Malapetaka KKN – Terjebak Rayuan

Clara adalah satu-satunya mahasiswi yang tidak punya pacar. Dia baru saja putus dengan pacarnya yang ketahuan selingkuh dengan temannya sendiri. Tapi Clara adalah tipe gadis yang periang, sehingga dia tidak terlalu memusingkan hubungannya yang bubar karena prselingkuhan sang pacar. Dia bahkan mengatakan justru lebih senang sendirian ketimbang harus kesana-kemari jalan berduaan dan terikat satu sama lain. Sifat periangnya itu pula yang membuatnya sekarang akrab dengan salah satu pemuda desa yang bernama Jono.

Banyak yang bilang kalau mereka sebenarnya serasi, Jono meskipun anak desa tapi bunya wajah yang menarik, sifatnya juga kalem dan pendiam, serasi dengan Clara yang ramai dan tentunya cantik. Clara punya tubuh yang bagus, tingginya sekitar 168 cm dengan payudara 34B.

Clara juga bekerja sampingan sebagai fotomodel di luar tugasnya sebagai mahasiswi jurusan Sastra. Kebetulan pula mereka punya minat yang sama dalam dunia buku. Beberapa kali Clara dan Jono terlihat berdiskusi berdua dan sekali dua kali terlihat mereka berjalan berduaan untuk kepentingan KKN Clara.

Hari itu Clara terlihat bersiap untuk pergi, rupanya dia dan Jono ada janji unutuk pergi mengunjungi desa sebelah guna membicarakan kerja sama program KKN nya dengan salah satu kelompok di desa sebelah.

Sepanjang perjalanan Jono terlihat diam sekali, nyaris tidak bicara sepatahpun. Clara melihat keanehan ini, meskipun dia maklum karena Jono memang pendiam. Tapi mendadak setelah agak jauh berjalan, Clara entah bagaimana merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang menggelayuti hatinya dengan perasaan aneh.

Perasaan Clara makin gelisah ketika Jono mengajaknya ke sebuah rumah yang sma sekali tidak dikenalnya, rumah itu terletak sangat terpencil, jauh dari rumah penduduk yang lain bahkan bisa dibilang tersembunyi oleh pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.

Kok kita ke sini Jon? Kita kan mau ke desa sebelah? Clara bertanya dengan nada sedikit curiga.

Kita mampir sebentar, ini rumah teman saya, kata Jono dengan nada gemetar tidak wajar.

Tapi kayaknya rumah nin agak menyeramkan, Clara menghentikan langkahnya. Aku ngeri nih.

Jangan takut Clara, kita cuma mampir sebantar kok. Kata Jono lagi.

Tapi.. Clara ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya.

Ayo, jangan takut, nggak ada apa-apa, Jono memaksa. Ayo… jangan takut.

Akhirnya meskipun dengan masih sedikit ragu, Clara mengikuti Jono yang masuk ke rumah itu. Rumah itu cukup besar meski terkesan tidak terawat. Diding rumahnya terbuat dari bata yang belum dipoles, menampakkan batu bata merah yang saling bersambungan.

Oleh Jono, Clara disuruh menunggu di sebuah kamar yang jendelanya tertutup dan berterali besi. Clara agak jengah menatap kamar berukuran 3 kali 3 meter itu. Dindingnya tertempel banyak sekali poster dan gambar wanita cantik yang hanya memakai bikini super mini dengan berbagai pose. Clara duduk di sebuah ranjang besar yang ada di tengah kamar, ranjang itu bersih, dengan kasur yang dilapisi seprei merah dan berbau kamper.

Selama beberapa menit Clara menunggu membuatnya tidak sabar. Karena itu ketika terengar ada orang yang melangkah masuk, Clara langsung membalik.

Sudah selesai…. Clara tertegun, pertanyaannya spontan terputus oleh kekagetan. Dia menyangka tadinya Jono yang masuk ke dalam kamar, tapi yang ada sekarang adalah laki-laki gemuk dan agak botak, berumur, mungkin limapuluh atau enampuluh tahunan, terlihat dari kerut wajah dan uban di rambutnya yang tinggal sedikit. Laki-laki itu tersenyum senyum seperti orang gila sambil menelusuri sekujur tubuh Clara dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Siapa Bapak? Dimana teman saya..? Clara bertanya takut-takut sepertinya laki-laki itu akan menelannya hidup-hidup.

Oh.. ya.. laki-laki itu membuka suara. Nama Bapak Jamal, Bapak yang punya rumah ini. katanya dengan lagak sok penting, seolah dirinya semacam penguasa desa. Dan soal teman Neng, jangan kuatir, dia baik-baik saja, malahan dia tadi ada pesan buat Neng, supaya Neng Clara melayani kami dengan baik.

Melayani? Apa Maksud Bapak? Clara merasa merinding mendengar ucapan Pak Jamal yang bernada cabul itu.

Ah.. ya.. Bapak lupa memberitahu Neng sesuatu, Pak Jamal berjalan mendekati Clara, membuat Clara beringsut mundur.

Perlu Neng ketahui, Jono dan orang tuanya sebetulnya punya hutang pada Bapak. Sangat besar, sampai-sampai tidak akan mungkin dibayar oleh mereka Bahkan jika mereka bekerja seumur hidup pada Bapak.

Tapi apa hubungannya dengan saya? tanya Clara bingung.

Itu dia yang paling penting, ujar Pak Jamal datar. Bapak tahu Jono dekat dengan Neng Clara, jadi kami membuat kesepakatan, Jono dan keluarganya saya bebaskan dari hutang, asal dia bisa membawa Neng Clara ke sini.

Clara mulai gemetar memikirkan ucapan Pak Jamal berikutnya sambil berharap dugaannya salah.
Tapi.. apa maksud Bapak menyuruh Jono membawa saya ke sini..? Clara bertanya takut-takut, sekujur tubuhnya merinding meskipun saat itu cuaca tidak terlalu dingin.

Masa perlu diterangkan lagi sih Neng..? Pak Jono tersenyum liar sambil menjilati bibirnya sendiri. Bapak mau Neng Clara jadi piaraan Bapak, soalnya Bapak ingin merasakan gimana rasanya ngentotin cewek kota seperti Neng..

Clara seperti disambar petir mendengar ucapan Pak Jamal yang tanpa tedeng aling-aling itu. Spontan kemarahannya meledak.

TUA BANGKA TIDAK TAHU MALU!! Clara berteriak penuh emosi. Jangan mimpi saya sudi melayani anda!

Oh ya, Neng pasti mau saya entotin, bahkan malah akan memohon-mohon untuk saya entotin, Pak Jamal mengejek sambil tersenyum penuh makna. Neng tahu, saya orang paling kaya di sini, bahkan kepala desapun tunduk pada saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Neng dan semua teman-teman Neng kalau saya perintahkan seluruh penduduk desa untuk menyerang pondokan tempat Neng menginap. Mungkin penduduk desa akan membakar teman-teman Neng hidup-hidup, atau.. bagaimana kira-kira kalau saya perintahkan mereka supaya ditelanjangi terlebih dulu lalu kemudian diperkosa secara bergiliran di tengah lapangan sebelum dibakar hidup-hidup..

Clara terkesiap pucat mendengar ucapan Pak Jamal. Mungkin itu sekedar gertak sambal, tapi mungkin juga tidak, Clara tidak bisa berpikir jernih mendengar ucapan Pak Jamal yang bagaikan teror menggedor hatinya.
Anda.. anda bohong.. tidak mungkin penduduk percaya pada anda.. Clara menukas, meskipun dia sendiri ragu terhadap ucapannya barusan.

Kalau Neng tidak percaya ya terserah Neng, kita lihat saja siapa yang bohong. Desa ini terpencil dan jauh dari mana-mana Neng, tidak ada yang akan memperhatikan kalau rombongan KKN sebanyak itu mati mendadak,
Pak Jamal beranjak pergi meninggalkan Clara yang galau. Clara menyadari sebagian yang diucapkan Pak Jamal benar. Bagaimana kalau Pak Jamal benar-benar menghasut warga untuk menyerang teman-temannya, lagipula
Pak Jamal bisa saja memperkosa dirinya tanpa perlu membeberkan rencananya. Clara benar-benar kalut, pikirannya yang biasanya cemerlang mendadak buntu. Jantungnya seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, kegalauan di hatinya menimbulkan perang batin yang luar biasa, apalagi saat Pak Jamal berjalan meninggalkannya.

Tu.. tunggu Pak Jamal.. Clara berkata parau mencegah langkah Pak Jamal, dia lalu berjalan menyusul Pak Jamal dengan langkah terburu-buru membuatnya nyaris terpeleset jatuh.

Ada apa Neng.. Pak Jamal pura-pura bego. Clara hanya berdiri mematung di hadapan Pak Jamal sampai akhirnya dia berkata.

Sa.. saya mau.. kata Clara lirih.

Mau..? Mau apaan? kembali Pak Jamal bertanya tolol. Clara merasa harga dirinya hancur dengan perlakuan Pak Jamal.

Saya mau melayani Pak Jamal asal Pak Jamal tidak menyakiti teman-teman saya.. kata Clara sambil terisak, sebutir air mata menetes di pipinya.

Wah.. perjanjian batal Neng.. saya yang sekarang tidak mau, ujar Pak Jamal sok jual mahal. Dia lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Clara.

Jangan! Jangan pergi Pak..! Clara mengejar Pak Jamal dan menarik tangannya. Tolong jangan pergi. Saya mau Bapak setubuhi, saya mau Bapak entot sampai Bapak puas, nikmati saya.. nikmati tubuh saya..

Yang benar? Pak Jamal menyeringai puas. Coba ucapkan sekali lagi dengan manis.. sambil memohon tentunya.

Clara kembali tersedu, ucapan Pak Jamal yang tadi didengarnya, bahwa dirinya akan memohon-mohon untuk disetubuhi ternyata menjadi kenyataan.

Saya mohon Pak.. saya mohon, setubuhi saya, entoti saya semau Bapak, saya mau Bapak entoti, buruan Pak, Buruan entoti saya..

Yang sopan dong, masa sambil marah-marah begitu.. kata Pak Jamal mempermainkan dan melecehkan harga diri Clara. Clara merasa sangat terhina sekali, tapi dia tidak kuasa menolaknya, kahirnya dia paksakan diri untuk tersenyum.

Pak Jamal yang baik, saya mohon entotin saya Pak.. ujar Clara, kali ini sambil tersenyum semanis mungkin. Saya sudah kebelet Pak.. Saya mohon.. Entotin saya..

“Ooh Bapak musti bayar berapa buat ngentotin Neng?” tanya Pak Jamal pura-pura,Clara kebingungan sesaat harus menjawab apa, sampai kemudian Clara berujar lirih.

Ehh… gratis Pak.. Bapak nggak usah bayar.. saya sukarela kok, kata Clara akhirnya.

Hehehehe.. gratis ya? Jadi Neng sukarela ya? Bukan paksaan kan? tanya Pak Jamal sambil tertawa pelan.

Eh.. iya Pak.. saya nggak terpaksa.. jawab Clara tertahan.

Sekarang buka bajunya.. Bapak kepingin lihat kayak apa sih pentilnya cewek kota.. perintah Pak Jamal kalem tapi menusuk hati, seolah memerintahkan seorang pelacur murahan saja.

Jangan Pak.. jangan .. Clara kembali terisak. Tapi Pak Jamal memaksanya dengan ancaman mengerikan, mambuat Clara tidak berani menolak lagi. Clara dengan gemetar mulai menjamah bajunya, dilepaskannya kancing-kancing bajunya satu persatu, diiringi tegukan ludah Pak Jamal. Perlahan-lahan tubuh bagian atas Clara tersingkap saat baju itu jatuh ke lantai.

Uoohh.. muluss.. komentar Pak Jamal. Dia menatap liar ke tubuh putih itu. Terutama ke payudara Clara yang mencuat indah dan hanya tertutup BH berenda warna putih. Payudara itu terlihat sangat kencang dan montok, ukurannya terlihat lebih besar ketimbang saat Clara memakai baju. Sementara perut Clara terlihat ramping dan padat dan sangat rata, Clara memang termasuk hobi olah raga sehingga perutnya sangat kencang.

Celananya juga.. celananya juga..

Clara mulai menangis lagi mendengar perintah itu. Dia mulai melepaskan celana panjangnya lalu memelorotkan celana panjang itu. Sepasang paha putih berkilau langsung menjadi pemandangan yang sangat indah. Paha
Clara benar-benar proporsional, tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil, membulat membentuk pinggul yang sempurna berakhir pada pinggang yang ramping. Bagian selangkangannya membentuk sebuah gundukan
yang masih tertutup celana dalam putih berenda-renda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *