Hadiah Perpisahan

Sepuluh milyar, pikirku. Butuh waktu lima tahun, lima tahun tambah dua orang partner dan banyak tipu daya, tapi paling tidak itu berhasil, dan sekarang sudah waktunya kita kabur dari sini. Aku sudah memikirkan ini sejak pertama kali. Kita bertiga bakal ketemu di kantor waktu liburan, jadi tidak ada karyawan lain yang bakalan melihat kita di sini. Dan dari kantor kita ke bandara, dan bertiga langsung terbang ke pulau tempat wanita-wanita cantik kumpul di sana dan dimana pejabat pemerintah lebih bisa di beli dari pada di sini, dan tidak ada perjanjian ekstradisi. Aku melihat jam tanganku, sudah jam 6 sore, masih ada waktu lima jam lagi sebelum kita berangkat ke bandara. Aku tersenyum waktu aku melihat papan nama di mejaku yang besar: Roy Pangestu, Wakil Presiden Direktur.

Sebuah ketukan di pintu kantorku membuat diriku tersadar dari lamunanku. Aku kaget sekali. Seharusnya tidak ada seorangpun di kantor ini, Johan dan Toni mustinya masih ada di bagian akunting membersihkan bukti-bukti supaya pelarian kita ini tidak cepat ketahuan. Aku berdiri dan mendekati pintu.

“Silakan masuk.”

Pintu terbuka, dan seorang gadis muda seperti yang sering ada di cover majalah-majalah masuk ke kantorku, ragu-ragu. Dia benar-benar menakjubkan, berdiri tinggi langsing di atas sepatunya yang tinggi. Sepatunya hitam berkilat dengan hak yang tinggi, menutupi telapak kakinya yang pastinya halus dan indah kalau melihat tungkainya yang terlihat sempurna ditutupi stocking hitam, dan sebuah rok ketat menutupi sebagian pahanya yang tampak mulus. Sebuah blus putih dan rompi hitam tidak bisa menutupi perutnya yang rata, pinggangnya yang ramping dan buah dadanya yang bulat mengacung dari balik blusnya. Leher gadis itu putih bersih, menunjang sebuah wajah yang benar-benar ayu dengan bibir yang sensual. Rambut gadis itu ikal hingga ke punggung, jatuh lembut di sisi kepalanya, mempercantik mata gadis itu yang bulat dan tampak makin bercahaya di bawah sinar lampu kantorku.

“Selamat sore Pak, maaf”, katanya ragu-ragu”, Tapi saya mencari Pak Santoso. Saya sedang kerja praktek di sini dan saya mengira beliau masuk hari ini.”
Aku tampilkan senyumku yang paling oke sambil membalas tatapan matanya.
“Tadi Pak Santoso memang masuk kantor. Tapi beliau sudah pulang lebih awal tadi siang. Silakan duduk dulu.”
Aku menunjuk ke sofa kulit coklat dan mempersilakan dia duduk.
“Mungkin saya bisa bantu Nona?”.

Gadis itu bergerak mendekati sofa itu dan aku mendekati pintu lalu menutupnya, sambil terus tersenyum, pikiranku sudah penuh dengan nafsu. Aku sudah siap lari dari negeri ini, pikiranku sebelumnya cuma dipenuhi bagaimana nanti setelah enam jam, Aku akan bebas dengan duit sebanyak sepuluh milyar, tiba-tiba gadis ini masuk ke kantorku, gadis yang benar-benar hot.

Gadis itu lalu duduk di sofa, menutup kedua kakinya sambil menarik roknya yang terangkat sedikit membuatku bisa melihat pahanya. Dia lalu mengeluarkan sebuah notes dan bolpen dari kantong dalam jaketnya dan memperhatikan padaku yang duduk di sudut meja kecil yang ada di seberangnya.
“Maaf, Bapak..” matanya bertanya-tanya.
“Pangestu, nama saya Roy Pangestu.” Jawabku sambil tersenyum lagi, pikiranku sudah tidak bisa kemana-mana lagi selain melihat ke bibirnya yang sensual, lidahnya yang merah muda yang terlihat menjilat bibirnya setiap kali ia akan bicara. Aku bisa merasakan dadaku berdetak keras sekali ketika aku memperhatikan dia, berdetak makin keras, sementara pikiranku makin gelap, dan aku tahu apa yang akan terjadi, Aku juga sadar aku sudah bisa menguasai nafsuku lagi, lagipula aku tidak bermaksud menahan nafsuku ini.

“Begini Pak Roy, saya bekerja praktek dengan Pak Santoso sebagai income audit di perusahaan ini. Saya bekerja sebagai tugas akhir di akademi saya.”
“Nona dari akademi mana?” kataku, lalu menggelengkan kepalanya”, Maaf, tapi saya belum tahu nama Nona.”
“Nama saya Lola. Lola Amelia.” Katanya sedikit ragu-ragu. Tidak percaya diri.
“Begitu, lalu umur kamu berapa Lola?”.
“Eehh, 21 tahun pak. Dan saya dari Akademi di sebelah perusahaan ini Pak.”

Aku tersenyum padanya. Dia benar-benar sempurna, sempurna sekali. Telapak tanganku mulai berkeringat.
“Lalu apa yang bisa saya bantu buat Lola?” Aku benar-benar suka mendengar namanya di mulutku.
“Selama saya kerja praktek di sini, saya sedikit banyak sudah mengetahui cara kerja perusahaan ini.” Jari-jari Lola menyibakan rambut yang menutupi wajahnya, tingkah lakunya agak berubah, tidak lagi gugup, lebih percaya diri ketika ia berbicara.
“Yang ingin saya ketahui adalah bagaimana rencana perusahaan ini sehubungan dengan peraturan pemerintah yang baru saja dikeluarkan.”

Kepalaku mulai berdenyut-denyut, tapi aku yakin di mata Lola aku tetap seorang laki-laki yang tenang dan rileks, tersenyum sedikit sambil memperhatikannya. Ini selalu terjadi setiap kali aku terangsang, seluruh tubuhku akan berdenyut-denyut, sementara pikiranku akan fokus pada satu hal, sementara hal yang lain akan ditutup sebuah kabut, tubuhku tegang siap untuk meledak. Tapi sebaliknya penampilanku akan tetap tampak tenang, rileks, tersenyum menutupi gejolak yang ada di bawahnya.

Aku sesekali menjawab pertanyaannya, tanpa terlalu memperhatian apa yang kukatakan, melihat dia menundukkan kepalanya untuk menulis kata-kataku, lalu kembali menatapku, dengan wajahnya, dengan bibirnya dan kakinya juga blusnya, blus sialan yang menutupi buah dada dan puting susu, serta perut dan pahanya yang hot! Aku sedikit gemetar ketika aku berusaha menahan diriku beberapa menit lagi.
“Nah kira-kira begitu rencana perusahaan ini”, Aku menyelesaikan penjelasanku.
Lola menganggukan kepala.
“Begitu. Pak Pangestu, bapak bilang ka..”.
“Maaf saya menyela sebentar”, kataku. “Tapi saya ingin menanyakan sesuatu hal. Pak Santoso itu, bagaimana ya..”. Aku menerawang sejenak, “beliau punya sedikit reputasi yang tidak begitu baik di sini”. Lola mengangkat wajahnya dan bertanya-tanya. Aku langsung menatap tepat di matanya yang bulat, wajahku menampakkan raut yang serius setengah mati, “beliau tidak pernah mengganggu kamu kan?”

Lola telihat terkejut sekali, dan aku sama sekali tidak terkejut. Si Santoso itu umurnya hampir 60 tahun, dan kalau dia bukan gay pasti di sudah di kebiri, soalnya dia sama sekali tidak tertarik sama cewek-cewek macam Lola ini. Dan semua sekretaris benar-benar suka sama dia soalnya dia benar-benar baik sama mereka.
“Tidak.” Lola menggelengkan kepalanya. “Beliau tidak pernah mengganggu saya.” Lola kembali gugup seperti sedang mempertahankan diri. Aku benar-benar suka melihatnya.
“Siswi praktek yang terakhir tahun kemarin pergi dari sini karena Pak Santoso mengucapkan sesuatu padanya”, lanjutku, “Dan penampilan siswi itu tidak ada setengahnya dari kamu.”
Aku melihat bibir Lola kembali keluar membasahi bibirnya yang kering, melihat betapa tangannya bergerak gugup di pangkuannya. Aku membungkuk mendekati dia, aku benar-benar hampir lepas kontrol waktu dia beringsut menjauh dariku.
“Beliau sering menyombongkan diri pada saya, kamu tahu, betapa senangnya dia tidur dengan mahasiswi atau anak SMA di sebuah hotel.”

Lalu kantorku kembali sunyi ketika Lola menatapku dengan matanya yang indah, seluruh tubuhnya yang seksi itu sedikit gemetar ketika ia berusaha memilih tindakan selanjutnya. Ia menunduk dan langsung berdiri, memasukan notes dan bolpen ke dalam rompinya.
“Maaf pak”, katanya sambil terus menunduk, “Pak Santoso tidak pernah sekalipun mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang mengganggu saya. Terima kasih atas waktu yang sudah bapak berikan.”

Aku ikutin dia berdiri, tubuhku kelihatan lebih rileks lagi, sementara pikiranku berpacu dan mataku menangkap setiap gerakan Lola yang bergerak menuju pintu denganku di sebelahnya, mulutku mengucapka maaf beribu maaf, Aku bilang bahwa aku menyesal karena sudah membuatnya kaget tapi itu kenyataannya.
“Sekarang!” pikiranku berkata memerintah seluruh badanku ketika aku merasakan pegangan pintu telah kupegang, mata Lola masih tetap menatap ke depan acuh padaku ketika ia berhenti sejenak menungguku membukakan pintu buatnya.

Lola melihat apa yang akan menimpanya, tapi ia tidak bisa menghindar, dia tidak punya waktu buat menghindar. Telapak tanganku sudah melayang menghajar muka Lola di sebelah kiri. Lola tersentak, ia menjerit, ia sempoyongan, lebih banyak karena terkejut daripada karena tamparanku. Aku bergerak mendekatinya bagaikan binatang yang menyergap mangsanya. Lola sempoyongan ke kanan dan sepatunya tertekuk ke dalam membuatnya jatuh di atas lutut kanannya, tangan kanan Lola langsung menumpu tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur. Sambil menggeram aku mengayunkan kaki. Aku menendang tepat di perutnya, membuat tubuh Lola mengejang, suara erangan yang menyakitkan terdengar dari mulut Lola ketika ia kembali jatuh di kedua lututnya, sementara kedua tangan Lola memegangi perutnya, kepala Lola menunduk ketika dia berusaha keras menghirup udara, rambutnya yang ikal menutupi wajahnya sementara air liur yang keluar dari mulutnya membasahi bibirnya yang seksi.

Kujambak rambutnya, tanganku langsung menggenggam erat, ketika kutarik rambut Lola ke belakang mendekati tubuhku, sementara tanganku yang lain menarik bagian atas blusnya.
“Lo mungkin udah selesai sama aku, tapi aku belon selesai sama lo”, kataku keras. Lola yang semakin hot di penglihatanku masih berusaha megap-megap menghirup udara ketika aku menarik blusnya robek, kancing blus itu terlempar ke lantai, membuat bagian yang sejak ditutupi blus itu sekarang terbuka. Dada yang halus, mulus dan putih bersih, buah dada Lola ternyata lebih padat dan besar dari yang sudah aku bayangkan sebelumnya, dilindungi oleh sebuah BH.

Tangan Lola terangkat ke atas mendorong tanganku menjauh ketika aku sedang meremas salah satu gunungan daging di dada Lola, langsung saja kutarik lagi rambutnya. Lola mengerang kesakitan, tatapan panik dan ketakutan tampak di matanya ketika ia menatap mataku.
“Jangan, jangan.”

Aku tampar dia sekali lagi, lebih keras dari yang tadi, suara jeritannya terdengar merdu sekali di telingaku ketika kepalanya terlempar ke samping, sementara tanganku masih menjambak rambutnya yang ikal dan halus.
“Jangan brisik!” Aku tampar dia lagi, jerit kesakitan dan ketakutan Lola bagaikan musik di telingaku, “Tutup mulut lo!”

Terdengar suara di belakangku, dan ketika aku berbalik aku melihat pintu kantorku perlahan terbuka dan masuklah Johan dan Toni ke kantorku. Lola meronta di sampingku, tangannya mencakari lenganku ketika ia berusaha untuk berdiri.
“Tolong saya! Tolong!” Lola menjerit pada Johan dan Toni, harapan mereka akan menolongnya membuatnya lebih tegar. Lola berhasil setengah berdiri ketika aku berbalik menghadapi dia lagi, tinjuku mengepal dan menghantam dadanya, membuat mata Lola membelalak kesakitan dan kembali jatuh berlutut, kemudian tersungkur di atas kedua tangannya, sehingga sekarang ia seperti merangkak di tanah, seorang gadis yang seksi tersungkur di atas tangan dan kakinya, sementara Toni, Johan dan aku berpandangan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *