Para Pemerkosa yang Brutal

John melakukannya sambil berjalan dan tertawa-tawa, sehingga ciciku ikut terseret kemana ia melangkah. Setelah puas mengocok ciciku dengan posisi itu, John lalu mengangkat pinggul ciciku naik hingga ke dada. Tubuh ciciku kembali terangkat dengan kepala di bawah, sehingga batang kemaluan John membentur-bentur punggung mulus ciciku. John yang mempunyai tenaga besar itu kembali menaikkan pinggul ciciku hingga kemaluan ciciku terhidang di depan mulutnya, dengan rakus ia melumat habis kemaluan ciciku dengan mulutnya. Kemudian ia memutar tubuh ciciku sehingga kini wajah ciciku ditampar-tampar oleh batang kemaluannya yang besar dan sangat keras. John kembali melumat kemaluan ciciku dengan penuh nafsu, jari-jari tangannya juga menyodok-nyodok anus ciciku yang masih terjuntai pingsan, dengan posisi ini akhirnya John berejakulasi, spermanya dengan deras membanjiri wajah ciciku hingga ke rambut, dan menetes-netes ke lantai papan.

Setelah itu kembali ciciku digilir oleh teman-teman John yang lain, tidak perduli ciciku telah pingsan dan tidak dapat bangun lagi walaupun ditampar dengan kuat dan disiram dengan air. Setelah puas, mereka lalu mencampakkan kami ke lantai, menunggu ciciku sadar kembali, lalu mereka beramai-ramai mengelilingi kami dan mengencingi tubuh kami, bahkan aku dipaksa minum air kencing mereka, sementara John memaksa ciciku mengulum batang kemaluannya, lalu ia mengencingi ciciku dengan cara seperti itu dan memerintahkan ciciku menelan semua air kencingnya.

Akhirnya setelah puas lalu mereka menyekap kami, memberi sedikit makan dan minum dan baru melepas kami pada saat tengah malam tanpa memberi kami pakaian, terpaksa kami berjalan kaki tertatih-tatih pulang ke rumah kontrakanku yang berjarak sekitar 200 meter dari situ dengan keadaan telanjang bulat. Kami mengendap-ngendap hingga akhirnya sampai, kami merasa lega, rahasia ini tetap kami pendam, selain mereka mengancam jika melapor polisi maka kami akan dibunuh, kami juga malu menceritakan pengalaman pahit ini. Yang penting kami telah lepas dari mimpi buruk itu, sehari setelah kejadian itu aku langsung pindah rumah kontrakan ke tempat yang lebih jauh dan kami merasa bebas dari bajingan-bajingan itu. Namun ternyata kami salah mengira, kejadian malam itu barulah awalnya, karena kejadian yang akan menimpa ciciku kemudian jauh lebih brutal lagi.

Jam telah menunjukkan pukul 10 pagi kurang 3 menit, aku terikat erat dalam keadaan babak belur dan telanjang bulat di sebuah kursi, saat itu aku sedang berada di sebuah gudang yang besar, di sekelilingku segerombolan pemuda berandalan tampak sedang berkumpul, kuhitung jumlah mereka semua ada 38 orang, rata-rata berusia sekitar 25 tahun dan tampak seperti pengangguran, beberapa di antaranya bahkan masih mengenakan seragam SMA.

Sudah semalaman aku terikat di kursi ini, masih membekas kejadian tadi malam saat seseorang mengetuk pintu rumah kontrakanku, aku membukanya dan alangkah terkejutnya karena tamu tak diundang itu adalah John, pria besar yang bersama-sama kawanannya memperkosa ciciku dua minggu yang lalu, tentu saja kedatangannya tidak bermaksud baik, aku langsung hendak menutup pintu tapi John langsung meninjuku, aku tak berdaya menghadapinya, dan babak belur dihajar olehnya, ia lalu mengobrak-abrik rumah untuk mencari ciciku, untunglah ciciku kebetulan sedang menginap di rumah teman, kemudian aku diseret keluar dimana sebuah mobil telah menunggu, mobil tersebut langsung meluncur menuju gudang ini, di sini aku ditelanjangi hingga bugil dan dihajar oleh mereka, tidak ada saksi mata yang melihat, sebelum meninggalkan rumah, John menuliskan besar-besar alamat gudang ini dan sebuah surat yang ditujukan untuk ciciku:
“Datang ke alamat ini pada pukul 10 pagi! atau adik elo bakal gua kirim ke elo dalam keadaan tercincang-cincang! Jangan lapor polisi, adik elo nggak bakal selamat kalo polisi tau! Datang dengan taksi ke daerah ini, ada sebuah gudang tua berwarna coklat, masuk ke dalam dan elo dan adik elo bakalan masih tetap hidup! Elo musti pakai kutang dan celana dalam doang saat masuk gudang itu, jangan lupa satu tali kutang elo diturunin! lepaskan baju elo di luar dan masukkan ke dalam tong sampah! Kalo tidak tanggung sendiri akibatnya..!”

Aku meneguk ludah, berharap ciciku tidak akan datang, dan melapor pada polisi, dan harapanku itu tampaknya terkabul karena hingga jam 10 lewat 10 menit tidak ada tanda-tanda kedatangan ciciku. Biarpun aku takut menghadapi mereka, tapi aku berharap mereka tidak akan membunuhku karena tidak ada gunanya bagi mereka.

Tiba-tiba aku terkejut mendengar suara pintu gudang mendecit karena dibuka oleh seseorang, semua mata tertuju pada pintu itu, aku berharap itu adalah polisi, tetapi yang kulihat sungguh membuatku kaget, ciciku masuk sendirian dengan tubuh gemetar karena ketakutan, ciciku hanya mengenakan BH dan celana dalam berwarna pink sehingga lekuk tubuhnya yang indah dan putih mulus terlihat jelas, apalagi tampak tali BH sebelah kanan ciciku telah diturunkan sesuai dengan perintah John, ciciku tersentak kaget melihat begitu banyak gerombolan berandalan itu, ia menjerit dan dari sudut matanya mengalir air mata saat melihatku yang terikat bugil dan babak belur, ciciku berdiri mematung dan menggigit bibirnya dengan tabah, sementara semua berandalan itu menatap tubuh ciciku yang indah sambil meneguk ludah, John yang pertama membuka suara, “Hahaha.. kita ketemu lagi, dan pesta kita pasti lebih meriah sekarang! kalo elo nurutin kita, elo bakalan ikut enjoy! sekarang tutup pintu itu dan mendekat kemari, kita semua mau liat body kamu yang seksi itu!”

Ciciku menutup pintu, lalu mendekat dengan takut-takut dan tubuh yang semakin gemetaran, para berandalan itu mengelilinginya sambil bersuit-suit melihat tubuh ciciku sambil berkomentar, “Benar juga John, cewek ini pasti lezat buangeet! Hahaha..”
“Wah.. ternyata dia benar-benar sayang saudara ya? hahaha..” gumam teman-teman John.
“Bukan gitu.. dia ke sini memang pingin diperkosa, tuh buktinya dia datang cuma pakai kutang sama celdam! udah gitu BH-nya juga sudah mau terlepas tuh, toketnya nggak sabar pingin dipijit rupanya! Haha.. ” timpal John sambil tertawa.
“Sekarang elo harus pemanasan, ayo lompat-lompat di tempat dan jangan berhenti sampai gua suruh!” John membentak ciciku dan mengeluarkan sebilah belati.
“Ini nggak bakalan gua pakai kecuali elo nggak nurut!”

Ciciku mulai menangis tersedu-sedu, tapi ia menuruti perintah John dan mulai melompat-lompat kecil di tempat, sehingga buah dadanya yang padat dan masih tertutup BH tampak terhentak-hentak. “Lompat lebih tinggi supaya tetek elo itu lebih sexy goyangnya!” kata John sambil tertawa, ciciku menurutinya dan buah dadanya terguncang-guncang semakin kuat, sehingga posisi BH-nya semakin turun dan puting susu kanannya samar-samar mulai terlihat. “Wah.. susunya minta keluar tuh!” gumam para berandalan itu.

John lalu mendekat, tangannya memegang tali kutang ciciku yang masih melompat-lompat, dengan sekali renggut BH itu terlepas dari tubuh ciciku, ciciku terjatuh ke lantai papan karena tubuhnya tertarik, ia tersungkur dalam keadaan telanjang dada, buah dadanya tampak tergantung indah, padat berisi dan sangat ranum. John dengan tidak sabar merenggut celana dalam ciciku, sehingga ciciku jatuh terduduk dalam keadaan telanjang bulat, John memerintahkan ciciku berdiri, lalu John meremas-remas bongkahan pantat ciciku yang kenyal, tampak garis vertikal kemaluan ciciku yang sedikit membukit, kemaluan ciciku tampak mulus tanpa rambut sehelai pun, rupanya setelah diperkosa dua minggu lalu, ciciku lalu mencukur rambut kemaluannya.

“Wahh.. memeknya botak hahaha.. bagus.. sebelum ke sini dia sudah siap-siap bersihin memeknya!” kawanan itu tertawa dan mengejek ciciku. John lalu berkata pada kawanan gerombolan itu, “Ingat, entar kita garap gantian, satu-satu sesuai nomor yang tadi elo dapat! Yang dapat nomor terakhir nggak usah nyesal, gua yakin cewek ini masih kuat biar dientot sampai besok pagi! Sekarang gue duluan! gua mau nikmati cewek ini di udara terbuka! Elo tunggu saja di sini, kalo keluar semua nanti ada yang lihat!”

John lalu menggandeng ciciku keluar, di luar gudang ini memang sepi dan hanya sesekali ada mobil lewat. John membawa keluar ciciku sambil tertawa-tawa sementara yang lain menunggu. Setelah beberapa menit menunggu, tiba-tiba dari luar terdengar jeritan ciciku, “Akkhh.. Ohh! Akkhh..!” aku merasa John mulai memperkosa ciciku dengan ganas seperti yang dilakukannya tempo hari. Jeritan itu terus terdengar sayup-sayup dan semakin lama semakin lemah, hingga akhirnya hilang. Aku menunggu dengan berdebar-debar sementara kawanan bajingan di dalam gudang tampak ikut menunggu dengan tidak sabar, dan hanya dapat meneguk ludah sambil membayangkan dapat segera menyetubuhi ciciku.

Setelah 30 menit, John muncul dengan bertelanjang bulat, sambil mengangkat ciciku yang memeluk leher John agar tidak jatuh ke belakang karena John hanya memegangi pantat ciciku dengan kuat, posisi yang sama ini juga dilakukan John saat memperkosa ciciku dua minggu lalu, tampak kemaluan John masih menyodok-nyodok dengan brutal liang kemaluan ciciku sambil berjalan, menyebabkan tubuh ciciku terguncang dan ciciku merintih-rintih dengan suara parau. Di hadapanku dan gerombolan bajingan itu, John terus memompa ciciku, tiba-tiba tampak tubuh ciciku bergetar hebat dan tubuhnya menggelinjang, kaki ciciku terangkat dan tampak otot paha dan betisnya mengencang tegang sambil dari mulut ciciku terdengar suara, “Ohh..” yang panjang, ciciku mengalami orgasme yang hebat di pelukan John, si John terbahak-bahak saat tubuh ciciku tampak lemas setelah orgasme, John mengejekku, “Dulu elo liat kakak elo ini sampai pingsan gue entot, gue berani tarohan kakak elo ini nggak lebih kuat dibanding dulu!” John terus mengocok dengan brutal, dan benar saja, pelukan ciciku pada leher John terlepas dan kembali kejadian dua minggu lalu terulang, tubuh ciciku terjuntai jatuh, namun John masih terus menyodok kuat batang kemaluannya ke dalam liang senggama ciciku, dengan kejam ia terus mengsenggamai ciciku yang telah jatuh pingsan.

Akhirnya John orgasme, dan menumpahkan banyak sperma ke atas wajah dan payudara ciciku, sehingga wajah ciciku mandi sperma. Ia tertawa puas, “Hahaha.. enak buanget ini cewek..!” Kemudian anak buah John mengambil 4 buah gelas berukuran cukup besar, mereka rupanya ingin mengumpulkan sperma mereka ke dalam gelas-gelas tersebut, entah untuk tujuan apa. Perkosaan itu terus berlanjut dengan brutal, kini tangan ciciku diikat di atas sebuah palang yang dapat diatur tingginya, lelaki yang mendapat giliran memperkosa ciciku mengatur tinggi palang sehingga posisi liang kemaluan ciciku tepat berada di depan kemaluannya, karena tubuh lelaki itu yang cukup tinggi, maka kaki ciciku tidak menyentuh lantai dan terpaksa tergantung dengan tangan terikat ke atas, ciciku tersadar dan menangis menahan perih pada tangannya, sementara lelaki itu mengangkat paha kanan ciciku dan mulai memasukkan batang kemaluannya yang besar dan panjang ke dalam liang kemaluan ciciku, dan mulailah ia mengocok ciciku tanpa ampun sambil tangan kanannya memegangi paha ciciku agar tetap terangkat, tangan kirinya dengan buas meremas dan memijat kedua buah dada ciciku bergantian, puting susu ciciku sesekali dicubit dengan keras, ciciku hanya dapat merintih-rintih dengan lemah, setelah puas dengan posisi itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *