Malapetaka KKN – Nafsu Sekretraris Desa

Diantara rombongan itu, Alya adalah gadis yang paling pendiam. Sifatnya itu membuat dirinya terlihat begitu anggun dan berwibawa, tanpa terkesan angkuh. Padahal kalau mau jadi angkuhpun orang menganggap hal itu tidak terlalu berlebihan kerena Alya punya semua hal yang bisa dibanggakan.

Alya adalah anak seorang pengusaha kaya, selain itu dia sendiri juga sangat cantik dan menawan. Wajahnya yang bulat telur ditambah hidungnya yang mancung menegaskan kecantikannya yang tidak kalah jika dibandingkan dengan artis sinetron atau fotomodel.

Yang paling disukai dari diri Alya adalah matanya yang sangat bening dan bercahaya dan giginya yang gingsul di sebelah kiri yang jika tersenyum akan menampakkan deretan gigi yang seputih mutiara. Rambutnya yang hitam legam dimodel shaggy sebatas pungung, bisanya selalu dibiarkan tergerai.

Sore itu, Alya terlihat segar setelah mandi. Tubuhnya yang langsing tapi padat setinggi 167 cm terlihat seksi terbalut baju berleher rendah lengan panjang warna biru muda. Kakinya yang sekal terbalut celana jins ketat biru.

Rapi amat, tegur salah satu teman pria satu pondokannya. Mau pergi ke mana?

Alya menoleh sesaat menatap temannya.

Mau ke tempatnya sekretaris desa. Jawab Alya ringan. Soalnya tadi siang aku mau ngambil data di balai desa tapi datanya disimpan sama Sekdes itu.

Kalau gitu kamu bawa kunci nih. Temannya melemparkan sebuah kunci pintu. Soalnya semua juga pada pergi sampai besok. Jadi malam ini kamu sendirian di sini.

Sendiri? Alya keheranan. Kalian pada mau kemana?
Ada urusan ke kota sebentar. Jawab temannya sambil tersenyum. Nggak lama kok. Jadi jangan takut ya tidur sendiri.

Alya mencibir sambil berlalu, diiringi tawa kecil temannya. Dia bergegas pergi sebelum hari menjadi gelap, dia tahu kalau hari sudah gelap akan sulit baginya untuk pulang. Dia berjalan dengan agak tergesa-gesa. Beberapa penduduk yang menyapanya hanya dibalasnya sekilas.

Rumah Sekretaris desa sebenarnya tidak terlalu jauh dari pondokan KKN tempatnya menginap. Tapi rumah itu menjorok ke dalam ditutupi oleh kebun dan pohon yang sangat lebat membuatnya tidak terlihat dari jalan. Apalagi rumah itu juga terpisah agak jauh dari rumah yang lain.

Masuk ke pekarangan tumah itu membuat Alya serasa masuk ke sebuah pemakaman tua. Bau daun lembab terasa begitu kental di sekitarnya.

Saat melangkahkan kakinya di atas tanah yang tertutup daun-daun kering itu sebenarnya perasaan Alya sudah mulai tidak enak. Dalam hatinya dia menyesal kenapa dia harus ke rumah seseram ini seorang diri, tapi Alya juga tidak dapat menyalahkan teman-temannya.

Alya berdiri ragu-ragu di depan rumah itu. Rumah separo kayu separo batu itu terlihat kusam dan tua. Lumut yang tumbuh di tembok-temboknya makin mengesankan kalau rumah itu mirip sekali dengan pemakaman tua seperti yang biasa dilihatnya dlam film-film horor.

Alya mengetuk pintu rumah yang terbuat dari lembaran kayu kokoh itu beberapa saat. Tak berapa lama pintu itu terbuak. Seorang pria tua berdiri di depan Alya. Pria itu bertubuh gemuk dan pendek, jauh lebih pendek dari Alya sehingga terkesan Alya berdiri bersama orang cebol. Kepalanya sudah nyaris botak, hanya sebagian rambut di dekat telinga saja yang masih ada, itupun semuanya sudah memutih. Sebuah kumis sebesar pensil melintang di wajahnya yang gemuk dan berminyak. Dialah Sarta, sekretaris desa.

Neng Alya kan..? kata Pria tua itu mengagetkan Alya yang dari tadi terkesima dengan penampilannya.

Eh.. iya Pak Sarta.. jawab Alya tergagap. Dalam hatinya Alya juga bertanya kenapa tiba-tiba dirinya dilanda kegugupan yang luar biasa. Pak Sarta itu mempersilakan Alya masuk ke rumahnya. Alya tertegun menatap ruang depan tempat sekarang dia dan Pak Sarta duduk. Ruangan itu tidak terlalu besar, didominasi oleh meja dan kursi kayu tua yang sekarang mereka duduki. Tidak ada hiasan apa-apa di dinding rumah sebagian terbuat dari kayu itu, kecuali sebuah tengkorak kerbau besar dengan tanduknya yang sangat panjang melengkung mencuat ke atas.

Maaf ya Neng, rumahnya kotor. Kata Pak Sarta pelan. Soalnya istri sama anak saya pergi ke rumah orang tuanya, sudah seminggu lebih. Jadi saya sendirian di sini.

Alya hanya menjawabnya dengan O pendek karena tidak tahu harus ngomong apa.

Saya sudah siapkan semua Neng. Pak Sarta menunjuk ke tumpukan map dan kertas yang ada di meja. Sesuai dengan permintaan Neng Alya.

Pak Sarta lalu membuka map di depannya satu-persatu dan menyerahkannya pada Alya.

Yang ini data penduduk, yang ini data tanggal kelahirannya, yang ini data kepemilikan harta benda… Pak Sarta memilah-milah kertas yang tadi tersusun rapi sehingga sekarang semuanya bertebaran di atas meja. Keduanya mulai terlibat pembicaraan serius mengenai data-data desa yang ada di meja. Alya mendengarkan setiap penjelasan Pak Sarta dengan serius sambil sesekali menunduk melihat data yang dimaksudkan. Tanpa disadarinya, setiap kali dia menunduk, bajunya yang berleher rendah terjuntai ke bawah membuat sebuah celah lebar yang memungkinkan siapapun yang ada di depannya untuk melihat ke dalamnya.

Pak Sarta tertegun tiap kali menatap apa yang ada di balik baju itu. Sepasang payudara putih mulus yang terbungkus BH warna putih tipis berenda begitu jelas terlihat menggantung seperti buah melon lunak yang siap dimakan. Disengaja atau tidak, gejolak birahi Pak Sarta yang sudah seminggu lebih ditinggal istrinya mudik langsung melonjak tinggi membuat tubuhnya panas dingin dan gemetar. Celakanya, sampai sekian lama dipelototi, Alya tidak juga sadar kalau cara berpakaiannya membuat Pak Sarta blingsatan menahan dorongan seksualnya yang setiap saat siap meledak.

Alya sendiri kemudian mulai memperhatikan kalau pandangan Pak Sarta mulai tidak fokus lagi. Dilihatnya Pak Sarta kelihatan gelisah seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Pak.. Alya menegur pelan. Pak Sarta nggak apa-apa kan?

Untuk beberapa detik Pak Sarta seperti melamun seoah pikirannya berada di tempat lain. Baru setelah Alya mengulangi pertanyaannya agak keras Pak Sarta langsung tersadar.

Eeh.. iya.. A.. apa tadi..? tanyanya gugup menyembunyikan keadaan dirnya yang sesungguhnya.

Bapak nggak sakit kan..? tanya Alya lagi. Dari tadi saya lihat Bapak gelisah sekali.

Eh.. tidak.. um.. yah.. Pak Sarta menjawab kebingungan. Memang.. tadi sih Bapak agak tidak enak badan. Jawabnya berbohong. Sesekali pandangannya melirik ke tubuh Alya.

Wh.. saya jadi nggak enak sudah mengganggu istirahat Bapak. Kata Alya.

Oh.. nggak.. nggak apa-apa kok Neng. Pak Sarta menjawab cepat. Saya senang bisa membantu Neng Alya. Katanya tenang meskipun pada saat yang sama, otaknya mulai sibuk memikirkan sebuah siasat. Maka setelah mambulatkan tekadnya, Pak Sarta berdiri dari duduknya.

Tunggu sebentar ya Neng, Bapak ambilkan minum dulu. Kata Pak Sarta sambil berlalu. Alya sempat mencegah, tapi Pak Sarta sudah terlanjur masuk ke ruangan sebelah dalam.

Hampir sepuluh menit lamanya Pak Sarta di ruangan dalam, terdengar suara berkelontangan seperti benda logam jatuh ke lantai. Pak Sarta kemudian keluar sambil membawa dua buah gelas berisi teh hangat yang masih mengepulkan uapnya.

Jadi ngerepotin nih Pak.. Alya tersenyum malu sambil menerima gelas yang disodorkan padanya.

Ah.. cuma air teh ini.. jawab Pak Sarta sambil tersenyum aneh. Diminum Neng.

Eh.. iya Pak.. kata Alya yang tidak menaruh curiga sedikitpun. Dia memang sebenarnya sudah haus karena obrolan panjang lebar tadi. Diminumnya seteguk air teh dari gelasnya, rasa hangat mengalir di dalam tenggorokannya. Tanpa disadari, Pak Sarta tersenyum memandang setiap gerakan Alya. Alya kemudian minum beberapa teguk lagi membuat isi gelasnya berkurang separuh.

Mereka kemudian meneruskan membahas data-data desa, tapi perlahan Alya mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya. Matanya sekarang mulai menjadi berat sekali, tubuhnyapun mendadak menjadi lemas dan pandangannya mulai mengabur membuat pemandangan yang ada di sekelilingnya menjadi bayangan abu-abu samar. Dalam keadaan itu, Alya sempat melihat Pak Sarta terenyum lebar padanya sebelum akhirnya Alya terkulai pingsan di meja.

Alya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pak Sarta di dalam. Pak Sarta, yang didorong oleh keinginan nafsu liarnya, mencampurkan obat tradisional yang tidak berbau dan berasa ke dalam minuman Alya. Pemandangan payudara Alya yang indah yang dilihatnya lewat kerah baju Alya yang menjuntai membuat dorongan seksualnya bangkit dengan sangat menggebu, hal itu yang membuatnya nekad melaksanakan rencana dadakan yang disusunnya dalam sekejap.

Perlahan Alya membuka matanya, kepalanya masih terasa berat, pandangannya masih kabur, membuatnya tidak bisa melihat dengan begitu jelas. Alya hanya merasa keadaannya sekarang menjadi tidak biasa.

Dia merasa saat ini sedang terbaring terlentang di atas sesuatu alas yang agak keras, semacam kasur tua yang sudah tidak bisa menahan berat badan secara sempurna. Dirasakannya pula posisi tangan dan kakinya seperti terlentang ke empat arah yang berbeda.

Saat kesadarannya pulih sepenuhnya barulah Alya terkejut bukan main. Dia berada dalam sebuah kamar tertutup. Tubuhnya terbaring di atas sebuah ranjang kayu beralas kasur tua dengan posisi tangan dan kaki terpentang ke empat penjuru membuat tubuhnya seperti membentuk sebuah huruf X di atas kasur. Alya mencoba menarik tangan dan kakinya tapi tidak bisa.

Dia baru sadar kalau kaki dan tangannya diikat oleh seutas tali yang ditambatkan pada pingiran ranjang. Tali itu meregang kuat sekali merentangkan tangan dan kakinya sehingga membuat Alya nyaris tidak bisa bergerak. Alya perlahan merasakan hembusan angin seperti membelai langsung pada kulit pahanya. Seketika dia menjerit. Celana panjangnya ternyata sudah lepas dari kakinya. Dia hanya memakai baju longgar dan pakaian dalam.

Alya meronta kuat-kuat mencoba menarik tali yang mengikat tangan dan kakinya, tapi sia-sia, tali itu terlalu kuat untuk tenaganya yang terbatas.
TOLONG! Alya menjerit sekuat tenaga.dengan harapan ada yang akan datang menolongnya.

TOLONG! Alya kembali berteriak sekuatnya sampai tenggorokannya seakan pecah. To…… Sekali ini teriakan Alya berhenti di tengan jalan ketika dilihatnya Pak Sarta masuk ke kamar dan menutup pintunya pelan nyaris tanpa suara.

Eh.. sudah bangun ya Neng.. katanya seolah tidak terjadi apa-apa pada Alya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *