Pada Akhir Tahun

Denyutannya begitu hebat melanda dinding-dinding vaginaku, dicabutnya keluar untuk menumpahkan tampungan spermanya di kondom ke dada dan perutku, aku hanya bisa diam pasrah tanpa protes mendapat perlakuan seperti ini, dia turun dari ranjang dan kali ini tidak naik lagi. Napasku turun naik mendapatkan percumbuan yang baru terjadi, rasa kantuk hebat melandaku di kesendirian ini, entah apa yang dilakukannya di kamar ini, aku tak peduli, aku hanya ingin tidur sejenak sebelum bergabung kembali dengan suamiku.

Aku masih sempat melayani nafsunya beberapa kali lagi sebelum akhirnya dia benar benar membiarkanku sendiri terlelap dalam tidurku.
“Nggak usah khawatir, obatnya bisa bertahan sampai pagi kalau tidak diberikan obat anti-nya”, sayup-sayup masih kudengar orang berkata entah pada siapa dan apa maksudnya, tapi aku keburu benar-benar terlelap.
Aku terbangun ketika kurasakan percikan air di mukaku, kubuka mataku yang sudah tidak seberat tadi meski masih juga terasa berat. Pak Edy duduk di sampingku dengan senyumannya yang menawan seakan tak pernah terjadi apapun. Dia menutupi tubuh telanjangku dengan handuk.
“Minumlah ini biar segar”, dia memberiku secangkir teh hangat yang aromanya keras menusuk. Benar saja badanku terasa lebih segar setelah minum, rasa hangat menjalar ke sekujur tubuhku.
“Sana bersihkan tubuhmu, lalu kita turun”, katanya sopan, meski tanpa sebutan Ibu lagi, sungguh berbeda dari sebelumnya.

Kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa sperma, kusiram dengan air hangat hingga badanku terasa fresh lagi. Dengan hanya berbalut handuk aku keluar kamar mandi. Tak kusangka ternyata Pak Edy sudah menungguku di ranjang dalam keadaan telanjang, aku berdiri bengong mematung melihatnya.
“Tapi..”, aku berusaha mengelak karena vaginaku masih terasa panas. Entah berapa kali aku tadi disetubuhinya.
“Aku ingin melakukannya dengan suasana yang lain, lagian kita masih punya waktu setengah jam lebih sebelum tengah malam”, katanya sambil menepuk nepuk bantal di sebelahnya.

Akhirnya “terpaksa” aku menuruti keinginan asisten suamiku itu untuk melampiaskan nafsu birahinya pada istri atasannya. Kami bercinta dengan penuh nafsu seperti sepasang kekasih yang dimabuk birahi, tak kusangka dia seorang pemain cinta yang hebat. Kami bercinta dengan berbagai posisi, hampir kewalahan aku melayaninya, nafsunya sungguh besar dan pintar mengatur ritme permainan, dia begitu mengerti liku-liku daerah erotis wanita, aku benar-benar merasa puas dibuatnya.

Kami orgasme bersamaan, dia membanjiri vaginaku tepat ketika kembang api meletus di udara menandai pergantian tahun.
“Happy New Year”, ucapnya sambil mengecup kening dan bibirku.
Kami masih telanjang dan saling berpelukan, kubalas dengan mesra kecupan di bibirnya.
“Ayo, kita harus segera bergabung dengan mereka sebelum suamiku sadar akan ketidak hadiranku”, kataku mendorongnya turun dari tubuhku.
Segera kukenakan kembali gaun merahku, tak kutemukan mini panty yang tadi kukenakan, akhirnya kuputuskan untuk segera berlalu tanpa panty ke pesta. Kurapikan pakaian, make up dan rambutku untuk bersiap turun. Tiba tiba Pak Edy memelukku dari belakang.
“Let’s do it again quickly”, bisiknya.

Aku ingin menolaknya tapi aku juga ingin menikmatinya sekali lagi. Dia mendudukkanku di meja, disingkapkannya gaunku hingga ke perut, vaginaku terbuka menantang, dengan hanya membuka resliting celananya dia melesakkan kembali penisnya ke vaginaku, mengocok dengan cepatnya sambil meremas buah dadaku, aku mendesis seperti yang kulakukan sebelumnya, dan kamipun kembali orgasme bersama. Dia menciumku mesra. Kembali kurapikan penampilanku sebelum kami keluar kamar sendiri-sendiri, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Entah sudah berapa lama aku berada di kamar itu.

Suasana ballroom sudah sangat berbeda dari waktu kutinggal tadi. Susunan kursi sudah berubah semua, hal itu biasa terjadi saat pesta berlangsung. Kucari-cari suamiku tapi tidak kutemukan. Beberapa pasang mata melihatku dengan pandangan yang menelanjangiku, tapi aku tetap percaya diri dengan penampilanku, meski tanpa underwear. Akhirnya kutemukan suamiku di pojok ruangan, mengenakan topi kerucut tahun baru dan memegang terompet, dia terlihat begitu bahagia.

“Selamat Tahun Baru, Sayang”, ucapnya sambil mengecup bibirku yang kubalas dengan kecupan mesra.
Sepertinya dia masih tidak sadar kalau aku sempat menghilang. Kulihat Pak Edy menghampiri kami dan mengucapkan hal yang sama, seakan tak pernah terjadi apapun di antara kami. Akhirnya the party is over, para panitia berbaris di depan pintu menerima ucapan selamat dari para undangan, sekalian berpamitan pulang. Kulihat wajah-wajah yang kukenal, tapi lebih banyak tidak kukenal, di antaranya adalah orang yang tadi menyetubuhiku “berulang-ulang”.

“You have wonderful wife”, katanya pada suamiku.
“Thanks Pak Kris”, jawab suamiku sambil memelukku tanpa tahu apa maksudnya.
“Selamat Tahun Baru Pak Hendra, Anda beruntung punya istri seperti dia”, ucap orang lain lagi yang tidak kukenal.
“Sama sama, terima kasih Pak Dwi”, jawab suamiku bangga.
“Happy New Year, istri anda sungguh luar biasa, thank telah memberiku kesempatan” orang asing lagi yang memujiku, padahal aku merasa pernah bertemu dengannya.
“Sama-sama, anda bisa saja”, balas suamiku.
“Rupanya kamu punya banyak penggemar”, bisik suamiku sambil menyalami tamu lainnya yang berpamitan pulang.
“Habis Papa ninggalin aku, jadi kuterima saja ajakan dance setiap orang, Papa nggak marah kan”, jawabku berbohong sambil mencubit lengannya.
“Nggak apa, asal kamu menikmatinya”, jawab suamiku polos.

Akhirnya kami kembali ke kamar pukul 1:30 dini hari, dengan menyesal aku menolak keinginan suamiku untuk melanjutkan foreplay tadi sore karena vaginaku masih terasa memar dan nyeri, dan kamipun tertidur dengan kenangan melepas tahun pergantian tahun yang berbeda.

Belakangan aku diberi tahu Pak Edy kalau yang menyetubuhiku “berulang-ulang” itu sebenarnya bukanlah satu orang, tapi beberapa orang, paling tidak 3 orang rekan seclub golf, yang lain dia tidak mengenalnya. Dia tidak mau menyebutkan jumlah pastinya, apalagi nama-nama orangnya. Ini membuatku penasaran sampai sekarang. Sungguh kelewatan kalau aku tidak tahu orang yang telah menikmati tubuhku. Jangankan namanya, wajahnya saja aku tidak tahu kecuali Pak Edy dan yang disebut suamiku Pak Kris tadi. Dia tidak pernah membenarkan atau membantah kecurigaanku bahwa obat yang dia sebut Panadol itu sebenarnya adalah obat perangsang.

Tamat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *