Tragedi Malam Pengantin

“Mpphh..!! Huphf…haphf!”, semakin bertubi-tubi telingaku mendengar luapan erangan dari mulut mungilnya yang tersumpal itu menambah sensasi indah adegan dari ketidakberdayaan seorang gadis yang tengah dipaksa menjalani kodratnya sebagai wanita yang harus melayani lelaki.

Sampai suatu saat terlihat tubuh telanjang gadis itu terhenti kaku seketika, jari-jari kedua belah kakinya yang indah mengatup begitu eratnya dan seketika jatuh terjuntai di atas kasur pelaminan itu dengan menopang pada lekukan jari kakinya yang masih menekuk kedalam mengacak-ngacak sprei putih dibawahnya dengan tumit terangkat, sedangkan belahan pinggulnya mencuat tinggi keatas dengan bongkahan pantatnya menjungkit diwajah lelaki itu, jeritan tertahannya memecah segenap isi ruangan kamar percintaan paksa dari kedua insan berlainan jenis, dan itulah agaknya orgasme pertama dari gadis yang masih perawan ini yang serta merta disambut gembira oleh lelaki bajingan kepala perampok itu.

Aku merasa bahwa kini selangkangan gadis itu telah luber oleh cairan lendir yang tadi telah kulihat menempel pada celana dalamnya yang masih tergantung di betisnya, hal ini dibuktikan dengan jilatan-jilatan lidah lelaki itu yang kini sangat gencar kembali menyapu pangkal pahanya yang terbuka pasrah begitu indah mempesona pada penglihatanku. Dari balik tembok aku mengamati setiap juluran lidah lelaki itu kini selalu membawa tetesan lendir yang dihasilkan oleh kemaluan sang dara cantik tersebut.

“Bagaimana manis ?? Enak bukan ?? ha.. ha.. ha.. kini kau telah merasakan betapa nikmatnya surga dunia pada malam ini bersamaku, kau sangat cantik sekali manisku.. aku ingin mencicipi lezatnya kehangatan tubuhmu malam ini sepenuhnya sayang.. hmm.. hmm.. enak sekali lendir kegadisanmu ini..”, seloroh lelaki perkasa itu di sela-sela jilatan pada vaginanya. Tak satupun rasanya lelaki itu menyisakan cairan surgawi sang dara korbannya yang terus direguknya sampai licin tandas sama sekali. Lendir sari keperawanan gadis itu sampai ludes ditelan semuanya oleh bajingan yang memaksanya malam itu.

Tubuh telanjang gadis itu yang masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya tadi langsung diangkat oleh lelaki perkasa tersebut kemudian di balikkan posisi kepalanya menghadap kepadanya yang telah berdiri dengan gagahnya. Kini tubuh telanjang dan kedua kaki gadis itu berubah posisinya yang selonjoran menghadapku, akhirnya inilah yang aku tunggu! Betapa kini aku dapat menikmati paha putihnya yang sedari tadi hanya dapat kulihat lebih jelas melalui pantulan cermin disana.

Kulit kakinya begitu indah dan ramping mulus dengan kuku-kuku kakinya terhias oleh kutek bening kebiruan yang transparan berkilat indah dibalik stocking hitamnya yang seperti jala-jala kecil itu. Namun kedua belah kaki itu masih berselonjor rapat serta belum terbuka, sehingga aku kesulitan melihat isi kemaluannya yang masih berupa garis vertikal yang rapat di antara bulu-bulu kelamin yang mengelilinginya.

Terlihat batang kontol lelaki itu baru agak menegak keatas yang baru separuh ereksi dengan rimbunan bulu jembut yang begitu lebat dan perkasa dihadapan wajah gadis cantik itu yang dipaksa tengadah. Sambil membuka dagu lancip gadis belia nan cantik itu sehingga bibir mungilnya terbuka, lelaki itu tampaknya terlebih dahulu akan memerawani mulutnya yang telah ia lepas sumbatan kainnya seraya mengacung-acungkan parangnya ke atas kepala korbannya, sehingga tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang ketakutan setengah mati.

“Ayo! Keluarkan lidahmu sekarang manisku.. kini jilatilah kedua biji kejantananku ini sayang.. dan jangan macam-macam!!”, hardik lelaki jahanam itu yang telah menyorongkan selangkangannya ke mulut mungil sang dara korbannya.

Dengan takut-takut gadis itu menuruti perintah lelaki bajingan itu mengeluarkan lidah kecilnya yang memerah, lalu dengan perlahan mendekati pangkal kedua buah pelir yang tergantung itu. Lelaki itu dalam penglihatanku juga merasakan sensasi yang nikmat manakala lidah mungil gadis belia itu menyentuh permukaan kulit biji pelirnya yang dihiasi dengan bulu-bulu jembut kasarnya. Begitu terasa hangat dan lembut baginya untuk lidah seorang perawan pada kejantanannya itu.

“Ketahuilah manisku.. bahwa aku berbahagia sekali mendapatimu malam ini, karena rupanya suamimu sama sekali belum pernah menjamah tubuhmu ini.. lama sekali aku menantikan saat-saat seperti ini.. saat dimana aku dapat mencicipi kehangatan serta kenikmatan dari tubuh seorang gadis belia sepertimu.. dan aku senang sekali bahwa kau telah menjaga dengan baik kesucianmu.. maka izinkan aku untuk mencicipi lezatnya rasa keperawanan itu dari tubuhmu ini.. ouh!”, demikianlah curahan hati lelaki yang tengah dilanda nafsu terpendamnya untuk merasakan kehangatan dari kemaluan gadis belia yang masih suci.

Masih belum terdengar suara balasan terucap dari bibir mungil milik gadis itu untuk menanggapi kalimat yang dilontarkan bajingan perkasa tersebut, namun tanpa menunggu jawaban itu keluar, lelaki itu kini telah membuka paksa dagu sang dara korbannya, sampai bibir indah yang meranum itu merekah dan perlahan ia menjejali mulut mungil si gadis dengan kepala kejantanannya yang kini telah ereksi penuh dan mengacung tegak. Begitu besar dan panjang kontol lelaki itu yang dua kali ukuran kepunyaanku ini. Urat-urat tonjolannya begitu nyata bersemburat dari balik permukaan kulit batang pelir lelaki itu, benar-benar lelaki itu seorang lelaki pejantan yang akan membuat gadis ini akan bertekuk lutut dan pahanya sebentar lagi.

Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari belahan bibir seorang dara yang tak berdaya ini mengiringi setiap jejalan urat pelir lelaki itu yang semakin dalam memasukki rongga mulutnya serta menembusi pula kerongkongannya, hingga pada akhirnya hidung gadis itu yang mancung telak beradu dengan kedua biji pelir berbulu lelaki itu yang masih tergantung dengan gagahnya. Kini mulut mungil dara itu telah diperawani olehnya dan batang kejantanannya yang besar dan panjang itu telah basah didalamnya oleh ludah sang gadis suci itu. Pastilah gadis itu telah mencium pula aroma dari batang pelir gagah sang bajingan pemetik bunga ini, walaupun dengan keadaan terpaksa untuk menerimanya secara pasrah demi keselamatan sang suami yang tertawan oleh para perampok jahanam tersebut.

Setelah itu lelaki itu mulai membuat batang pelirnya keluar masuk dalam mulut mungil sang mempelai wanita yang telah terjejal penuh sesak oleh daging kejantanannya ini. Kulirik arlojiku dipergelangan tanganku, sepuluh lewat seperempat dan baru setengah jam waktu berlalu. Tak tahan menyaksikan adegan tersebut aku berlalu untuk pipis dulu sejenak di kamar kecil lantai bawah, sengaja tak kusiram agar tak terdengar suara gemericik cebokkan air, bahkan aku sampai pipis jongkok agar deru air seniku teredam. Dan ketika aku kembali melaksanakan aksiku mengintip dari celah lubang dinding itu, aku kini telah dapat melihat bagian intim dari gadis itu yang selama ini telah tersembunyi dariku.

Kini kedua tungkai kaki kiri dan kanan gadis itu dipegangi oleh lelaki itu sebagai acuan untuk mendorong tubuh telanjangnya sehingga mulutnya dapat terus dijadikan sebagai ajang nafsu untuk melayani pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi kerongkongannya. Gaun bagian bawah dari busana pengantinnya telah tersibak lagi sampai mengelilingi pinggangnya yang begitu ramping memukau. Otomatis kedua belah kaki itu kini mengangkang lebar pada penglihatanku yang pada akhirnya membuatku dapat melihat lubang sang perawan beserta lubang anusnya begitu terpampang jelas di antara selangkangannya yang begitu putih mulus indah nan bersih terawat.

Kedua lubang itu telah basah oleh ludah lelaki itu dan kini terlihat berkilat-kilat diterpa cahaya lampu kamar peraduan tersebut. Manakala lelaki itu tengah menarik kedua tungkai gadis itu, maka otot panggul gadis itu ikut tertarik sehingga menarik pula belahan bibir kemaluannya dan terkuak sedikit dan secara bersamaan pula aku dapat melihat isi didalam belahan keintiman gadis belia cantik ini yang begitu tiada cacat dan celanya.

Gerakan-gerakan yang membuat belahan bibir kemaluan berbulu basah gadis itu membuka dan menutup semakin memperjelaskanku akan apa yang terlihat pada isi dalamnya yang masih sempit memerah serta sudah agak lembab membasah setelah orgasmenya tadi. Dibalik belahan bibir luar dari memek gadis itu yang terbuka mengangkang, terdapat pula bibir dalamnya yang masih mengatup rapat dan hanya menyisakan lubang kecil sebesar ujung jari kelingking.

Aku melihat selaput keperawanan gadis itu terpampang menjaga jalan masuk di sekitar lubang kecil tersebut. Kegadisan yang selama ini betapa telah dijaga dan begitu dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali agar kelak dapat dipersembahkan secara utuh kepada sang suami tercinta, namun kini telah terhidang secara paksa untuk melayani dan memuaskan kepala rampok itu sebagai tebusan keselamatan suaminya yang terkasih.

Tangan rampok yang tadi mencengkeram tungkai kaki kanannya semakin berani saja beraksi, kini tangan itu telah berpindah pada permukaan celah kewanitaannya yang masih berbentuk garis membujur yang rapat dihiasi oleh jembutnya nan merangsang. Perlahan jari tengahnya yang besar dan berkulit kasar milik lelaki itu menyusup pada belahan selangkangan korbannya yang sangat intim serta menemukan tonjolan daging klentitnya yang bermuara pada bulu-bulu kelamin gadis itu. Tak ayal lagi, klitoris gadis itu yang membasah menjadi sasaran empuk bagi jari-jari itu untuk menari-nari diatasnya. Gadis itu mengerang kegelian diperlakukan seperti itu, dan memang bagi setiap wanita, bagian itu adalah hal yang paling sensitif untuk membangkitkan hasrat dan gairah terlarangnya.

Aku turut menikmati bagaimana dalam setiap gesekan turun naik yang dilakukan oleh jari pria itu pada itilnya memberi pengalaman dan sensasi baru pada korbannya. Dan belahan vagina si perempuan semakin terbuka secara alami dengan adanya kuakkan yang dilakukan oleh jari yang tenggelam didalamnya. Daging klentit korbannya semakin lama semakin bengkak dan memerah berlumur cairan memeknya yang merembes dari lubang keintimannya itu.

Akankah nantinya dara belia ini akan mampu melayani kehendak dari lelaki perkasa tersebut? Mampukah vagina gadis muda duapuluhan tahun ini menerima kehadiran batang pelir sang lelaki gagah ini ?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi otakku disela-sela permainan birahi penuh paksa terhadap seorang gadis muda belia nan cantik sempurna yang tak lama lagi akan dipaksa melewati malam pertamanya bukan dengan suaminya nan tercinta, tetapi dengan sang kepala perampok durjana tersebut.

Mungkin sangat enak sekali apabila batang kontolku berada dalam mulut gadis itu, tetapi semuanya itu hanyalah fantasiku belaka saja, melalui pikiranku aku hanya dapat membayangkan kehangatan dari rongga mulut wanita muda itu yang basah tengah mengulum pelirku dan menjilati kedua bijiku pula. Akan enak sekali apabila ditambah dengan lidah mungil dara itu yang turut menari-nari di dalamnya mempermainkan batang kontolku di dalam. Ahh.. membayangkan hal tersebut membuat celanaku kini semakin basah oleh cairan pelumas yang berasal dari ujung lubang kontolku ini. Tetapi aku masih sayang untuk mengeluarkan air maniku, karena aku masih yakin sekali bahwa lelaki durjana itu tak akan melepaskan begitu saja korbannya sebelum berhasil menggarap tubuh dara belia ini. Sedangkan jari tengahnya itu masih saja tak henti-hentinya memainkan daging kelentitnya yang telah menegang kencang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *