Nidar Sahabat Istimewaku

Sebelum aku duduk di perguruan tinggi, aku sudah kenal yang namanya cinta atau sudah pernah pacaran dengan seorang gadis di kampungku. Bahkan karena orangtuaku belum mengizinkan aku main pacar-pacaran ketika itu, sehingga mereka berusaha memisahkan aku dengan pacarku itu, terutama ketika kami bersamaan tamat. Pacarku tamat di SMP dan aku tamat di SMA di ibukota kecamatanku. Waktu itu aku masih ingat, dimana kami telah sepakat untuk melanjutkan pendidikan kami di ibukota propinsi kami (sebut saja kota makassar). Namun setelah orangtuaku tahu rencana kami, mereka justru mengantarku ke ibu kota kabupatenku untuk mendaftar pada salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut, sementara pacarku tetap mendaftar di makassar, sehingga kami betul-betul berpisah dan sulit bertemu lagi.

Singkat cerita, setelah aku lulus dan tinggal di salah satu panti asuhan bersama teman-teman sekampungku, aku merasa terikat sekali, karena semua kegiatan harian kami di tempat itu serba diatur dan dikontrol, sehingga aku sulit bergaul dengan orang-orang di luar asrama, kecuali saat kuliah. Akhirnya aku berusaha kabur dari tempat itu setelah 6 Bulan aku tinggal menderita di tempat itu. Aku lalu numpang di rumah salah seorang keluarga yang kebetulan pimpinan salah satu instansi di kota itu. Namun aku hanya mampu bertahan selama 8 Bulan di rumah itu, sebab perasaanku tidak jauh beda dengan tempatku sebelumnya. Semua serba harus teratur, terkontrol dan harus minta izin jika mau keluar rumah. Bahkan aku merasa terbebani dengan kerja rutin setiap pagi yaitu mencuci pakaian tuan rumah, memasak dan mengasuh beberapa anaknya yang masih kecil-kecil.

Dengan alasan mau lebih konsentrasi belajar dan dipanggil oleh seorang teman mahasiswa untuk tinggal bersama karena sendirian di rumah kostnya, maka aku diizinkan pindah dari rumah itu, meskipun setiap hari minggu aku berusaha untuk tetap datang ke rumahnya membantu. Sekitar satu tahun pertama, aku tinggal kost bersama teman dengan aman, tenang dan lebih konsen belajar, bahkan prestasiku cukup memuaskan. Namun kirimanku sudah mulai tersendat-sendat, apalagi kebutuhanku saat itu semakin besar karena selain uang kuliah, uang rokok, kontrak rumah juga jajan jika aku malas memasak sebab terlambat pulang kuliah. Pikiranku sudah mulai berjalan untuk memperluas pergaulanku, baik dengan tetangga, sesama remaja di lingkunganku maupun sesama teman kuliah agar sewaktu-waktu aku bisa minta tolong dari mereka jika aku mengalami kesulitan selama dalam proses perkuliahanku.

Aku lebih memusatkan perhatianku pada gadis-gadis yang simpatik denganku. Persahabatanku dengan para wanita teman kuliahku cukup luas dan akrab serta tidak sia-sia, sebab mereka tidak jarang membantuku dengan membelikan rokok atau memberikan uang pembeli rokok, bahkan seringkali mentraktirku di warung-warung sehingga aku tidak perlu lagi memasak ketika pulang ke rumah. Aku tidak membeda-bedakan di antara mereka. Kami perlakukan sama, sehingga boleh dibilang hanya sebatas sahabat, karena tujuanku hanya satu yakni mengharapkan bantuan kebutuhanku sehari-hari, apalagi aku sadari bahwa kemampuan orangtuaku untuk membiayai kuliahku sangat terbatas. Sepulang dari tempat kuliah aku juga mencoba menjalin persahabatan dengan gadis-gadis tetanggaku dan bantuan mereka terhadapku juga tidak bisa ternilai besarnya. Kadang aku diantarkan nasi, ikan, kue dan sebagainya.

Selaku pria normal, tentu tidak heran jika di antara mereka ada yang dapat menggaet hati kecilku, meskipun mulanya aku tetap tidak mau menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaianku. Tapi karena hatiku pernah disinggahi raca cinta oleh seorang gadis di kampungku, maka aku tidak mampu mempertahankan sikap mempersamakan itu terus menerus. Apalagi gadis tetanggaku yang satu ini mirip sekali dengan mantan pacarku di kampungku dulu. Wajahnya, bodinya, penampilannya, suaranya dan sikapnya terhadapku sulit sekali aku bedakan dengan mantan pacarku sehingga aku berpikir mungkin Tuhan sengaja mempertemukanku dengannya sebagai ujian bagiku atau pengganti kekecewaanku tempo hari. Sampai-sampai suatu hari aku menanyakan asal usul keluarganya siapa tahu ada hubungan famili dengan mantan pacarku itu, tapi ternyata sama sekali tidak hubungan keluarga apa-apa kecuali sama-sama cucu Adam.

Sikap dan perhatianku terhadap Nida (nama gadis tetanggaku itu) semakin memuncak ketika satu bulan menjelang keberangkatanku ke lokasi KKN. Aku mulai berpikiran macam-macam. Di hatiku aku bertekad akan memperjelas dan mengetahui sejauh mana perhatiannya padaku sebelum aku berangkat KKN, sebab siapa tahu sepulang KKN nanti aku tidak sempat lagi tinggal di rumah kostku itu. Namanya saja rumah kontrakan yang sewaktu-waktu ada orang lain yang melamarnya tinggal di tempat itu selama 2 Bulan aku di lokasi KKN bersama dengan teman kostku itu. Nidar nampaknya juga mempunyai perasaan yang sama, terlihat dari sikapnya yang lebih mendekatiku setelah ia tahu aku akan keluar KKN. Kadang ia bawa makanan di rumah kostku di malam hari, mengajakku jalan-jalan, nonton bioskop dan TV di rumahnya pada malam hari.

Hingga suatu malam, Nidar datang membawa sayur nangka dan ikan bakar ke kostku. Kebetulan aku sedang masuk ke WC yang ada di belakang rumah. Rumah kostku waktu itu terbuat dari kayu dengan dinding yang terbuat dari bambu. Lantainyapun terdiri dari belahan-belahan bambu yang tingginya sekitar satu meter dari tanah, sehingga orang bisa masuk ke kolomnya. Setelah membuang hajat, aku lalu masuk ke kolom rumah untuk mendengar dan melihat dari bawah perbincangan Nidar dengan teman kostku itu. Mereka masih berdiri berhadap-hadapan karena kami tidak mempunyai kursi sama sekali di rumah itu.

Lampu yang kami gunakan untuk belajar setiap malam di rumah kost itu, bukan dari listrik, melainkan lampu sumbu yang terbuat dari kaleng susu, yang terletak menyala di lantai. Aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa melihat pemandangan yang membangkitkan syahwatku malam itu lewat sela-sela lantai belahan bambu. Nidar ternyata tidak pakai CD sama sekali, sehingga terlihat dengan jelas gundukan putih mulus yang belum berbulu di antara kedua pahanya. Kebetulan ia masih muda sekali. Usianya bari sekitar 18 tahun, dengan tinggi badan 165 cm, tubuhnya agak langsing, putih mulus dengan rambut tidak terlalu panjang. Ingin rasanya aku meraba dan mengelus-elus benda kenyal yang tidak jauh dari hidungku itu, sayang sela-sela lantai diatasku terlalu sempit buat tanganku. Aku hanya terpaku menatapnya tanpa berkedip, terutama ketika ia sedikit merenggangkan kedua pahanya, nampak warna merah pada kedua bibir vaginanya.

Aku hanya bisa bernafas terputus-putus melihatnya dengan jelas sekali akibat cahaya lampu yang memancar dari bawah rok warna putih dan agak tipis yang dikenakannya. Entah apa maksudnya ia tidak mengenakan celana malam itu, tapi yang jelas ia nampaknya tetap menungguku masuk ke rumah. Setelah ia melangkah dan bolak balik seolah gelisah menungguku, akupun segera masuk ke rumah dengan memberi salam, lalu ia jawab sambil tersenyum manis padaku.

“Aduh, Kak Aidit dari mana ini? kok buang hajatnya terlalu lama, jangan-jangan mencret-mencret, ada obat di rumah” katanya sambil tertawa kecil dan memandangiku dengan penuh arti.
“Dit, ada sayur dan ikan bakar saya bawa, siapa tahu belum makan, masih panas-panas lagi, makanlah, aku mau pulang dulu” lanjutnya sebelum aku bicara sambil berbaik arah ke pintu mau pulang.

“Dar, duduk dulu, kita bincang-bincang sebentar, siapa tahu kami nanti tidak tinggal lagi di sini setelah balik dari lokasi KKN, jadi nggak apalah kita gunakan kesempatan kita ini untuk ngobrol” kataku mencegah untuk pulang cepat. Ternyata ajakanku dituruti dan duduk di atas tikar sambil ngobrol, sementara kami berdua tetap makan dengan santai.

“Oke deh, jika gitu permintaannya, asalkan Kakak tidak merasa terganggu dengan kehadiranku disini, Kakak ini kan mau belajar” katanya sambil memperbaiki duduknya dengan melipat kedua kakinya ke belakan agar tidak terlihat barang berharganya yang sama sekali tak terbungkus itu.

Sesekali aku mencoba mengarahkan pandanganku kearahnya siapa tahu aku bisa melihat kembali pemandangan indah itu, tapi nampaknya ia sangat hati-hati dalam duduknya. Tak terasa hidangan di depan kami habis kami lahap. Nafsu makanku tiba-tiba besar sekali malam itu karena kami makan dengan didampingi atau ditemani bicara dengan gadis pujaanku.

“Oh yah, orangtuaku minta kamu berdua datang ke rumahku besok malam”, katanya tiba-tiba ketika aku selesai makan.
“Ada perlu apa orangtuamu panggil kami? Ada acara yah? Atau..”, belum saya selesai bicara, ia tiba-tiba memotongnya dengan mengatakan
“Ah, tidak ada acara apa-apa kok, hanya sekedar main-main, ngobrol atau nonton TV, siapa tahu kamu tidak injak lagi rumahku setelah KKN”, katanya dengan penuh harap agar kami jalan-jalan ke rumahnya besok malam. Setelah aku duduk bersilah tidak jauh dari tempat ia duduk, ia buru-buru pamit dengan alasan nanti dicari sama orangtuanya dan dicurigai macam-macam oleh tetangga, apalagi sudah malam, sendiri lagi.
“Okelah kalau gitu, perlu aku antar nggak?” kataku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi ia menolak dengan alasan tidak enak.

Hampir seluruh pikiranku malam itu terpusat pada Nidar, terutama soal barangnya yang indah sekali yang aku lihat dengan jelas tadi. Keesokan harinya, setelah makan malam, aku mengajak teman kostku itu ke rumah Nidar untuk memenuhi undangan orangtuanya, tapi ia tidak bersedia dengan alasan ngantuk dan capek sekali. Dalam hatiku memang itu yang kuharapkan.

“Oh, sedang makan yah? maaf aku mengganggu nih”, teriakku dari luar pintu yang memang tidak tertutup. Entah, mungkin sengaja karena ia menunggu kedatanganku.
“Silahkan masuk Dik, langsung aja makan bareng, kami baru aja mulai. Mana temannya?” katanya berbarengan, bahkan Nidar sempat berdiri sejenak untuk mengajaku makan.
“Silahkan, kami baru aja makan di rumah, biar aku nonton di sini aja. Temanku nggak mau ke sini, capek katanya” sambil kusetel volume TV-nya.

Setelah mereka selesai makan, Nidar lalu mencuci piring dan kedua orangtuanya duduk di sampingku sambil ngobrol, termasuk ia tanyakan soal rencana KKN-ku, bahkan soal-soal rencana tempat tinggalku sekembalinya kami dari lokasi KKN.

“Kalau tidak keberatan Dit, kamu bisa tinggal aja nanti di rumahku setelah kembali dari KKN, kebetulan masih ada satu kamar kosong” tawarannya padaku seolah sangat serius.
“Terima kasih atas kebaikan hatinya. Aku bersyukur sekali ada orang lain yang mau membantuku. Tapi aku belum bisa pastikan, sebab siapa tahu rumah kostku itu masih kosong. Kita lihat aja nanti” jawabku.
“Nggak apa-apa, malah kami senang jika kamu bersedia tinggal di rumahku biar kamu tidak keluarkan biaya kontrakan rumah lagi, lagi pula kamu kan sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri” katanya merayuku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *