Pada Akhir Tahun

“Pak jangan.., please hentikan, ingat Pak aku ini istri Pak Hendra, atasanmu”, aku menghiba tak berdaya di bawah kekuasaannya.
“Ssstt.., diam.., aku tahu itu.., aku juga tahu apa yang kamu lakukan kalau suamimu keluar kota.., jadi jangan sok suci.., nikmati saja”, katanya perlahan dengan tekanan kata demi kata yang seolah menelanjangiku.
Aku memang bukanlah istri yang setia, aku sering selingkuh di kala suamiku tak ada, tapi itu kulakukan dengan dasar suka sama suka dan bukan dengann pemaksaan seperti ini, ini pemerkosaan namanya.
“Please Pak Edy, suamiku sebentar lagi datang mencariku”, meski masih lemah aku berusaha membujuknya.
“Jangan khawatir, dia pikir kamu masih ada di ruangan pesta dan lagian dia tidak tahu kamu ada dimana karena memang ini bukan kamarmu, tapi kamarku, jadi nggak usah berpikir yang macam macam”, ada nada ancaman di suaranya.

Bibir Pak Edy menyusuri leher jenjangku, dijilatinya telingaku, aku merasa jijik tapi apa dayaku karena memang tidak berdaya. Mataku masih begitu berat dan tenagaku begitu lemah, aku benci akan ketidakberdayaan ini. Aku hanya diam mematung saja menerima penghinaan ini, mataku masih terasa berat untuk dibuka, tapi anehnya kurasakan tubuhku mulai panas menggelora, kubiarkan tangannya menjelajahi sekujur tubuhku dan meremas remas buah dadaku yang masih tertutup gaun merah sutera tanpa bra, aku hanya dapat menggigit bibir dengan mata tertutup menerima perlakuannya.

“Masih kenyal dan padat seperti anak gadis saja”, komentarnya ketika merasakan buah dadaku.
Bibir Pak Edy menyusuri bahu dan berhenti di dadaku, dengan mudahnya dia melepas tali di belakang leherku, kini dadaku terbuka lebar menantang.
“Very beautiful breast”, katanya.
Ia memandanginya sebentar, menciumi lalu mengulumnya, lidahnya dengan liar menari-nari di putingku.

Rasa jijik yang sedari tadi menyelimutiku perlahan berubah menjadi kenikmatan, tubuhku terasa semakin panas menggelora, kuluman dan jilatan di putingku membuatku mulai ikut bergairah, mataku masih terasa berat untuk dibuka tapi gairah yang timbul tak dapat kubendung lagi, sehingga tanpa kusadari aku mulai mendesis nikmat dalam pelukan dan kuluman asisten suamiku. Kombinasi remasan, jilatan dan kulumannya membuatku semakin suka tanpa kusadari.

Entah kenapa, semakin liar dia menggerayangiku semakin nikmat pula rasanya, rasa marahku pun mulai berubah menjadi kenikmatan tersendiri, bahkan ketika tangannya mulai mengusap daerah vaginaku, tanpa bisa kutahan lagi aku ikut menggoyangkan pinggulku, menikmati usapan dan permainan jarinya di selangkanganku. Aku masih memejamkan mata meski mulutku mulai mendesis dan pinggulku mulai bergoyang, sungguh di luar kemauanku, bahkan ketika Pak Edy kembali melumat bibirku akupun membalas lumatannya, saling mengulum.

Sungguh memalukan ketika tanganku mulai membelai dan meremas rambutnya, bahkan aku menjerit nikmat saat lidah Pak Edy menyentuh klitorisku dan kuangkat pantatku ketika dia melepas mini panty-ku, aku yakin dia menikmati “keindahan” vaginaku yang selalu kupelihara rambutnya dengan rapi membentuk sebaris garis tegak. Aku tak tahu kenapa begitu “horny”, apakah karena foreplay tadi sore yang tidak berkelanjutan ataukah ada sebab lain, tapi aku tak sempat berpikir lebih jauh lagi karena jilatan Pak Edy begitu nikmat di vaginaku. Kuangkat pinggulku dan kubuka kakiku lebih lebar, permainan lidahnya makin liar dan makin nikmat apalagi ketika kurasakan jarinya ikut mengocok vaginaku hingga membuatku semakin membumbung tinggi.

Jantungku berdetak semakin kencang saat kurasakan penis Pak Edy menyapu bibir vaginaku, seharusnya aku menjerit marah tapi tanpa bisa kutahan lagi justru kubuka kakiku lebar-lebar, entah mengapa, malahan aku ingin membuka mataku melihat ekspresi kemenangan darinya yang telah berhasil menikmati tubuhku, tapi tetap saja terasa berat, kelopak mataku seakan lengket, aku menahan napas saat kejantanannya menembus liang sempit vaginaku, kurasakan nikmat yang berbeda.

Dia mulai mengocok vaginaku, pelan pelan kejantanannya keluar masuk, kugigit bibirku untuk menahan desah kenikmatanku, tapi tetap tidak berhasil, aku mendesah makin keras, mereguk kenikmatan yang diberikan Pak Edy. Tubuhnya ditelungkupkan di atasku, tanpa dapat kucegah lagi tanganku memeluknya, dan baru kusadari kalau ternyata dia masih berpakaian, ketika tanganku meraba pantatnya yang turun naik mengocokku, ternyata dia tidak melepas celananya, sungguh kurang ajar dia, pikirku.

Kocokannya makin cepat menghunjam vaginaku, di tengah asyiknya mengarungi lautan kenikmatan, tiba tiba kurasakan denyutan hebat dari penisnya dan cairan hangat membasahi liang vaginaku, dia menjerit nikmat dalam orgasme hingga secara refleks aku ikut menjerit karena terkejut. Agak kecewa juga mendapati dia begitu cepat mencapai orgasme, padahal aku menginginkannya lebih lama lagi, dengan kasar dia langsung mencabut kejantanannya dari vaginaku, sesaat kemudian kudengar bunyi resliting ditutup, dia turun dari ranjang dan tak lama kemudian kudengar dia keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Aku merasa terhina dengan perlakuannya itu, tapi apa mau dikata, tubuhku masih lemas meskipun gairahku masih menggelora. Aku berharap suamiku datang mengisi kekosonganku ini, tapi mana mungkin, dia tidak tahu aku dimana, kupaksakan kubuka mataku, tapi pandanganku masih samar dan kabur. Dengan masih tergolek tak berdaya, akhirnya kuputuskan untuk istirahat dulu sambil dengan tak sadar tanganku memainkan klitorisku hingga aku tertidur tanpa ada penyelesaian.

Belum sempat aku tertidur pulas, kurasakan sesuatu kembali menindih tubuhku, kupaksakan untuk membuka mata, meski samar aku masih bisa mengenali wajah itu, yang jelas bukan Pak Edy apalagi suamiku, meski tubuhku masih tidak bertenaga tapi ingatanku masih bisa bekerja meski tidak sebaik biasanya, wajah itu tak asing lagi bagiku, dia adalah salah seorang rekan suamiku di kantor, aku tak tahu namanya tapi dia salah seorang manager di bagian keuangan.

Tentu saja aku ingin berontak tapi tenagaku hilang sama sekali, apalagi dalam tindihan tubuh yang besar, sungguh aku tiada berdaya, bahkan berucap pun lidah terasa berat, hanya bibirku yang bergerak tanpa suara, kecuali hanya desisan. Dengan liarnya dia menciumi pipi dan leherku, sesekali dilumatnya bibirku, anehnya bukannya perasaan muak tapi justru perasaan nikmat yang kurasakan, semakin dia meraba tubuhku semakin nikmat rasanya, aku seperti cacing kepanasan, tak ayal lagi akupun mulai mendesis tanpa bisa kukontrol lagi desisanku, bahkan kubalas lumatan di bibirku, aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku, sungguh memalukan.

Nikmatnya makin tinggi rasanya ketika dia mengulum putingku, menjilatinya dengan liar, tanpa malu akupun mendesis dalam birahi, kuremas rambutnya. Dia berusaha melepas gaunku yang sudah tidak karuan menempel di tubuhku, bukannya marah tapi aku malah mempermudahnya. Kini tubuhku telah telanjang di hadapannya, hilang sudah keanggunan yang kupertontonkan di ruangan pesta tadi, aku tergolek tak berdaya di hadapannya, bahkan kakiku kubuka lebar sambil berharap dia segera melakukannya.

Kurasakan usapan kepala penisnya di vaginaku, dengan sekali dorongan keras meluncurlah penis yang terbungkus kondom itu mengisi liang vaginaku, aku terhenyak kaget akan kekasarannya, tubuhku menggeliat nikmat, cairan sperma Pak Edy yang masih tertinggal di vaginaku memudahkan penisnya sliding dengan cepatnya, kasar dan liar kocokannya sambil tangannya meremas-remas kedua buah dadaku, pinggulku ikut bergoyang mengimbangi irama permainannya, desahan nikmat keluar dari mulutku tanpa bisa kutahan lagi. Mataku tetap terpejam selama dia menyetubuhiku, rasanya masih begitu berat untuk dibuka.

Aku hanya bisa mendesah dalam kenikmatan, dia mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan ke pundaknya, penisnya makin dalam mengisi liang vaginaku, desahanku semakin lepas tanpa bisa kutahan. Cengkeraman di buah dadaku makin kuat dan tak lama kemudian kurasakan denyutan kuat dari spermanya diiringi teriakan orgasme, aku pasrah menikmatinya, padahal tanpa sadar aku masih menginginkan lebih dari itu. Tanpa sepatah katapun dia langsung mencabut keluar penisnya dan turun dari ranjang, kembali aku harus menerima perlakuan yang cukup menghinakan ini.

Tapi semenit kemudian kurasakan dia naik ranjang lagi, diusapnya buah dadaku sambil meremas-remas gemas lalu dijilatinya kedua putingku sebelum akhirnya dia mengulumnya, aku kembali mendesis nikmat. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia memasukkan penisnya tanpa kondom ke vaginaku, aku kaget karena penisnya begitu keras padahal dia baru saja orgasme, sungguh luar biasa, pikirku.

Pelan pelan dia mulai mengocok, terasa nikmat, sepertinya penisnya lebih besar daripada sebelumnya, kali ini lebih nikmat apalagi dengan kocokan yang penuh perasaan, tidak kasar seperti tadi. Aku makin menikmati irama permainannya yang slow but sure, membawa birahiku dengan cepat terbang tinggi, desahan demi desahan keluar dari bibirku, kubalas kuluman bibirnya, terasa lembut dan menggairahkan. Dia memegangi kakiku dan membukanya lebar, dikulumnya jari jari kakiku, aku menggeliat geli dan nikmat, mendesah tanpa kendali, sungguh nikmat, kocokannya makin cepat meski dengan irama tetap. Tiba tiba dia mengocokku cepat sekali lalu dengan cepatnya menarik keluar, kurasakan cairan hangat menyirami perutku diiringi teriakannya, dia kembali mengeluarkan sperma di atasku. Seperti sebelumnya, dengan tanpa suara dia turun dari ranjang, dan kembali aku dibuat heran ketika dia kembali naik ke ranjang tak lama kemudian, what the hell is this?

Ia mengusap seluruh tubuhku dengan selimut atau handuk, aku tak tahu, lalu langsung menindihku, melumat bibirku dengan rakus, sepertinya tubuhnya lebih berat daripada sebelumnya hingga sesak napas aku dibuatnya. Dengan masih belum juga melepas pakaiannya, padahal aku sudah bermandikan keringat. Lidahnya menyusuri leherku dan berhenti di kedua puncak bukit di dada, aku mendesis nikmat untuk kesekian kalinya, dengan tanpa malu aku mendesah dan menggeliat mengungkapkan ekspresi kenikmatan yang kudapat.
“Biarlah, toh dia sudah menikmati tubuhku”, pikirku.
Maka akupun semakin lepas merintih kenikmatan. Penisnya langsung melesak ke dalam vaginaku. Lebih kecil kali ini, hanya beberapa kali kocokan dia sudah menyemburkan spermanya di vaginaku, terasa hangat membanjir, didiamkannya beberapa saat tanpa gerakan hingga keluar dengan sendirinya. Dia turun dari ranjang lalu naik lagi dan langsung memasukkan penisnya.

Aku terkejut, begitu cepat penisnya membesar, kini terasa sesak di vaginaku, suatu perbedaan yang sangat cepat. Penasaran aku dibuatnya, kucoba untuk membuka mataku tapi kelopak mataku masih sangat berat seakan menutup rapat, penis besar itu sliding keluar masuk, ada rasa nyeri dan nikmat bercampur menjadi satu, kocokannya makin lama makin nikmat membawaku ke puncak kenikmatan. Tak dapat dihindari lagi akupun orgasme dalam pelukannya, tubuhku menegang seakan menumpahkan segala hasrat nan membara sedari tadi, tak lama diapun mengikutiku ke puncak kenikmatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *