Malapetaka KKN – Di Tengah Badai

Beberapa saat kemudian Bella terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat Bella merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang berada di sebuah kamar sempit dan terbaring di atas sebuah ranjang lebar berbau melati. Samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang berdiri di dekatnya mengelilingi tubuhnya.

Pak Hasan.. Bella mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas, perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk aslinya, Pak Hasan, Parjo dan Somad berdiri mengelilinginya di pinggir ranjang. Ketiganya hanya memakai celana kolor.

Bella berusaha bangun, tapi tubuhnya lemas sekali, pengaruh minunam yang diminumnya membuat sekujur badannya lemas.

Sudah bangun Neng.. Pak Hasan berujar sambil tersenyum dengan tatapan matanya memelototi Bella. Parjo dan Somad bahkan menatap Bella tanpa berkedip sedikitpun sambil sesekali meneguk ludahnya. Bella merasa ada yang salah dengan tubuhnya melihat ketiga orang itu menatapnya. Dan beberapa detik kemudian Bella baru sadar kalau dirinya terbaring di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya.

Apa yang kalian lakukan pada saya..? Bella menjerit, tapi suaranya terdengar terlalu lemah, dia berusaha mundur dan bangkit, tapi tubuhnya tidak bertenaga, dia hanya mampu menutupi payudaranya yang telanjang sambil berusaha merapatkan kakinya.

Hehehehe.. Pak Hasan tertawa pelan. Belum ada sih Neng, soalnya kami baru saja selesai menelanjangi Neng Dokter.

Jangan Pak.. jangan.. jangan sakiti saya.. Bella mulai menangis sambil berusaha berontak, meskipun dia terlalu lemah untuk itu, yang dilakukannya hanya mengejang-ngejang di atas ranjang yang justru membuat gerakan erotis karena dirinya dalam keadaan bugil.

Oh.. tentu tidak Neng, Bapak hanya ingin senang-senang sedikit saja, kata Pak Hasan sambil menoleh ke arah Parjo dan Somad yang menyeringai liar.

Tidak apa-apa Neng.. Bapak hanya minta Neng melayani Bapak sebentar saja, Bapak sudah lama tidak mendapat jatah dari istri Bapak. Kata Pak Hasan

Jangan Pak.. jangan.. saya tidak mau.. Bella menangis sesenggukan sambil menggeleng ketakutan.

Jangan nangis Neng, Bapak janji bakal muasin Neng Dokter juga, malah mungkin Non yang ntar ketagihan katanya setengah berbisik, hembusan nafasnya terasa di telinganya. Bella merinding mendengar usapan itu, sama sekali tidak disangkanya Pak Hasan tega melakukan hal ini padanya, Bella memang sudah tidak perawan, tapi dia tidak mau dijadikan pelampiasan nasu seorang tua bangka seperti Pak Hasan.

Neng Dokter cantik sekali.. Pak Hasan menyeka air mata yang membasahi pipi Bella lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya.

Bella memejamkan mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan Pak Hasan, malah rontaan itu membuat Pak Hasan makin bernafsu mengerjainya.

Ketika tangan Pak Hasan mulai merogoh bagian kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah lidah Pak Hasan menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya habis-habisan, lidah Pak Hasan menyapu telak rongga mulutnya.

Bella merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Pak Hasan masuk lebih jauh, namun dengan begitu Pak Hasan malah senang bisa sekalian membelai paha mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan.

Sekali lagi tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Pak Hasan telah berhasil mengelus belahan vaginanya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya. Tangan Pak Hasan menyusup menyentuh permukaan kemaluan Bella yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

Bella mengejang sesaat ketika tangan itu menyentuh kemaluannya, campuran antara sensasi yang ditimbulkan sentuhan tangan itu dan pengaruh minuman yang tadi diminumnya membuat tubuhnya menegang sesaat. Bella mulai merasakan getaran-getaran yang mengenai syaraf seksualnya, tanpa sadar Bella mendesah.

Ahhhhhh… ehsssss…. ohhhkkkhhhh… Bella merintih dan bergerak liar merespon sentuhan Pak Hasan. Pak Hasan melihat reaksi itu semakin bersemangat. Pak Hasan lalu berusaha membuka kedua belah paha Bella lebar-lebar sambil terus menerus menciumi bibir Bella. Nafas gadis itu semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena rangsangan-rangsangan gencar Pak Hasan.

Tangan Pak Hasan akhirnya berhasil membuka paha Bella membuat vagina Bella sekarang terbuka lebar, vagina itu terlihat bagus dengan ditumbuhi rambut halus dan rapi.

Parjo dan Somad yang melihat aksi Pak Hasan mengerjai Bella hanya bisa meneguk ludah sambil mengocok penis mereka sendiri.

Ohh.. jangan lama-lama Pak.. kami juga kebelet.. Parjo mengerang pelan sambil meneguk ludah.

Hehehe.. giliran kalian nanti ya.. Kata Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan mulai memainkan jari-jarinya di vagina Bella sambil terus menciumi dan mengulum bibir Bella Lidah Bella yang berusaha menolak lidahnya justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya.

Beberapa saat lamanya Pak Hasan terus menciumi bibirnya dan mengelus-elus bibir vaginanya. Jari-jari Pak Hasan yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah, Pak Hasan menyerang daerah lainnya, payudara Bella yang telanjang perlahan mulai diremas oleh Pak Hasan.

Bella berusaha menepis tangan Pak Hasan dan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Pak Hasan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping badan. Dia memejamkan mata dan menangis, seorang bertampang buruk dan seusia ayahnya meremas, menjilati dan mengenyot payudaranya.

Gadis itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi pemerkosanya. Cukup lama Pak Hasan menyedoti payudara Bella sehingga meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya terus memainkan payudara Bella.

Tidakjangan Pak, jangan ! ucap Bella memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Pak Hasan mau menjilati vaginanya.

Pak Hasan hanya menyeringai lalu membuka paha Bella dengan setengah paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Bella menggelinjang begitu lidah Bella yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, bagi Bella lidah itu adalah lidah pertama yang pernah menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya.

Pak Hasan berlutut di ranjang dan menaikkan kedua paha Bella ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis itu setengah terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti sedang makan semangka.

Sudahhh Pakahhaahh ! desah Bella memelas saat lidah Pak Hasan masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya.

Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan ngerinya bercampur baur dengan birahi dan naluri seksual.

Sekitar seperempat jam Pak Hasan menikmati vagina Bella demikian rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

Eenngghhaaahh ! Bella pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang. dia menyedoti bibir vagina Bella sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. Parjo dan Somad yang melihat Bella orgasme tertawa senang.

Hehehehe.. ternyata konak juga, tadi nolak-nolak tuh.. dasar pelacur, dimana-mana sama saja.. Parjo berujar datar.

Iya nih… tadi berlagak nggak mau, ternyata nyampe juga.. timpal Somad yang juga masih mengocok-ngocok penisnya sendiri.

Nah.. kalau begitu Neng dokter sudah siap ya.. kata Pak Hasan. Bella tahu maksud siap yang dilontarkan Pak Hasan. Dirinya memang terangsang hebat oleh perlakuan Pak Hasan, meskipun pikirannya menolak, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bella yang sudah mulai kehilangan akal sehatnya hanya terdiam.

Diamnya Bella itu bagi Pak Hasan dan kawan-kawannya dianggap sebagai lampu hijau dari Bella untuk menidurinya. Perlahan Pak Hasan mulai menarik kedua belah kaki jenjang Bella ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak.

Lalu perlahan Pak Hasan mulai menindih tubuh mulus Bella yang telanjang bulat. Pak Hasan merasakan kenyalnya payudara Bella menekan dadanya dengan lembut.

Perlahan-lahan, Pak Hasan lalu menaikkan kedua kaki Bella yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang kekar. kedua pahanya kini melingkari bagian perut Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Bella.membuatnya kegelian merasakan kemaluan Pak Hasan yang menyentuh kemaluannya.

Setelah penis Pak Hasan mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, dia lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir kemaluan Bella. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu Pak Hasan mendorong pinggangnya maju mendesak pinggul Bella membuat penisnya masuk ke dalam vagina Bella.

Saat penis Pak Hasan melesak ke dalam kemaluan Bella, spontan Bella pun mengejang. Jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba. Pak Hasan masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Bella. Bella pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Pak Hasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *