. Mereka ada yang berasal dari Philipina dan ada juga dari India serta Pakistan.

Sudah menjadi kebiasaan di kantor Tri di lantai 25, apabila setiap jam istirahat, yaitu dari jam 12 sampai jam 2 siang, maka para karyawan termasuk para pimpinan perusahaan keluar makan siang sehingga suasana di lantai 25 sangat sepi, hanya ditunggui oleh satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift, sambil juga bertindak sebagai operator sementara setiap jam istirahat. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak Tri mulai bekerja di kantor tersebut 4 bulan lalu, Tri lebih sering istirahat sambil makan makanan yang dibawa dari rumahnya, di ruang kerjanya sendirian. Hal ini rupanya sudah sejak lama diperhatikan oleh Mr. Gulam Singh, salah seorang tenaga ahli berasal dari India, yang bekerja di lantai 26. Mr. Gulam sering turun melalui tangga apabila dia pergi ke bagian pemasaran yang terletak di ruangan sebelah barat di lantai 25, sedangkan ruangan tempat Tri bekerja dan tangga penghubung terletak di ujung sebelah Timur lantai 25. Mr. Gulam sangat tertarik melihat Tri, karena Tri yang berumur 28 tahun, adalah seorang gadis Jawa, yang sangat cantik.

Dapat digambarkan sosok Triastuti adalah gadis bertampang Jawa, yang sangat cantik dan manis, dengan kulit agak kuning langsat, tinggi badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan rambut hitam bergelombang terurai sampai bahu. Badannya tinggi semampai dapat dikatakan kurus dengan berat badan sekitar 47 kg, dadanya agak rata hanya terlihat tonjolan buah dadanya yang kecil, sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata, pinggulnya serasi dengan pantatnya yang kecil tapi padat. Tungkai pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya. Apabila berjalan badannya terlihat sangat gemulai dan pembawaan Tri terlihat sangat kalem malah dapat dikatakan malu-malu. Mr. Gulam sendiri adalah seorang pria berumur mendekati 40 tahun, bekulit gelap dengan badan tinggi 178 cm dan besar, sedangkan kedua tangannya kekar terlihat berbulu lebat, apalagi pada bagian dada dan kakinya. Kedua pahanya terlihat sangat gempal.

Tri memang agak risih juga terhadap Mr. Gulam, karena setiap kali Mr. Gulam lewat depan ruangannya, Mr. Gulam selalu melirik dan melempar senyum kepada Tri dan kalau kebetulan Tri tidak melihat keluar, maka Mr. Gulam akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan yang menimbulkan suara, sehingga Tri akan terpancing untuk melihat keluar. Tri agak ngeri juga melihat tampang Mr. Gulam yang berewokan itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Tri telah mempunyai pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak terlalu tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Tri.

Sampai pada suatu hari, pada hari itu Tri ke kantor mengenakan baju terusan mini berwarna coklat muda yang memakai kancing depan dari atas sampai batas perut. Seperti biasa tepat jam 12 siang, para karyawan dan boss di lantai 25 sudah pada keluar kantor, sehingga di lantai 25 hanya tinggal Tri sendiri yang sedang makan siang di ruangannya. Tiba-tiba Mr. Gulam melintas di depan ruangan Tri dan terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Tapi seluruh lantai 25 ternyata kosong, semua karyawan telah keluar makan siang. Begitu melintas di pintu keluar satu-satunya yang menuju lift, Mr. Gulam memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Mr. Gulam kembali menuju ke ruangan Tri yang terletak di ujung Timur itu. Secara perlahan-lahan Mr. Gulam mendekati ruangan Tri dan mengintip ke dalam, Tri sedang duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela kaca sambil makan.

Secara perlahan-lahan Mr. Gulam masuk ke dalam ruangan kerja Tri dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara pintu terkunci Tri menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi pucat. Dia segera berdiri dari tempat duduknya sambil berkata, “Sir, apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci pintunya?”, tapi Mr. Gulam hanya memandang Tri dengan tersenyum tanpa berkata apa-apa. Tri semakin panik dan berkata, “Harap anda segera keluar atau saya akan berteriak!”. Tapi dengan kalem Mr. Gulam berkata, “silakan saja nona manis.., apabila anda mau menimbulkan skandal dan setiap orang di gedung ini akan mempergunjingkan kamu selama-lamanya”. Mendengar itu Tri yang pada dasarnya agak pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal.

Sementara Tri berada dalam keadaan ragu-ragu, dengan cepat Mr. Gulam berjalan medekat ke arah Tri dan karena ruangan kerja Tri yang sempit itu, begitu Tri akan mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Dengan cepat kedua tangan Mr. Gulam yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan Tri yang ramping dan mendekap Tri ke tubuhnya. Karena badan Tri yang sangat langsing dan dapat dikatakan tinggi kurus itu, lelaki tersebut merasakan seakan-akan memeluk kapas dan sangat ringkih sehingga harus diperlakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.

Mr. Gulam memegang kedua lengan bagian atas Tri dekat bahu, sambil mendorong badan Tri hingga tersandar pada meja kerja, kemudian Mr. Gulam mengangkat badan Tri dengan gampang dan sangat hati-hati dan mendudukkannya di atas meja kerja Tri, kemudian kedua tangan Tri diletakan di belakang badan Tri dan dipegang dengan tangan kirinya. Badan Mr. Gulam dirapatkan diantara kedua kaki Tri yang tergantung di tepi meja dan paha Mr. Gulam yang sebelah kiri menekan rapat pada tepi meja sehingga kedua paha Tri terbuka. Tangan kiri Mr. Gulam yang memegang kedua tangan Tri di belakang badan Tri ditekan pada bagian pantat Tri ke depan, sehingga badan Tri yang sedang duduk di tepi meja, terdorong dan kemaluan Tri melekat rapat pada paha sebelah kiri Mr. Gulam yang berdiri menyamping di depan Tri.

Tangan kanan Mr. Gulam yang bebas dengan cepat mulai membuka kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Tri. Badan Tri hanya bisa menggeliat-geliat, “Jangan.., jangan lakukan itu!, stoopp.., stoopp”, akan tetapi Mr. Gulam tetap melanjutkan aksinya itu. Sebentar saja baju bagian depan Tri telah terbuka, sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan BH yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya. Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan merangsang. Tangan kanan Mr. Gulam bergerak ke belakang badan Tri dan membuka pengait BH Tri. Kemudian Mr. Gulam menarik ke atas BH Tri dan.., sekarang terpampang kedua buah dada Tri yang kecil mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang naik turun dengan cepat karena nafas Tri yang tidak teratur. “Ooohh.., oohh.., jaanggaann.., jaannggaann!”. Erangan Tri tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah mulut Mr. Gulam mulai mencium belakang telinga Tri dan lidahnya bermain-main di dalam kuping Tri. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Tri menggeliat-geliat dan tak terasa Tri mulai terangsang juga oleh permainan Mr. Gulam ini.

Mulut Mr. Gulam berpindah dan melumat bibir Tri dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut Tri dan menggelitik-gelitik lidah Tri. “aahh.., hmm.., hhmm”, terdengar suara mengguman dari mulut Tri yang tersumbat oleh mulut Mr. Gulam. Badan Tri yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Mr. Gulam sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Tri turun ke leher, kepala Tri tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Mr. Gulam, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki India tersebut.

Mr. Gulam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara Tri, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Tri yang sebelah kanan menjadi sasaran mulut Mr. Gulam. Buah dada Tri yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Mr. Gulam yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Tri yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Tri menerima permainan Mr. Gulam yang lihai itu. Badan Tri terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan, “Ssshh.., sshh.., aahh.., aahh.., sshh.., sshh.., jangaann.., diiteeruussiinn”, mulut Mr. Gulam terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua puting buah dada Tri secara bergantian selama kurang lebih lima menit.

Badan Tri benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras. Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Tri tersentak, karena dia merasakan tangan Mr. Gulam mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka karena baju mininya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Tri mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya, akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Mr. Gulam, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat dilakukan oleh Tri adalah hanya mengerang, “Jaanngaann.., jaannggann.., diitteerruusiin”, akan tetapi suaranya semakin lemah saja.

Melihat kondisi Tri seperti itu, Mr. Gulam yang telah berpengalaman, yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas tangan Mr. Gulam makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Tri yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Tri. Segera badan Tri tersentak dan, “aahh.., jaannggaan!”, mula-mula hanya ujung jari telunjuk Mr. Gulam yang mengelus-elus bibir kemaluan Tri yang tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Mr. Gulam menarik CD Tri dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur keluar di antara kedua kaki Tri. Tri tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari perbuatan Mr. Gulam ini. Sekarang Tri dalam posisi duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua buah dadanya terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Tri yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Tirai Perkawinan yang Terkoyak

Dudung masih menanti jawaban dari lelaki sebayanya yang tengah menghisap batang cerutunya dalam-dalam. Dirasanya memang pinangan yang diajukannya teramat berat untuk dilontarkan kepada orang tua Dina. Lelaki tua di hadapannya itu sebentar-sebentar mengernyitkan keningnya seakan tak percaya bahwa Dudung, sang dukun pengobatan asal madura yang sebelumnya telah memiliki 2 orang istri itu berniat untuk menjadikan anak gadis semata wayangnya sebagai istri yang ketiga, padahal usia calon menantu dan calon mertua itu terpaut sama, yakni 48 tahun!

“Edan kamu Dung?! Kamu masih menginginkan Dina, anakku? Kamu pasti sudah tidak waras!!”, hardik si Somad, ayah Dina sekaligus calon mertuanya itu.
“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku Pak Somad, aku berjanji akan membahagiakan Dina, maka aku memberanikan diri kembali ke sini untuk melamarnya”, tukas Dudung sambil dalam hati tetap komat-kamit membaca mantra gaib yang menjadi andalannya untuk membuat lelaki itu takluk pada kemauannya.
“Sudahlah Pak, serahkan saja keputusannya kepada anak kita, toh mereka ini yang akan berumah tangga nantinya”, sela si ibu Dina yang duduk di sebelah Somad.

Wanita berusia 45 tahun ini melirik Dudung seakan memberi tanda setuju akan pinangannya. Tentu saja ibu Dina bisa berkata begitu karena jampi-jampi Dudung sebelumnya telah berhasil menaklukkan hatinya sejak kemarin-kemarin.

“Lalu apa kata orang-orang nanti? Kita ini kan orang terpandang di jawa tengah.. Bukankah pernikahan ini nantinya akan mencemari nama baik kita, istriku?”, jawab Somad kepada istrinya sambil menekan ujung batang cerutunya yang telah pendek sampai gepeng di asbak ruang tamu rumahnya yang begitu besar sekaligus mewah ini.
“Sudah lupakah engkau Pak? Bahwa Dudung telah banyak berjasa pada kita semua? Dia telah menyembuhkan penyakit kita sekeluarga, termasuk Dina dan aku! Ingatkah yang paling penting? Sewaktu engkau tergeletak hampir mati terkena guna-guna dari saingan bisnismu? Kalau bukan karena si Dudung ini, mungkin sekarang aku telah menjadi janda Pak”, tutur istrinya seakan membela Dudung.

Dudung pun diam-diam membatin dalam hatinya, ini pun terpaksa ia lakukan karena wangsit dari guru kebatinannya yang mengharuskan dirinya memperistri Dina. Menurut gurunya, hanya Dina yang jika diperistri dapat menyempurnakan semua ilmu kanuragannya, termasuk pula ilmu pengobatannya. Sebab Dina mempunyai tanda-tanda lahir yang berjodoh dengan Dudung dalam wangsit tersebut.

“Ngghh..”, tampak Somad terperangah dengan ucapan istrinya barusan dan tampaknya ini sangat berpengaruh padanya, sehingga ia seperti kehabisan kata-kata sesaat.

Dudung masih terus merapal seluruh mantera-mantera yang dipunyainya, ketika itu ia teringat akan sesuatu hal dan menatap ke sebuah pintu kamar di penghujung ruang tamu itu. Di sana lah tadi si Dina mendekam setelah tahu kedatangan dirinya kembali malam ini. Namun tekadnya sudah bulat, meskipun sebelumnya ia takut akan penolakan mereka yang selama ini selalu memberikan bantuan finansial apabila Dudung memerlukan biaya untuk mencari maupun membeli ramuan pengobatan alternatif yang diperlukannya serta keperluan usaha sampingan ternak unggasnya.

“Nah kan baru merasa kamu kalau Dudung telah menyelamatkanmu dahulu! Mengenai pernikahan biar saya yang atur saja Pak. Mereka kita nikahkan di villa pribadi kepunyaan Bapak yang agak jauh dari keramaian kota”, saran ibu Dina memberi solusi atas argumen suaminya itu.

Kemudian disusul isak tangis dari dalam kamar yang ditatap Dudung tadi. Di sanalah Dina, gadis yang masih berusia 18 tahun itu bersemayam di dalamnya. Tampaknya ia baru saja mendengar percakapan itu dan tangisnya merupakan tanda ketidaksetujuannya atas apa yang baru saja diperbincangkan kedua orang tuanya di hadapan Dudung, sang dukun.

*****

“Dung.., setelah resepsi ini selesai, aku mohon kesabaranmu dahulu kepada Dina. Sejujurnya dia masih tidak menyukaimu, namun setelah aku dan suamiku memberi pengertian padanya agar tidak menolaknya kalau tidak ingin berat jodoh, maka ia mau juga memakai busana pengantinnya untukmu”, pesan ibu Dina sambil merapikan kerah kemeja di balik busana jasnya.
“Baik Bu”, jawab Dudung seperti anak kecil yang tengah mematuhi wanti-wanti dari ibunya.

Memang ibu Dina kini telah menjadi ibu mertua si Dudung, padahal usia Dudung lebih tua darinya beberapa tahun. Jadinya terkesan lucu.. Apalagi Dudung tak mempunyai wali dari orangtuanya yang telah meninggal, dan apalagi kedua istrinya yang tidak hadir menunjukkan ketidaksenangannya pada dirinya karena menambah madu lagi.

“Kamu dan Dina nanti dapat tinggal di rumah baru yang telah disediakan oleh Bapak, namun Dina harus tetap bersekolah. Biar bagaimanapun Dina harus menamatkan SMU-nya terlebih dahulu agar nantinya ia dapat memasuki jenjang perkuliahan. Aku tak mau sekolahnya sampai putus hanya karena pernikahan ini”, tukas ibu mertuanya lagi.

Seketika Dudung berjalan di balik busana kebesarannya melewati banyak tatapan mata ketidaksetujuan atas dirinya dari kerabat-kerabat keluarga Dina. Namun ia tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena orang tua Dina yang diimpikannya telah berhasil ia taklukkan sudah. Namun yang dikhawatirkannya adalah Dina yang akan menjadi istrinya ini tak boleh ditaklukkan dengan ilmunya, apalagi sampai dizinahinya, kalau itu dilakukan, akan habislah seluruh ilmu yang selama ini ia punyai.

Selain itu usaha berhari-hari dalam semedi demi menegosiasikan agar tidak jadi memperistri si Dina ditolak oleh gurunya, karena syarat menikahi gadis itu menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Maka dari itu ia hanya bisa mengguna-gunai ayah dan ibunya saja demi tercapainya tujuan untuk mempersunting anak semata wayang mereka. Dengan langkah mantap namun hati berdebar Dudung menghampiri sosok Dina yang begitu cantik di matanya dalam busana pengantin wanita yang begitu indah dan sangat mahal tentunya.

Dudung tak henti-hentinya menelan ludah dan sebentar-bentar melirik ke arah Dina yang bersanding di sebelahnya mengagumi lekuk liku tubuh gadis belia itu ketika mereka berdua menghadap penghulu. Untaian nasihat dan wejangan dari sang penghulu sama sekali tak didengarnya, Dudung hanya sibuk berkhayal dengan fantasi pikirannya sendiri bagaimana caranya untuk menundukkan si Dina ini nantinya. Tetapi ia dikagetkan ketika telinganya menangkap bahwa untuk kedua kalinya sang penghulu kembali mengucapkan kalimat;

“Bersediakah Saudara Dudung untuk mengambil Saudari Dina sebagai istrinya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua??”
“Ya! Saya bersedia!”, fiuhh.. Hampir saja ia melewatkan moment penting tersebut.
“Bersediakah Saudari Dina untuk mengambil Saudara Dudung sebagai suaminya yang sah baik di kala senang maupun susah sampai ajal memisahkan kalian berdua?”

Keheningan melanda untuk beberapa saat di antara tatapan mata yang menyorot ke arah sang pengantin perempuan. Sebelum pada akhirnya suara manis lembut nan halus sedikit tercekat itu menjawab..

“I.. Ya.. Bersedia”

*****

Dudung merasa nyaman berbaring di ranjang pelaminan besar dan mewah di kamar rumah barunya bersama istri mudanya. Tak pernah diimpikannya sama sekali bahwa dirinya telah menjadi menantu orang kaya serta mendapatkan istri secantik Dina ini. Tak ada orang lain lagi di situ selain dirinya.

Suara gemericik air shower di kamar mandi itu masih terdengar. Di sanalah istri mudanya yang benar-benar masih sangat muda tersebut sedang mandi membersihkan tubuhnya. Aroma sabun wanginya sungguh menebar sampai ke dalam kamar pengantinnya yang dilengkapi oleh kamar mandi. Tadi juga ia telah merasakan bagaimana enaknya membasuh tubuh dengan shower, yang mana selama ini belum pernah dalam hidupnya Dudung menikmati fasilitas mewah seperti yang ada di rumah ini sekarang.

Yang dinantinya telah usai mandi. Dari balik kamar mandi itulah sosok istrinya keluar dengan busana baju tidur yang sedemikian indah sedikit transparan hingga membuat Dudung terkesima untuk beberapa saat. Dipandangnya Dina yang tengah mengeringkan rambut hitam panjangnya dengan handuk tebal. Sehabis mandi begitu terlihatlah keputihan dan kemulusan tubuhnya dari muka sampai ke ujung jari kakinya. Malahan saking putih dan bersihnya hingga alur-alur urat kebiruan di tubuhnya terlihat nyata di penglihatan Dudung.

Rasanya kedua istrinya terdahulu tak dapat menyamai kecantikan dan keindahan wajah dan tubuh istri ketiganya ini. Dan yang terpenting.. Masih perawan! Istri pertama yang dikawininya ternyata sudah tak perawan lagi setelah diperdaya cinta pertamanya, sedangkan istri keduanya adalah seorang janda tanpa anak yang dikawininya karena rasa kasihan ketika ia melanglang buana menuntut ilmu kanuragan dan menemukan mereka berdua dalam waktu yang terpisah.

“Dina istriku.. Kamu sudah mandi?”, tanya Dudung dengan wajah dan suaranya dibuat semanis mungkin kepada istrinya itu. Padahal ini adalah pertanyaan tolol yang tak perlu dijawab, karena sudah tahu si Dina sudah mandi, kenapa masih ditanya? Namun orang yang sedang mabuk kepayang memang begitulah adanya. Dina tak menjawab pertanyaan itu, wajahnya tertegun tanpa ekspresi kepada sosok kurus hitam namun kekar yang terbaring di ranjang pengantin tersebut, suaminya sendiri.

Dudung pun mengambil inisiatif, ia bangun dari pembaringannya dan menarik lengan istrinya ke ranjang peraduan mereka. Masih acuh tak acuh Dina menanggapinya, tapi ia tak menolak ketika Dudung membawanya duduk di tepian ranjang itu. Dudung merengkuh tubuh istrinya yang telah harum mewangi karena habis mandi dan mencoba untuk mencium tengkuk istrinya itu, namun tak disangka-sangkanya Dina beringsut dari pelukannya, sehingga ciuman itu luput.

“Dina sayang, ada apa denganmu? Kini kita sudah resmi menjadi suami istri yang sah.. Aku ingin mencumbuimu”, tanya Dudung sambil menahan kesabarannya atas perlakuan Dina tadi.
“Aku letih sekali Mas setelah resepsi seharian ini”, keluh Dina memberi tanda bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh Dudung.

Namun Dudung tak putus asa, ia langsung memberanikan diri untuk mengusap payudara istrinya yang masih tertutup baju tidur dan kutangnya, tapi Dina melihat gelagat itu dan secara refleks menepis tangan suaminya itu.

“Ahh.. Kenapa?”, Dudung pun heran atas ulah istrinya ini.
“Aku benar-benar capek sekali Mas.. Sekarang tidurlah Mas.. Khan masih ada hari esok”, jawaban Dina memang masuk akal, akhirnya Dudung pun mengalah untuk malam ini, padahal malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka.

Hari-hari berikutnya pun begitu.

“Aku sedang mendapat haid Mas”
“Bah!”, umpat Dudung dalam hati. Padahal nafsunya sudah di ubun-ubun. Dia pun memakai pakaiannya untuk pergi.
“Mas Dudung mau kemana?”
“Apa pedulimu? Aku mau plesir..!”, gerutunya pada Dina. Tujuannya cuma satu, ia akan meminta ‘jatah’ ranjang dari salah satu istrinya yang lain malam itu juga untuk digauli.

Tini Korban Cumshot Party

Tini, seorang ibu muda keturunan Tionghoa berusia 34 tahun berperawakan sedang yang lumayan cantik, suatu siang sedang berjalan-jalan di sebuah mall dekat rumahnya untuk berbelanja keperluan sehari-hari dirumahnya.

Ketika ia melewati jalan berlorong menuju toilet, tiba-tiba seorang pria berperawakan sedang menyapanya secara sopan, dan langsung saja secara tidak sadar Tini terhipnotis oleh pria tersebut, dan dengan mudahnya pria tersebut bersama seorang temannya mengajak Tini menuju ketempat parkir dan menaikkan Tini kedalam mobil pria tersebut.

Lima menit setelah mobil berjalan, barulah Tini sadar bahwa ia terhipnotis dan berusaha untuk berontak dan keluar dari mobil. Tapi apa daya kalau dirinya diapit oleh dua orang pria dikanan kirinya, sementara dua orang lagi duduk didepan. Tini diancam untuk tidak macam-macam serta menuruti saja kemauan mereka jika ingin selamat. Mereka tidak banyak berkata-kata didalam mobil, sementara Tini hanya bisa pasrah dengan tangan dan kaki yang terikat, mata yang ditutup dengan sapu tangan serta mulut yang disumpal segumpal kain handuk.

Empat puluh lima menit sudah mobil tersebut melewati pinggiran kota, dan sampailah mereka disuatu tempat yang dituju, mobil langsung dimasukkan kedalam garasi, ikatan kaki dan tangan serta menutup mata Tini dibuka, dan Tini dipaksa berjalan masuk kerumah tersebut, yang ternyata sebuah rumah mewah yang begitu besar dengan perabotan yang mewah ada dimana-mana. Tini digiring kebagian belakang rumah tersebut dimana terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar, dan yang mengejutkan Tini adalah disana telah menunggu puluhan laki-laki sekitar empat puluhan orang jumlahnya, dimana sebagian dari mereka dalam keadaan telanjang bulat sambil membaca majalah porno, sambil sesekali memainkan alat kelamin mereka yang sudah tegang itu. Sebagian lagi dari mereka sedang berendam dikolam air hangat.

Tini begitu gemetaran melihat lelaki yang begitu banyak yang akan menikmati tubuhnya, sementara beberapa orang dari mereka mulai menggiring Tini ketempat mereka ngumpul di depan bar kecil dekat kolam renang. Tini dipaksa duduk disebuah sofa kulit yang cukup nyaman, sementara itu mereka mulai mengajak Tini bercakap-cakap dan menanyai Tini dengan berbagai pertanyaan jorok dan porno yang akhirnya melecehkan Tini dengan cara menyumpalkan celana dalam mereka secara bergantian kedalam mulut Tini. Puluhan celana dalam bekas pakai bergantian menyumpal mulut Tini yang lumayan seksi itu, bahkan ada yang menyumpalkan dua celana dalam sekaligus kedalam mulut Tini, hingga Tini agak kesulitan bernapas.
Puas dengan permainan “Sumpal Kolor” tersebut kini mereka siap mengerjai Tini beramai-ramai.

Sebelum dikerjai Tini disuguhi segelas air mani yang sudah berhari-hari disimpan didalam kulkas dan mereka dengan napsunya bergantian menyuapi Tini air mani dingin tersebut sesendok demi sesendok, dan sudah barang tentu Tini tidak dapat menolak perlakuan tersebut, dan hanya bias menelan air mani tersebut dengan rasa mual dan jijik, hingga akhirnya segelas air mani tersebut pindah kedalam perut Tini.

Dengan dikelilingi begitu banyak laki-laki, Tini mulai dipaksa untuk membuka blous yang dipakainya, hingga akhirnya semua kancing terlepas dan salah seorang dari mereka membantu membuka blous nya dari arah belakang, sementara yang lain hanya melihat dan batang kejantanan mereka terlihat makin membesar dengan terlepasnya blous Tini dari tubuhnya, sementara itu bra berwarna coklat muda dengan ukuran 34A itu terlihat dengan jelas oleh semua orang yang ada disitu.

Bra bermerk Triumph dengan kancing didepan itu terlihat sangat mencuat kedepan, membalut sepasang gunung kembar Tini, yang walaupun tidak begitu besar, namun sangat menggairahkan. Salah seorang dari mereka berlutut didepan Tini dan merogohkan tangannya kedalam rok hitam Tini yang panjangnya 10 cm diatas lutut, dan meremas-remas paha dan selangkangan Tini yang masih dibalut celana dalam putih itu. Tini dipaksa mengangkang lebar-lebar, dan salah seorang dari mereka berusaha memasukkan kepalanya dibalik rok Tini yang agak ketat itu, hingga akhirnya kepala orang tersebut mentok dipangkal paha Tini dan menciumi paha dan selangkangan Tini dengan sangat bernapsu sekali.

Melihat adegan tersebut, tanpa dikomando yang lainnya pun ikutan melakukan hal tersebut dengan brutalnya, sementara yang lainnya mengobok-ngobokan tangannya dibalik bra Tini sambil meremas-remas gunung kembarnya secara bergantian serta memilin-milin puting susu Tini yang lumayan besar itu. Beberapa orang mulai memaksa Tini memegang batang kelamin mereka dan memaksa Tini mengocoknya, tak puas hanya dikocok, mereka mulai bergantian memaksa Tini mengulum-ngulum batang kejantanan mereka dengan brutalnya.

Dengan begitu napsunya mereka bergantian menjejalkan batang kejantanan mereka kemulut Tini dan sesekali memukul-mukulkan batang kejantanan mereka diwajah Tini. Bunyi kecipak beberapa batang kejantanan yang dipukul-pukulkan dimuka Tini terasa begitu nyata, hingga membuat orang yang melakukannya mengerang-ngerang keenakan. Bahkan beberapa orang bergantian menekan-nekan wajah Tini diselakangan mereka, sementara batang kejantanan mereka dengan telaknya masuk hingga mentok dikerongkongan Tini hingga buah sakar mereka terjepit antara pangkal paha mereka dengan bibir Tini yang seksi itu.

Ada juga yang mengolesi madu ataupun susu kental manis dibatang kejantanannya, dan memaksa Tini untuk menjilatinya hingga habis. Puas memaksa Tini untuk oral batang kejantanan mereka, kini mereka membawa Tini untuk masuk kedalam kolam air hangat. Bra dan celana dalam Tini dilepas, dan Tini dipakaikan swimsuit khusus berwarna merah jambu, dimana dibagian selangkanngannya terdapat kancing yang dapat dibuka dengan mudah. Tini dipaksa berendam dikolam tersebut, diikuti oleh puluhan pria yang sudah telanjang bulat dengan batang kejantanan mereka yang rata-rata sudah ereksi sangat keras.
Bergantian mereka menyetubuhi Tini didalam kolam tersebut secara bergantian.

Dengan mulut disumpal celana dalam, Tini disandarkan dipojok kolam, dengan kedua tangan memegang sisi kolam dan kaki yang mengangkang lebar, membuat Tini secara leluasa disetubuhi secara bergantian dengan brutalnya hingga air dikolam tersebut beriak sangat kencang dan membuat suasana tambah birahi, dan ditambah lagi dengan musik rock yang disetel keras-keras. Penis mereka bergantian keluar masuk vagina Tini serta mengocoknya dengan cepat. Beberapa dari mereka sudah tidak dapat menahan lagi airmani mereka yang ingin keluar itu, hingga akhirnya air kolam tersebut dipenuhi dengan peju yang mengambang.

Dan beberapa orang berusaha menyendoki air mani yang mengambang tersebut dan sudah barang tentu lagi-lagi Tini dipaksa menelan “Santan Nikmat” tersebut, hingga tak bersisa. Puas mencekoki Tini, pemerkosaan dilanjutkan ditepi kolam. Tini dipaksa berdiri dipinggir kolam dengan tangan yang berpegangan pada tangga kolam, sementara beberapa laki-laki bergantian mengantri dari arah belakang.

Mereka secara tidak sabar bergantian memasukkan serta mengocok-ngocoknya dengan cepat batang kejantanan mereka dari arah belakang kevagina Tini. Sambil mengocok-ngocok vagina Tini dari arah belakang, sepasang payudara Tini dengan puting susu yang mencuat kedepan menjadi bulan-bulanan untuk diremas-remas, sementara itu yang lain bergantian duduk ditangga kolam sambil memain-mainkan penis mereka didepan muka Tini dan memaksa Tini untuk mengulumnya dalam-dalam. Dua jam sudah mereka memperkosa Tini didalam kolam dan permainan mereka itu akan diakhiri dengan berejakulasi diwajah Tini bersama-sama.

Tini didudukkan dikursi tanpa sandaran dan dikelilingi dengan begitu banyak lelaki yang siap memuntahkan airmani mereka diwajahnya, dan mereka bergantian memaksa Tini untuk mengocok batang kejantanan mereka dengan kedua tangannya dengan cepat, sementara yang lain mengocok penis mereka masing-masing tepat didepan wajah Tini yang lumayan cantik itu, sambil sesekali menamparkan batang kejantanan mereka ke muka Tini dengan sangat bernapsu. Bibir Tini pun tak ketinggalan untuk digunakan sebagai “Alat Penghisap Titit” secara bergantian oleh mereka.

Beberapa laki-laki sudah tidak tahan lagi dan mereka secara serentak mengarahkan lobang Penis mereka kearah wajah Tini, dan..Crott.. ccrroott..! secara hampir bersamaan lima batang penis memuncratkan air maninya diwajah Tini mulai dari dahi hingga bibir Tini dipenuhi air mani kental putih yang nikmat itu. Garis-garis putih kental menempel diwajah Tini dan bertetesan kepayudara Tini yang seksi itu. Dan yang lain pun bergantian menciprati wajah Tini yang cantik dengan air mani mereka.

Puluhan orang sudah bergantian menikmati wajah Tini yang seksi itu dengan batang penis mereka, dan beberapa orang menyendoki airmani yang bertetesan itu dengan sendok makan dan menyuapi Tini air mani tersebut, hingga wajah Tini bersih kembali.

Tinggal dua puluh orang lagi yang belum dapat jatah, dan mereka kembali meneruskan permainan mereka. Kali ini Tini dipaksa duduk dikursi santai yang terbuat dari kain, dan salah seorang membuat lubang dikursi kain yang diduduki Tini, tepat diatas kepala Tini, hingga penis orang tersebut menembus kursi kain itu dan tepat berada diatas kepala Tini. Orang tersebut menggerak-gerakkan penis nya yang sudah ereksi keras itu maju mundur dengan cepat sekali, sementara yang lain dari arah depan memegangi kepala Tini agar tidak bergerak, hingga akhirnya orang tersebut berejakulasi dan air mani nya pun muncrat bertetesan begitu banyak di dahi dan kepala Tini hingga mengalir kewajah Tini. Teman-teman yang lainnya pun mengikuti jejaknya, sampai-sampai Tini boleh dikatakan “mandi sperma”.

Sebagian lagi memaksa Tini mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk dengan cepat, hingga satu persatu bergantian berejakulasi didalam mulut Tini, dan memaksanya untuk menelan semua sperma yang ada. Sekitar dua puluh lelaki yang tidak sabar berebutan ingin memuntahkan lagi spermanya dimuka Tini untuk kedua kalinya, hingga dari segala penjuru air manipun muncrat berhamburan diwajah Tini, bahkan ada yang memaksa Tini untuk mengocok penisnya dengan kedua tangan Tini sambil mengarahkannya kemulut Tini hingga akhirnya muncrat berantakan.

Beberapa orang lagi bergantian menggunakan wajah Tini untuk berejakulasi. Wajah Tini ditekan-tekan tepat didepan selangkangan mereka hingga batang kejantanan mereka terjepit diwajah Tini dan mulailah mereka menggerakkannya keatas dan kebawah dengan agak cepat hingga akhirnya batang penis mereka meyemprotkan air mani yang kental itu dan secara otomatis wajah Tini dipenuhi cairan putih itu dan Tini pun tidak berdaya lagi kecuali membiarkan cairan sperma tersebut memenuhi wajahnya yang sudah bermandikan sperma tersebut.
Selesai diperkosa Tini dimandikan hingga bersih dan dipakaikan bra dan celana dalam baru yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan Tini pun diberi makan dan diistirahatkan selama dua jam. Malam harinya sekitar jam tujuh malam, Tini dibawa kesebuah rumah yang lain dan disana pun sudah menunggu puluhan orang lagi untuk mengerjainya lagi.

Terjebak Permainan

Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku, aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di luar kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota tersebut.

Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku kenal di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal dia bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung, tapi menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya, jadi dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.

Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.

Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.

Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.

Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu

“Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?” tanya Lenny.
“Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus” ujarku dengan nada lemas.
“Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?” tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
“Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai..” ujar Lenny dengan nada menyesal.
“Thanks banget untuk usaha lu Len.” ujarku sambil mengajaknya pulang.

Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..

“Nin.., Temenin kita main dong..!” serunya.
“Kita taruhan. Berani nggak?” tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.

Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.

“Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!” seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
“Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?” seru salah seorang dari mereka.

Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.

“Brengsek! Nggak mau..!” ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.
“Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!” ujar manajerku berusaha membujuk.
“Tapi Pak..!” jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
“Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos..” ujarnya sambil terus membujukku.
“Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?” tanyaku kepada mereka.
“Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!” seru orang yang berada paling dekat denganku.
“Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!” jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
“Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!” serunya dengan nada marah.
“Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?” ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
“Tapi Nin?” ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
“Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut..” sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.

Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.

Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.

“Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!” seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
“Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!” protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.
“Buka.. Buka..!” sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
“Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!” jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.
“Lepaskan..!” teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.
“Pak dicky..! Tolong saya Pak..!” jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.

Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.

“Jangan.. Ouh..!!” jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
“Jangan keluar di dalam, Pak..!” gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
“Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!” ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
“Ouh.. Hh..!” desahku lirih.

Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.

Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.

“Ouh.. Shh. Ah.” desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.

Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.

Taman Ria Senayan

Namaku Deny. Aku mempunyai seorang pacar yang bernama Maria C. Maria itu tingginya sekitar 150 cm, berat 58 kg, ukuran BH 34C. Kakinya sangat indah dan betisnya padat berisi. Ia memakai gelang kaki di kaki kirinya, dan kalau berjalan terdengar bunyi gelang kakinya. Ia suka memakai baju yang seksi yang memamerkan perut dan pusarnya itu dan juga celana pendek dan ketat, sehingga membuat nafsu orang.

Pada malam minggu, aku mengajaknya pergi jalan-jalan ke Taman Ria Senayan. Aku menjemput ke rumahnya pada jam 5 sore, lalu berangkat ke tempat tujuan.
“Hai Den, gimana kuliah lu..? Bisa ngikutin ngga? Jangan-jangan ngga bisa lagi.” kata Maria memulai pembicaraan.
“Bisa dong Mar.. Gue kan pinter. Masa lu ngga tau sih.” kataku sambil mengelus rambutnya dan mencubit pipinya yang tembem itu.
Lalu kami berangkat menuju ke tempat tujuan sambil membicarakan tentang pelajaran masing-masing.

Sesekali kucuri pandang untuk melihat pahanya yang mulus, berwarna kuning langsat dan memantulkan cahaya matahari pada sore hari.
“Ah.. andai saja aku bisa merasakan kelembutan kulitnya itu,” pikirku dalam hati.
Pikiranku mulai kacau pada saat itu, apalagi setelah berhenti di lampu merah, secara sekilas kulihat dadanya. Tampak belahan dadanya, karena dia memakai baju agak turun ke bawah.
“Gile toketnya padat dan berisi.” bayangku sambil menunggu lampu hijau.

Setelah beberapa lama, maka sampailah kami di Taman Ria Senayan, kira-kira jam 7 malam. Kami langsung memasuki salah satu cafe yang ada di sana. Kami memesan makanan dan kami bercanda, dan memulai kegiatan pacaran kami. Setelah kira-kira 1,5 jam kami makan-makan di cafe itu, kami keluar dan berjalan-jalan. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan kupeluk bahunya. Kelembutan kulit bahunya membuat pikiranku menjadi nakal, ingin kulihat apa yang ada di balik baju dan rok mininya itu.

Maka aku berkata pada Maria, “Eh Mar, kita ke mobil yuk. Ada sesuatu nih buat luh. Asyik lho.. dijamin..!” kataku sambil senyum.
“Ya udah, ayo kita balik.” balasnya.
Akhirnya kami balik ke mobil sambil kulihat jam tanganku yang menunjukkan jam 9 malam.

Setelah sampai ke dalam mobilku yang bermerek kijang, kami duduk di kursi bagian tengah, lalu kutanya padanya.
“Eh Mar, lu mau cipokan ngga sama gue. Kita kan udah pacaran ampir 2 tahun..?” tanyaku kepadanya.
“Ya udah deh sekali-kali. Tapi cuman cipokan doang yah, ngga lebih dari itu..!” ia menyetujui permintaanku.
Akhirnya kami mulai saling mendekatkan kepala masing-masing dan mulailah acara ciuman itu.

Kumainkan lidahnya. Dia pun juga membalas dengan hebatnya. Sambil kucium mulutnya, tanganku mulai mengelus-ngelus punggungnya. Bahunya kuraba.., lalu mulai turun ke punggung dan sampailah ke pantatnya. Ia pun terkejut ketika aku memegang pantatnya yang bulat dan kencang itu.
Lalu ia melepas pelukannya dariku dan berkata, “Eh Den, jangan macem-macem deh..!” katanya dengan nada yang menyentak.
“Ah Maria, ngga apa-apalah sekali-kali buka bukaan.” balasku sambil meremas dadanya.
“Den..! Apa-apaan sih..!” marahnya.

Aku tidak mendengarkan omelannya, malah kutampar pipinya agar ia diam dan menuruti perintahku.
“Diem ngga..! Buka baju lu, kalo ngga gue tampar lagi nih..!” teriakku.
Ia tetap tidak mau membuka bajunya, maka kutampar sekali lagi, dan langsung ia menurunkan retsleting bajunya yang berada di bagian punggungnya. Setelah terbuka bajunya maka langsung terpampanglah kedua susunya yang berwarna putih bersih dan agak kuning langsat. Ternyata ia tidak memakai BH. Maka langsung saja tanpa basa basi kupegang dan kuremas susunya.

Ia berteriak kesakitan dan juga sekaligus minta tolong karena ia mau diperkosa.
Mendengar teriakan itu maka langsung kujambak rambutnya, dan kubilang, “Eh Mar, ngga ada gunanya lu teriak juga. Kita parkir di tempat yang sepi. Ngga ada orang.” jawabku sambil tertawa karena senang dapat memperkosanya.
Ia hanya menangis saja. Aku bukannya merasa kasihan, justru malah tambah bersemangat mendengar tangisannya itu. Maka aku mengambil ikat pinggang dan menghajar perut dan pahanya berkali-kali agar ia diam, dan langsung kutarik ke bawah roknya yang mini itu sampai lepas. Ia sekarang bertelanjang dada dan hanya memakai CD-nya yang berwarna putih itu.

Batang kemaluanku mulai menunjukkan aktivitasnya. Maka tanpa membuang waktu aku langsung mengemut dan mengunyah susu kirinya dan puting susu kanannya kucubit-cubit.
Maka terdengarlah suara, “Aahh.. eemmh.. sakit Den..!”
Aku tetap mengunyah susunya. Malah semakin ganas.

Setelah 15 menit merasakan kedua susunya secara bergantian, maka aku beristirahat sebentar. Kemudian kupindahkan Maria ke jok bagian belakang, sehingga tidak ada yang melihat kami berdua dengan jelas.

Oh ya, aku baru ingat bahwa di laci mobil ada suntikan untuk mengeraskan dan mengencangkan susu cewek. Maka langsung kuambil dan kembali untuk menyuntikkan ke kedua susunya. Pelan-pelan kumasukkan jarum suntiknya ke dalam payudaranya. Sedikit demi sedikit jarum itu menembus daging susunya yang kenyal itu.
“Aaahh..,” teriaknya dengan suara yang keras dan hisreris sampai kupingku sakit.
Karena kupingku pengang karena teriakannya, maka kusumpal mulutnya dengan sapu tangan milikku. Lalu kembali kutarik jarum suntikan itu yang sempat menancap selama beberapa detik karena aku menyumpal mulutnya. Kemudian kusuntikkan lagi sisa cairan itu ke susu yang satunya lagi sampai habis.

Suaranya tidak terdengar keras lagi karena tertahan saputanganku. Darah menetes keluar karena kucabut suntikan itu. Maka kuletakkan suntikan itu dan langsung menjilat darahnya yang menetes sekaligus keringatnya sambil memukul-mukul kedua susunya agar cairan yang berada di dalamnya menjadi rata.

Setelah selesai menyuntik kedua susunya, maka aku segera menjilati mulai dari lehernya, lalu perut sampai pahanya yang lembut itu, dan kubalikkan dia sehingga dia dalam posisi telungkup. Kumainkan pantatnya beberapa saat dan langsung melucuti CD-nya. Kumainkan anusnya sampai puas. Setelah itu kubalikkan lagi posisi tubuhnya dan langsung mengangkangkan kedua kakinya dan kujilati kemaluannya dengan lidahku yang lumayan panjang itu.

Suara erangannya mulai terdengar lagi. Sambil kujilat vaginanya, tanganku juga keluar-masuk ke anusnya. Vaginanya yang berwarna merah segar apalagi mengkilat karena keringatnya memantulkan cahaya lampu di halaman parkir. Semangatku mulai menggebu-gebu. Aku mulai melepas semua pakaianku dan memasukkan kejantananku ke dalam vaginanya yang masih rapat. Pelan-pelan kukeluar-masukkan penisku untuk menjebol selaput daranya.

Setelah semakin lama semakin dalam masuknya kejantananku karena sudah mulai longgar vaginanya, maka satu, dua, tiga.., “Bless.., Aaahh..!” ia mengerang kesakitan.
Masuklah kejantananku sampai menyentuh ke dalam rahimnya. Keluarlah darah segar dari dalam vaginanya dan mengalir keluar melewati bibir vaginanya membasahi jok mobilku yang terbuat dari kulit. Setelah diam sejenak, langsung kusetubuhi Maria pelan-pelan agar lama diriku mencapai klimaksnya.

Lama-lama ia mulai mengikuti iramanya. Kepalanya kadang ke kiri kadang ke kanan. Keringatnya mengalir sangat deras dan membasahi seluruh tubuhnya mulai dari rambut, leher, kedua susunya, perut, sampai paha dan betisnya yang halus dan berisi itu, membuat nafsu birahiku meledak-ledak. Sambil menyenggamai Maria, kedua susunya kupukul-pukul sampai berwarna merah, kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat itu. Satu tanganku juga meremas-remas kedua susunya secara bergantian. Keluarlah cairan yang berwarna putih keluar dari puting susunya akibat dari suntikan yang kuberikan tadi. Cairan itu mengalir keluar dan membasahi sela-sela jariku. Licin rasanya. Kemudian sambil bermain, kujilati cairan itu. Ternyata cairan putih itu sangat enak dan manis rasanya. Maka aku kembali meremas-remas agar keluar lagi cairan itu.

Setelah puas dengan cairan itu, kubuka saputangan yang ada di mulutnya itu dan menggantinya dengan batang kejantananku. Tentu saja posisinya berubah dari 66 menjadi 69. Kupaksa untuk menyedot dan memainkan penisku. Kejantananku yang sudah basah dan berlumuran dengan darah dalam vaginanya kupaksa ia menjilatinya dengan bersemangat. Akhirnya dengan rasa mual dan mau muntah ia menjilatinya dengan terpaksa. Kalau tidak mau dia kembali saya hajar dengan ikat pinggang.

Sambil ia menikmati kemaluanku, kumainkan vaginanya yang sudah mulai longgar dan basah. Kujilati kacang kedelenya semakin lama semakin cepat. Anusnya juga tidak ketinggalan. Tanganku juga menusuk-nusuk keluar masuk anusnya. Anusnya yang tadinya sempit yang hanya dapat dimasuki 2 jari, lama-lama 3 jari masuk juga. Akhirnya liang senggamanya tidk kuat dan, “Syurr.. syurr..” keluarlah cairan dari vaginanya yang langsung kujilati sampai habis tak bersisa. Gurih dan manis rasanya. Oh aku pun juga ingin mencapai klimaksnya. Maka segera kucabut kemaluanku dari mulutnya dan segera berganti posisi kembali ke 66. Langsung kumasukkan penisku ke vaginanya dan mulai kuperkosa lagi si Maria.

Beberapa menit kemudian tercapailah klimaksnya, dan “Aahh.. crot.. crot.. I love you Mar.., aahh.. crot..!” spermaku keluar dengan derasnya dan langsung masuk ke dalam rahimnya.
Panas yang ada di dalam vaginanya dirasakan oleh Maria. Ia kembali menangis karena menyadari dirinya akan hamil. Kembali kutampar pipinya karena ia menangis.
“Kenapa lu nangis Mar..? Cengeng lu anaknya..!” tanyaku berpura-pura tidak tahu.
Ia hanya diam saja takut aku marah dan menamparnya lagi. Tapi aku merasa kurang puas kalau hanya memperkosanya saja. Maka kembali aku mengambil ikat pinggangku dan menyiksanya lagi.

Ia berteriak kesakitan, tetapi aku tetap menyabet paha, perut dan kali ini berikut punggungnya juga. Kulitnya merah-merah dan mengkilat karena penuh dengan keringatnya. Kedua susunya kembali kuhisap dan kunyah sekaligus aku menghirup bau badannya yang membuat tenagaku pulih kembali sehabis mencapai klimaks yang pertama tadi. Aku melihat jam tanganku, dan ternyata menunjukkan pukul 11 malam. Aku tidak perduli dan langsung kembali menikmati tubuhnya.

Aku mulai mencium mulutnya, kumainkan lidahnya. Setelah puas lalu turun untuk mencium puting susunya yang berwarna kuning kecoklatan. Kukunyah dan kuhisap kedua susunya sampai basah kuyup karena keringat dan juga air liurku. Setelah puas dengan susunya, langsung kumasukkan batang kejantananku ke dalam vaginanya dan langsung kupegang kedua kakinya dan kukangkangkan kedua betisnya yang penuh dengan keringat.
“Aahh.. aahh..!” erangannya karena keenakan.

Kepalanya kadang ke kiri, kadang ke kanan. Lehernya yang penuh dengan keringat sehingga memantulkan cahaya lampu membuatku bersemangat ingin terus memperkosanya sampai benar-benar puas. Sambil kusenggamai Maria untuk kedua kalinya, kuperas susu kanannya dengan sangat keras, sehingga langsung keluar cairan yang berwarna putih dengan sangat banyaknya, dan langsung mengalir melewati kulit susunya dan menetes ke jok mobilku.