Tragedi Malam Pengantin

Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.

Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.

“Arghh!”, jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.

Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.

“Slep.. slep.. blessek..!”, begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.

Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.

Bajingan itu terus menikmati jepitan dinding kemaluan gadis itu beserta selaput keperawanannya dan ia terus bertahan disitu tanpa melakukan satu gerakan apapun terlebih dahulu. Pertama, ia masih belum rela melepaskan kenikmatannya yang tak terlukiskan oleh kata-kata tatkala dinding keperawanan gadis korbannya itu sangat memberi kelembutan serta kehangatan yang tiada terkira untuknya, sebab ia tahu apabila begitu batang pelir yang telah terbenam seluruhnya kini ke dalam dasar kemaluan dara itu ia tarik ataupun dicabut, maka kesuciannya akan terenggut sudah.

Rasanya tak ada satu kenikmatan apapun di belahan bumi ini yang mampu menandingi ataupun menyamai dari nikmatnya kala bersetubuh dengan seorang wanita yang masih perawan. Dan yang kedua, ia memberi nafas kepada gadis belia yang ditidurinya itu agar memeknya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran kontolnya yang begitu sangat besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksa harus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belah pahanya yang terbuka.

Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang dirasakan gadis muda belia itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadani oleh seorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang teredam sumpalan kain celdamnya begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelaki perkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat gadis itu dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.

Sementara rambut hitam panjang sebahu milik gadis itu seakan terlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas kasur putih ranjang pengantinnya ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering dan kini telah tergantikan.

Didekapnya tubuh telanjang dari gadis belia yang kini berada dibawahnya dan dada bidang perkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang kanan yang begitu halusnya dari si wanita sehingga membuat kepala wanita tak lagi dapat bergolek kesana kemari.

Dijilatinya leher jenjang sang perawan itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan air liur kemenangannya. Puting susu sebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yang masih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.

Celana dalam yang tersumpal di belahan mulut mungilnya ditarik lepas dan langsung tergantikan oleh ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya sebelum gadis itu sempat mengeluarkan erangan dan rintihannya kembali. Kedua bibir dari insan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha mengait-ngait lidah wanita yang masih belia tersebut nan telah dicicipi kehangatan dan kelembutannya saat tadi mengulum batang zakarnya.

Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini sang dara hanya bisa pasrah merelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis, kadang bisa dibuat tegang kaku saat waktu lalu digunakan menyodok-nyodok celah lubang duburnya, kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya kini. Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kini kontol yang cukup lama terbenam di dasar memek itu kini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.

“Psshh…! sleph.. wes hewess..!”, suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan proses terenggutnya kesucian gadis itu dimulailah.

Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnya dari dalam belahan intim kemaluan gadis itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang memeknya dimana kulit-kulit kontol bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.

“Mmpphff! Ugh! Ughff!!”, itulah suara rintihan dari seorang dara yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkala melepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.

Betapa hancur hati sang dara itu kini, tangisan pilunya mewarnai tragedi di malam pengantinnya ini mengiringi kepergian sang suami tercinta yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, sedangkan dirinya kini telah jatuh dalam pelukan lelaki lain yang sama sekali tak dikenal apalagi dicintainya, namun tubuhnya telah menjadi satu dengan jahanam itu dan semua yang ada diketelanjangannya berbaur sudah. Tak ubahnya tubuh gadis itu adalah tubuh lelaki itu, demikian pula sebaliknya, tubuh lelaki itu adalah merupakan bagian dari tubuhnya kini. Ya! Mereka telah menjadi satu tubuh sekarang dalam adegan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang lelaki dan seorang perempuan nan telah dewasa dalam ikatan benang merah perkawinan.

Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsu hewaniah. Tubuh telanjang gadis itu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggul lelaki itu diantara kedua kaki indah nan mengangkang menggetarkan hatiku itu. Aku berkhayal andaikata saja gadis ini menjadi istriku, maka aku akan meminta jatah ranjang padanya setiap malam, dan aku akan meningkatkan staminaku untuk membahagiakannya. Mungkin madu dan telor akan menjadi menuku sehari-hari dan aku akan mengenjot terus tubuh telanjang mudanya yang aduhai begitu sempurna keindahannya bagaikan seorang dewi yang turun dari langit saja layaknya sampai sang pagi datang menjelang.

Ikatan tambang yang mengikat erat kedua kakinya ini kini dilepaskan oleh lelaki durjana itu, karena ia telah yakin bahwa kini korbannya telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pula oleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentang kencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang terjepit ketiak itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubang memeknya dan tubuhnya yang sudah bermandikan oleh peluh persebadanannya itu terhempas-hempas dibuatnya.

Oh seperti inikah yang dinamakan kenikmatan dari surga dunia? Saat kontol lelaki itu keluar masuk di lubang kenikmatan si wanita? Tapi yang pasti aku sangat yakin sekali kenikmatannya tak sebanding dengan diriku yang hanya bisa beronani saja, padahal aku yang hanya menonton saja adegan nikmat itu berlangsung sudah sedemikian nikmatnya, apalagi bila aku yang melakukannya terhadap gadis itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *