Tragedi Malam Pengantin

Hanya lima menit saja kulihat lelaki itu mempermainkan batang zakarnya memperkosa mulut gadis belia korbannya, sebab akupun menyaksikan mulut dara itu begitu menganga lebar membentuk bulatan dengan penis yang menjejali keluar masuk melewati celah-celah bibir mungilnya nan indah menawan dan merangsang kelelakianku pula. Nafas keduanya memburu seisi ruangan dan aku mulai merasa dari celah lubang itu terasa hawa pengapnya mulai terasa sekali diantara tersengalnya nafas sang dara jelita yang kerongkongannya tersumbat oleh kejantanan si garong. Erangan dan lenguhan silih berganti keluar dari mulut sang perawan belia ini ketika melayani lelaki tak dikenalnya itu sebelum akhirnya tibalah pada saat yang telah lama kuidam-idamkan.

Sang lelaki perkasa mencabut batang zakarnya yang telah berlumur air ludah dari mulut mungil dara cantik tersebut serta melepas pula jarinya dari klentit itu. Kelihatan sekali sisa-sisa ludah gadis itu telah membuat tonggak dagingnya semakin berkilat-kilat membasah dari ujung sampai kepangkalnya, juga lendir kemaluan dara itu telah menempel pada jari tangannya yang menggosok itilnya. Batang kontol perkasanya telah tegak mengacung menjawab tantangan birahi sang perawan.

Lelaki kepala rampok itu segera berpindah posisinya setelah tadi berdiri menghadapku, kini ia seakan berjalan dan menghadap kearahku. Rasanya tak akan ia memergokki aksiku, karena aku tahu bahwa ia sudah cukup terangsang oleh ritual pemanasan hubungan intim yang diberikan secara paksa oleh si gadis. Dengan punggung kekarnya yang telah membelakangiku, ia menaikki ranjang peraduan yang tadinya sengaja disiapkan untuk malam pertama dari ritual pasangan suami istri baru itu.

“Ayo manis.. bukalah pahamu sekarang..”, pinta lelaki itu.
“Ahh.. jangan!! Belum puaskah engkau setelah tadi kau mempermainkan tubuhku?! Mau apalagi kau sekarang bajingan?!”, air mata gadis itu mulai meleleh lagi membanjiri kedua pipi dari wajahnya yang begitu menjanjikan birahi setiap pria.

Wahh..gadis itu sudah berani melawan, pikirku.

“Aku bilang buka, yah buka!! Kau berani membantah, hah?!”, bentak garong itu.
“Aku tidak mau!!”, teriak gadis itu sambil beringsut ke pinggir ranjang serta menekuk kedua kaki indahnya yang mempesonaku. Tubuhnya semakin meringkuk di sudut tepian tonggak kayu penyangga kelambu ranjang pengantinnya.
“Coy!! Matiin!!”, teriak lelaki itu kencang sekali memecah kesunyian malam hingga didengar oleh anak buahnya yang berada dilantai bawah.
“Ohh! Tidakk!! jangan lakukan!!”, tangis gadis ini membahana di antara rontaan kedua belah tangannya yang asih terikat tak berdaya di punggungnya. Namun tetap saja sia-sia, karena ikatan tambang itu begitu kuat mengikatnya.
“Rasain!!..”, pekik kepala garong itu, namun kali ini ia menarik dengan kasar celana dalam yang masih terkait di betis kiri korbannya yang menolaknya hingga robek, kemudian menyumpal mulut mungil dara itu dengan kain celana dalam gadis itu sendiri.
“Ouhfh… aaufh… mmpphhf!”, percuma saja ia berteriak, karena mulutnya sudah tersumbat lagi kini.

Karena memang lelaki itu sudah niat sekali untuk memperkosanya, maka tubuh dara itu kini ditariknya, tangan kekarnya kembali menangkap kaki kiri gadis itu kemudian melucuti stocking hitamnya, lalu mengikat kakinya itu dengan utas tambang tepat menghadap kearahku. Tampak dalam penglihatanku telapak kaki mulus milik dara itu yang telah telanjang meronta-ronta saat diikat, apalah daya seorang wanita lemah seperti dirinya melawan tenaga dari lelaki tegap ini.

Sebentar saja kedua belah kakinya telah tergantung di tiang kelambu kiri dan kanan ranjang itu, bergerak-gerak dalam rontaannya yang tersia-sia. Ditariknya untaian kalung emas yang melingkar dileher jenjang gadis itu, juga gelang emas dikakinya dibetot sampai putus, kemudian dilempar oleh garong itu ke meja rias kamar itu. Mahkota pengantinnya juga dilucuti paksa serta sisa gaun pengantin yang melingkar dipinggangnya di cabik-cabik dengan sangat kasarnya oleh bajingan terkutuk itu.

Kini kedua tubuh kedua insan berlainan jenis kelamin itu telah terpampang telanjang dimukaku, betapa sempurna bentuk tubuh keduanya itu. Tubuh pria berkulit gelap ini sangat kontras warnanya dengan tubuh putihnya gadis itu yang mulus, betapa yang satu begitu tampak kasar dan perkasanya, sedangkan yang satunya lagi begitu halus kulitnya, benar-benar serasi dipandang mata. Aku terkagum-kagum dengan bentuk tubuh keduanya diantara merambahnya sang malam yang tengah menuju ke pukul setengah sebelas malam. Kusaksikan lelaki itu telah menempatkan dirinya diantara kedua belah kaki dara itu yang sudah terkangkang dengan kedua lubang ditubuhnya terlihat jelas olehku.

Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, lelaki itu menyibakkan bulu-bulu jembut sang gadis belia nan begitu menawan, dikuakkannya belahan bibir vertikal yang berbentuk aluran indah lubang surga itu, membuatku dapat pula menyaksikannya lagi isi dalamnya yang masih lembab dan memerah lengkap beserta kelentit basahnya yang telah membengkak. Menggairahkan sekali isi belahan daging kemaluannya yang direkahkan, sayang sekali aku hanya dapat melihatnya tanpa dapat menyentuh atau merabanya, apalagi menikmatinya. Isi dalam liang sanggama kepunyaan gadis itu masih terdapat sisa-sisa rembesan lendir surgawinya, bibir dalamnya agak berkedut-kedut saat lelaki itu mengintip memeknya, saking takutnya gadis itu tanpa sengaja menggerak-gerakkan otot vaginanya untuk menolak apa yang akan dilakukan sebentar lagi dari lelaki bajingan itu kepadanya.

“Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha”, tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.

Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.

Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?

Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.

Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.

“Oughh…! Aaghh!”, begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.

Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.

Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.

Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.

Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya. Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *