Pemerkosaan Dian

“Ohkk..”

Dian terdongak merintih ngilu, antara rasa nikmat, marah dan malu menguasai dirinya ketika kedua tangan Romi mencengkeram pantatnya, membuka lebar vaginanya kemudian menjilatinya dengan bernafsu. Nafas Dian terengah-engah tak terkendali mencoba menahan dirinya agar tidak terangsang.

Romi berdiri kemudian membuka baju dan celananya, hingga pakaian dalamnya, kemudian memegang penisnya yang panjang dan besar.

“Isep Dian, ayo. Kalau tidak ingin dikasari.”

Dian terpaksa berlutut dihadapan Romi, kemudian mulai menjilati batang penis Romi. Dian memejamkan matanya kemudian mulai mengocok Romi dengan mulut dan lidahnya. Romi menjambak Dian kemudian menggerakan kepala Dian maju mundur, menyetubuhi mulutnya. Suara berdecak-decak terdengar jelas disela deras air hujan. Dian berusaha semampunya agar Romi puas dan berhenti, ia menjilat, mengulum, mengocok sebisanya, mengingat film-film BF yang pernah dilihatnya. Romi mengerang-erang nikmat, tubuhnya sampai tersandar ke meja dapur,
“Ahh. Ohh. Diann. Kau memang seksi dan pintar.. Ohh..”

Tiba-tiba Romi menarik tubuh Dian kemudian mendudukkannya di atas meja pantry. Dian hanya diam sambil terengah-engah ketika Romi mengangkangkan kedua pahanya kemudian mulai menekan pinggulnya. Dian meringis ngilu ketika penis Romi yang keras dan besar itu menerobos vaginanya. Romi mulai menyetubuhi Dian, memperkosanya dengan bertubi-tubi. Dian hanya mendengus-dengus menahan diri. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan kencang. Peluh membasahi tubuh mereka berdua. Dian memejamkan matanya berharap Romi selesai, sementara lelaki itu terus menyentak-nyentak, mengeluar masukkan rudalnya ke dalam tubuh Dian yang padat dan langsing.

Dian terperanjat ketika membuka matanya, Ada lima lelaki bertubuh besar telanjang bulat di dapur itu! Ternyata Romi membawa teman-temannya dan mereka menunggu di mobil.

” Apa-apaan ini, Romi!!” Dian berontak melepaskan diri.

Tapi ia tersudut disudut ruangan. Keenam lelaki itu mengepungnya.

“Sudahlah Dian. Kalau kau njerit tidak ada yang denger jugo. Paling ponakan kau tula. Pintu depan la kami kunci, lampu la kami matike. Kau pasti dikiro sudah tidur.. He.. He. Nurut bela.., aku janji tidak kasar, entah kawan-kawan akuni..!”

Romi dan kelima temannya menyeringai bernafsu. Tubuh Dian lemas, ia tak dapat melakukan apa-apa lagi selain pasrah. Tangannya ditarik ketengah ruangan, kemudian disuruh berjongkok.

“Ayo! Sedot punyo kami sikok-sikok!”

Enam batang penis disodorkan diwajah Dian. Dan sambil menangis Dian terpaksa mulai meng’karaoke’nya bergantian.

“Ohh.. Hebat nian Romi, betino kauni!!”
“Akhh. Aku.. Nak. Keluarr..”
Srett.. Srrtt..
Kepala Dian dipegangi beramai-ramai sehingga ia terpaksa menelan sperma mereka satu demi satu.
“Kato kau segalo lubang Dian ni biso dipakek?”
“Iyo! Ayo kito juburi rame-rame..!!”

Dian menangis mendengarnya, “Jangann.. Ampun.. Sakit..”

Dengan cepat mereka menarik tubuh Dian dan menengkurapkannya di lantai. Kelima lelaki itu mengeroyoknya, ada yang memegangi tangannya, menahan kakinya dan menunggingkan pantatnya, ada yang menahan kepalanya hingga Dian benar-benar tak dapat bergerak. Salah seorang dari mereka mengambil botol minyak goreng di dekat kompor.

“Kami baik kok, Dian, biar tidak sakit, kami minyaki dulu.”

Yang lain tertawa tawa, Dian dapat merasakan minyak goreng itu dituangkan dibelahan pantatnya, kemudian terasa jari jemari mereka mengusap-ngusap pantatnya, membukai lubang anusnya kemudian menusuk-nusuknya beramai-ramai. Dian menangis dan merintih nyeri ketika lubang anusnya dibuka paksa oleh jari-jari itu. Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Dian tepat dibelahan pantatnya. Dian hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak masuk ke duburnya.

Dian mulai disodomi dilantai dapur itu. Sebuah penis disodorkan diwajahnya.

“Isep dulu Dian, kalau tidak kami sodomi serempak tigo!!”

Dian terpaksa mulai megulum-ngulum penis lelaki yang berlutut dihadapannya. Sementara lelaki yang dengan kasar menyodominya terus menyentak-nyentak. Dian melihat sekilas salah seorang dari mereka mengambil sebuah terong panjang besar berwarna ungu dari kulkas. Tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang dingin dan keras menerobos vaginanya.

“Nghh..!!”

Dian hanya mampu melenguh perih karena mulutnya terbungkam. Seorang lelaki mengeluar masukkan terong itu ke vaginanya sementara duburnya disodomi.

“Biar tepakek galo lubangnyo!!”

Mereka tertawa-tawa puas. Tiba-tiba lelaki yang sedang menyodominya mengerang dan menyodok dengan keras. Dian dapat merasakan cairan sperma yang hangat tumpah di anusnya. Kemudian rekannya segera mengambil alih posisinya menyodomi Dian. Tiba tiba lelaki yang dari tadi di’karaoke’ oleh Dian berbaring terlentang, dengan isyarat ia me mi nta teman-temannya menarik Dian ke atas tubuhnya. Kemudian menarik tubuh Dian hingga penisnya masuk ke vagina gadis itu. Bless.

“Aarhh..!!” Dian mengerang kesakitan, sebelum sebuah penis lagi maenyumbat mulutnya.

Dian kembali diperkosa tiga orang sekaligus. Payudaranya diremas-remas dengan kasar hingga Dian merasakan sakit bukan hanya dari dubur dan vaginanya yang dikocok paksa tapi juga dari buah-dadanya yang dipilin dan diremas dengan kasar. Tiba-tiba kedua tangannya ditarik kemudian dilumuri minyak sayur. Kemudian dipegangkan pada penis dua lelaki lain. Dian tertelungkup, dipeluk erat dari bawah, sementara vaginanya dipompa dengan kasar, seorang lagi menyodominya seperti binatang, seorang lagi memaksanya menghisap penisnya, menyetubuhi mulut Dian dengan menjambak rambutnya, sedangkan dua lagi minta dikocok dengan kedua tangan Dian.

Dan setiap salah seorang mencapai kepuasan, yang lain segera menggantikan posisinya, hingga pagi menjelang. Matahari mulai muncul ketika Romi menyentak-nyentak dubur Dian dengan keras dan

“Oohh..”

Ia menyemburkan spermanya dipantat Dian. Dian pingsan. Ia tertelungkup telanjang bulat diatas lantai. Sperma berlepotan di perut, punggung dan wajahnya.

Mereka tidak sadar jendela terbuka dengan lampu menyala. Beberapa pemuda di rumah sebelah menyaksikan semuanya. Bahkan mereka memfoto dan memfilmkan kejadian itu. Bahkan dengan aneh, Romi membiarkan pintu dapur terbuka ketika pulang.

Keenam pemuda berandal itu segera bergegas ke rumah Dian. Dian baru saja sadar. Dubur dan vaginanya perih. Ia tertelungkup di lantai dapurnya, telanjang. Sperma kering berceceran di sekujur tubuhnya. Ia tersentak ketika lampu blits menyala. Betapa terkejut Dian melihat enam pemuda tetangganya berdiri mengelilinginya, sibuk memfoto tubuh telanjangnya sambil menyeringai.

“Kami liat galo Dian.”

Mereka tersenyum mesum sambil menatap tubuh Dian.

“Ternyata kau biso dipeke jugo..”

Dian menangis tak berdaya ketika mereka membopong tubuhnya ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih lemas. Dengan mudah tubuhnya ditelungkupkan diatas ranjangnya.

“Jangann. Gek ponakan aku bangun.. Jangan..” Dian menangis tak berdaya.

Ia tahu mereka tak segan-segan menyebarkan fotonya. Jika itu terjadi entah bagaimana nasibnya di kampung itu.

“Diem Dian, gek kami jago supayo mereka dak masuk. Sekarang nurut bae..”

Seseorang dari keenam pemuda itu membuka ccelananya. Mengangkat pantat Dian. Kemudian mulai menyodomi anus Dian.

“Uhh uhh! Uhh!” seperti binatang ia mulai menyentak-nyentak dubur gadis itu.

Wajah Dian terbenam diatas kasur, meringis dan menangis tak berdaya, sementara kelima pemuda lain telah membuka celana masing-masing sambil mengocok kemaluannya memperhatikan Dian yang terengah engah tak berdaya. Anusnya perih dan kesat. Hingga tiba-tiba pemuda itu menekan keras. Dian menggigit seprei menahan sakit. Sperma pemuda itu muncrat mengisi anus Dian, bertubi tubi.

“Aaahh.. Alangkah enaknyoo.”

Ia terkulai lemas. Menarik penisnya dari anus Dian. Begitu pemuda pertama selesai, yang kedua segera mengganti posisinya. Menyodomi Dian dengan brutal. Dian hanya bisa melolong tertahan. Tertelungkup sambil menggigit sepreinya kencang. Keenam pemuda itu menggilir Dian di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, Dian tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya.

Mereka berenam tertawa. Dian lemas ketika dilentangkan. Kemudian lelaki yang selesai meyodominya tiba-tiba duduk didada Dian,

“Ayo suruh ngisep taiknyo dewek!” penisnya yang berlumuran kotoran Dian yang kental kuning dan bau itu disodokkan ke mulut Dian. Sementara rekannya yang lain memeggangi kepalanya. Dian terbelalak dan meronta ronta. Lelaki itu menyetubuhi mulutnya. Dan Dian dapat merasakan cairan asam, pait dan busuk itu memenuhi mulutnya. Dian meringis menahan muntah. Tapi mereka tak peduli. Dian tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Keenam pemuda itu segera keluar. Diluar suasana mulai ramai.

“Dian, kalau tidak galak diglir sekampung, layani kami berenam!! Setiap kami ingin!” Ancam mereka. Dan Dian hanya sanggup menangis. Sejak kejadian malam itu Dian tak menyadari bahwa foto-fotonya sengaja disebar semua pemuda berandal di kampungnya. Dan Dian tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Hari menjelang malam, ketika Dian pulang terburu buru melewati gang sempit itu. Tiba-tiba lengannya dicekal. Tono, salah seorang yang memegang fotonya menarik Dian ke balik pagar seng kumuh.

“Jangan Kak. Dak galak aku.” Dian menangis ketika melihat Tono sudah memelorotkan celananya.
“Terserah, kalau dak galak kusebar ke foto kau, biar lanang sekampung tahu kau biso dipake”
Dian dipaksa berjongkok.
“Ayo, isep.”

Dian dipaksa mengoral Tono. Tempat itu adalah bekas pembuangan sampah yang sudah dipagari seng. Dian dengan jengah memasukkan penis Tono ke mulutnya, kemudian mulai menyedot dengan cepat, berharap Tono segera ejakulasi. Tono mencengkeram kepala Dian yang bertopi itu kemudian menyetubuhi mulutnya. Diluar rumah Dian memang mengenakan topi. Dan hal itu malah semakin membuatnya merangsang.

“Pelorotkan jins kau Dian..”

Tono menarik Dian berdiri. Dian memang mengenakan kaos ketat dan jins ketat, walaupun berkerudung. Dian menangis, tapi ia tahu percuma membantah. Perlahan ia membuka kancing jinsnya kemudian menurunkan retsletingnya. Tono menelan ludah ketika jins itu merosot ke mata kaki. Dian mengenakan celana dalam mini berenda.

“Ayo, nunduk! Cepat.”

Dian dipaksa berpegangan pada sebuah bekas meja. Kemudian celana dalamnnya dipelorotkan menyusul jinsnya. Tono telah ngaceng berat. Tanpa ba bi Bu lagi ia menyodokkan penisnya ke vagina Dian dari belakang.

“Ukhhnnghh. Nghh!” Dian merasa ngilu di selangkangannya. Tono merasakan vagina Dian yang kering dan kesat menjepit penisnya, menimbulkan kenikmatan.

“Jeritlah kalau berani Dian. Uh! Uh! Uh!”

Tono mulai menyetubuhi Dian. Menyodok nyodok Dian hingga tubuhnya tersentak sentak. Dian mencengkeram pinggiran meja itu keras, menggigit bibirnya menahan jeritan kesakitan. Di samping seng terdengar beberapa orang lewat. Dian mati-matian menahan jgn sampai bersuara. Tono yang melihat itu semakin bernafsu memperkosa Dian. Kaos Dian digulungnya hingga leher sehingga ia bebas meremas remas payudara Dia n yang bundar menggantung. Bahkan Tono mencabut penisnya dan memindahkannya ke lubang dubur Dian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *